7 Bulan 7

7 Juli.

Lima puluh satu tahun yang lalu…
seorang bayi perempuan lahir.

“Angkanya cantik.”
Begitu kata ibunya.

Hari ini…
saya tersenyum mengingatnya.
Mungkin benar.

Tapi setelah berjalan sejauh ini…
saya baru tahu…
yang cantik…
ternyata bukan hanya angkanya.

“Mas…”
Suara itu datang dari ruang tengah.
“Coba lihat ini.”

Saya menghampiri.
Ternyata bukan video lucu.
Bukan berita.
Bukan pula resep masakan.

Kafe ini lagi diskon.
Saya tertawa.
Ulang tahun kok…
yang dicari duluan malah diskonan.

Ia ikut tertawa.

Lha…
kalau makanannya sama enaknya…
kenapa harus pilih yang lebih mahal ?

Saya mengangguk.

Tidak membantah.
Percuma.
Kalau urusan begitu…
saya memang sering kalah.

Selepas maghrib…
kami sudah duduk di kafe itu.

Makanan datang.
Minuman datang.
Salah satunya…
asam jawa.

Kok, asam jawa ?
Saya bertanya.

Pengin mudik ke jawa ?
Ia menggeleng.

Karena lagi diskon.
Kami tertawa.

Entah kenapa…
hal-hal kecil seperti itu…
selalu berhasil membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Padahal…
kalau diingat-ingat…
perjalanan kami…
tidak selalu ringan.

Saya memandang gelas itu.
Asam ya…
Ia mengangguk.

Lalu gulanya ?
Ia mengaduk pelan.
Gulanya ada…

Masih di bawah.
Saya ikut tersenyum.
Entah kenapa…

sendok kecil itu…
seperti sedang mengaduk sesuatu…
di dalam kepala saya.

Dulu…
saya pernah berkata kepada istri.

Kalau melayani suami…
jangan karena suaminya baik.

Jangan juga karena berharap dipuji.
Kalau sandarannya suami…
suatu hari bisa kecewa.”
Tapi kalau sandarannya…
karena memang itu perintah Allah…
Insya Allah…
langkah itu akan lebih kuat.

Waktu itu…
saya mengira…
sedang memberi nasihat.

Ternyata…
saya sedang menanam pelajaran…
untuk diri saya sendiri.

Ada masa…
ketika saya tidak baik-baik saja.

Ada pekerjaan…
yang tidak berjalan sebagaimana rencana.

Ada bisnis…
yang lebih banyak menguras tenaga…
daripada menghasilkan.

Ada orang-orang…
yang datang membawa harapan.

Lalu pergi…
meninggalkan persoalan.

Dan ada hari-hari…
ketika saya pulang…
tidak membawa jawaban.

Belum lagi…
waktu saya…
lebih banyak habis…

bersama anak-anak.
Ya… anak-anak orang lain.

Terutama…

anak-anak gadis.

Protes ?
Ya….
proteslah…
Hahaha…

Waktu itu…
saya memang sedang rindu…
punya lebih banyak waktu…
bersama anak-anak.

Lho…
kenapa yang gadis – gadis ?

Nah…
pertanyaan itu juga pernah mampir.
Saya sempat punya banyak jawaban.

Katanya…
anak gadis memang lebih mudah dekat…
dengan sosok ayah.

Entahlah.
Mungkin itu penelitian.

Mungkin juga…
cara saya membela diri.

Yang jelas…
saya rasa…
istri mana pun…
kalau dibalik posisinya…
mungkin….. akan begitu juga.

Kadang kami berdebat.
Kadang saling diam.

Kadang…
yang terdengar…
hanya suara pintu yang ditutup pelan.

Tetapi…
esok paginya…
teh hangat tetap ada.

Sarapan tetap disiapkan.
Rumah…
tetap terasa rumah.

Baru belakangan…
saya seperti melihat…

Allah sedang memperlihatkan sesuatu.
Nasihat yang dulu pernah saya ucapkan…

ternyata, lebih dahulu diamalkan…
daripada saya benar-benar memahaminya.

Saya kembali melihat gelas asam jawa itu.
Separuh sudah habis.

Asamnya masih terasa ?
Saya bertanya.

Ia menyeruput sedikit lagi.
Lalu tersenyum.

Kalau diaduk…
lebih enak.
Saya tidak menjawab.

Karena tiba-tiba…
saya merasa…
selama ini…
bukan hidup yang terlalu banyak asam.

Saya saja…
yang terlalu jarang mengaduk…
bagian manisnya.

Sebelum pulang…
entah kenapa saya membuka daftar kontak.

Jari ini berhenti…
pada satu nama.

Sudah bertahun-tahun.
Belum pernah berubah.

My Honey.

Saya menatapnya cukup lama.
Lalu ponsel saya kunci kembali.

Hari ini…

7 Juli.

Selamat ulang tahun, istriku.

Saya tidak tahu…
berapa lagi 7 Juli…
yang masih Allah izinkan..
untuk kami lewati bersama.

Tetapi satu hal yang saya tahu…
kalau hari ini…

masih ada rumah untuk pulang…
masih ada seseorang…
yang memilih tetap berjalan…
dan masih ada kesempatan…
untuk mengucapkan syukur…
maka itu semua…
bukan karena saya pantas.

Melainkan…
karena Allah masih berkenan…
menitipkan nikmat yang sering kali…
baru saya sadari…
setelah terlalu lama saya anggap biasa.

Barakallahu fii ‘umrik, istriku.

Semoga Allah menjaga imanmu.
Meneguhkan langkahmu.
Menerima setiap lelahmu sebagai amal.

Dan semoga…
ketika kelak perjalanan ini benar-benar selesai…
Allah berkenan mempertemukan kita kembali…
bukan karena pernah saling membahagiakan.
Tetapi karena sama-sama berharap…
menjadi hamba yang diridhai-Nya.

↗ Bagikan Tulisan Ini