Jangan Buru2 …..

Ia diam.
Kita memberi nama.
Setuju.

Ia mengalah.
Kita memberi nama.
Kalah.

Ia berjalan pelan.
Kita memberi nama.
Tak lagi kuat.

Ia tertawa.
Kita memberi nama.
Bahagia.

Cepat sekali…

Seolah-olah hidup orang lain hanya sepanjang yang sempat kita lihat.

Satu adegan…
lalu kita merasa sudah selesai menonton seluruh film.

Satu kalimat…
lalu kita merasa sudah mengenal seluruh isi hati.

Padahal…
yang paling sering bekerja bukan mata.
Melainkan pikiran.

Dan pikiran…
tidak tahan melihat ruang kosong.

Sedikit data.
Sisanya…
ia isi sendiri.

Dengan pengalaman.
Dengan prasangka.
Dengan luka.
Dengan ketakutan.
Dengan keinginan.
Lalu lahirlah sesuatu yang kita sebut…
kesimpulan.

Padahal…
bisa jadi ia sedang menyusun langkah.

Bisa jadi ia sedang memilih diam agar api tidak membesar.

Bisa jadi ia sedang belajar tawadhu.
Bisa jadi ia sedang menjalani laku nyerap bumi.

Bisa jadi…
tidak satu pun dugaan kita benar.

Yang paling berbahaya…
bukan karena kita pernah salah membaca seseorang.
Itu manusiawi.

Yang lebih berbahaya…
adalah ketika kita mulai percaya…
bahwa bacaan kita pasti benar.

Di situlah saya merasa mulai ada yang ganjil.
Setiap kali kita menempelkan label kepada seseorang…
mengapa rasanya selalu ada yang tertinggal ?

Sesaat kemudian, saya menyadari…
bukan labelnya.

Melainkan sidik jari kita.

Sebab setiap penilaian harus lebih dulu melewati cara kita memandang.

Dan cara kita memandang…
sering kali lebih banyak bercerita tentang diri kita…

↗ Bagikan Tulisan Ini