Gelombang yang Pulang

Kopinya datang lebih dulu daripada ceritanya.

Selama hampir dua puluh menit, kami hanya membicarakan hal-hal yang biasa dibicarakan dua laki-laki.

Pekerjaan.

Proyek yang belum selesai.

Klien yang berubah-ubah.

Juga kafe baru yang, menurutnya, lebih mahal daripada rasa kopinya.

Kami tertawa.

Lalu hening.

Ia masih memegang sendok kecil itu.

Mengaduk kopi yang gulanya sebenarnya sudah lama larut.

Baru kemudian ia berkata,

“Aku boleh minta pendapat ?”

Saya mengangguk.

Masalah keluarga.”

Nada suaranya berubah.

Saya mengenalnya cukup lama.

Cukup lama untuk tahu bahwa ia bukan tipe laki-laki yang mudah membuka isi kepalanya.

Apalagi isi hatinya.

Aku cuma ingin jadi suami yang amanah.”

Kalimat itu keluar pelan.

Hanya ingin jadi qawwam yang baik.”

Ia berhenti.

Seolah sedang memilih kata yang tidak akan melukai siapa pun.

Bukan… aku tidak minta disambut pelukan.”

Ia tersenyum kecil.

Teh hangat juga bukan.”

Pijatan ? Apalagi.”

Ia kembali diam.

Yang berat…

Hampir setiap kali aku pulang…”

“…yang lebih dulu menyambutku adalah masalah.”

Saya tidak menjawab.

Karena saya juga mengenal istrinya.

Mereka bukan pasangan yang kekurangan cinta.

Mereka hanya dibesarkan oleh dua bahasa yang berbeda.

Yang satu mengurai hidup dengan logika.

Yang satu mengurai hidup dengan rasa.

Ironisnya…

Laki-laki itu justru yang lebih mudah terluka.

Psikolog keluarga sering menjelaskan bahwa manusia tidak selalu membawa pulang tubuhnya.

Sering kali yang dibawa pulang justru sisa-sisa pertarungan yang tidak sempat selesai.

Ada yang memprosesnya dengan diam.

Ada yang memprosesnya dengan bicara.

Ketika dua cara itu bertemu tanpa saling mengenal, masing-masing merasa tidak didengar.

Di pesantren, para masyayikh tidak memulai pembahasan rumah tangga dengan pertanyaan, “Siapa yang lebih benar ?”

Mereka memulai dengan adab.

Imam al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, mengingatkan bahwa akhlak di dalam rumah sering kali menuntut seseorang mendahulukan rahmah daripada ego.

Rasulullah pun tidak hanya mengajarkan hak.

Beliau juga memberi teladan.

Membantu pekerjaan keluarga.

Bergaul dengan kelembutan.

Meringankan beban.

Barangkali di situlah letak qawwam yang sering luput dipahami.

Ia bukan sekadar orang yang memimpin.

Tetapi orang yang tetap memilih berbuat baik, bahkan ketika dirinya sendiri sedang letih.

Namun hidup tidak selalu datang sesuai halaman kitab.

Ada hari ketika suami pulang membawa badai dari luar.

Ada hari ketika istri seharian memadamkan badai di dalam rumah.

Sore itu…

Dua badai bertemu di satu pintu.

Masing-masing berharap menemukan pantai.

Masing-masing justru datang sebagai ombak.

Kami menghabiskan kopi tanpa banyak kalimat lagi.

Langit mulai gelap.

Lampu-lampu kafe menyala satu per satu.

Sebelum pulang, ia hanya berkata,

“Aku tidak sedang mencari siapa yang salah.”

“Aku hanya sedang mencari cara… agar rumah kembali menjadi tempat yang ingin kami tuju.”

Saya tidak menjawab.

Sebab mungkin…

rumah memang tidak selalu kehilangan cinta.

Kadang…

ia hanya kehilangan seseorang yang lebih dulu bersedia meredakan gelombang.

↗ Bagikan Tulisan Ini