Setiap Umur ada Musimnya

“Nyalain…”
Saya sodorkan korek.

Ia menyulut rokoknya.
Api kecil itu menyala sebentar.
Lalu padam.
Tidak ada yang memperhatikan.
Begitulah hidup.
Hal-hal yang paling penting sering datang tanpa suara.

Saung bambu itu menghadap sawah.
Tidak ada musik.
Hanya suara angin yang sesekali menggoyang daun padi.

Di kejauhan terdengar motor lewat.
Lalu sunyi lagi.
Kami sudah berteman lebih dari tiga puluh tahun.

Sudah saling tahu mana cerita yang boleh diulang.
Mana yang cukup saling diingat.

“Tahu nggak…”
katanya sambil mengembuskan asap.
“Dulu kalau ngumpul begini…”
“…yang pertama dicari itu cewek.”
Saya tertawa.

“Jangan bohong.”
“Memang.”
“Kalau ada yang lewat…”
“…langsung pura-pura ngobrol.”
“Padahal…”
“…mata ke sana semua.”

Kami tertawa.
Lepas.
Tidak ada yang merasa alim.
Tidak ada yang sedang menjaga wibawa.

Dua orang lelaki lima puluh tahun…
sesekali memang masih perlu tertawa seperti anak dua puluh tahun.

“Sekarang ?”
Saya sengaja memancing.
“Masih lihat perempuan?”
Ia mengangguk.

“Masih.”
“Nah…”
“Ketahuan.”
Ia menggeleng pelan.

“Beda.”
“Lah… bedanya ?”
Ia tidak langsung menjawab.

Menyeruput kopi.
Memandang sawah.
Baru kemudian berkata,
“Kalau sekarang lihat perempuan jalan sendirian…”
“…yang kepikiran bukan macam-macam.”
“Lalu?”
“…suaminya masih ada nggak ya…”

Saya tertawa.
Iapun tertawa.
Sesaat kemudian,

Saya diam.
Ia juga diam.

Entah kenapa…
angin yang lewat terasa lebih pelan.

“Dulu…”
“…kalau lihat perempuan cantik…”
“…ingin kenalan.”

“Sekarang…”
“…lebih sering ingin mendoakan.”

Saya menunduk.
Mengaduk kopi yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk.

Kadang manusia memang begitu.
Tangannya mencari pekerjaan…
ketika hatinya sedang sibuk berpikir.

Barangkali…
umur tidak mengurangi rasa.
Ia hanya mengganti arahnya.

Dulu…
kita ingin memiliki.

Sekarang…
kita mulai belajar melepaskan.

Dulu…
ingin dikenal banyak orang.

Sekarang…
cukup dikenal baik oleh beberapa orang.

Dulu…
takut kehilangan kesempatan.

Sekarang…
lebih takut kehilangan arah.

Saya mengambil rokok.
Sudah di bibir.
Tidak jadi dinyalakan.
Ada diam yang rasanya sayang kalau diganggu.

Di pesantren dulu saya pernah mendengar seorang masyayikh berkata,

“Setiap umur memiliki adabnya.”

Waktu itu saya mengira…

adab adalah cara duduk.
Cara bicara.
Cara menghormati orang tua.

Ternyata saya salah.
Bertahun-tahun kemudian, saya membaca sebuah risalah kecil karya Imam Ibn al-Jawzi.

Judulnya Tanbīh al-Nā’im al-Ghamr ‘alā Mawāsim al-‘Umr.

Tentang…
musim-musim umur.

Saya baru mengerti.

Beliau tidak sedang menghitung usia manusia.

Beliau sedang mengingatkan…
bahwa setiap musim meminta cara hidup yang berbeda.
Musim hujan tidak berlomba menjadi kemarau.

Padi tidak malu ketika menguning.
Daun tidak merasa gagal ketika akhirnya gugur.
Semuanya tunduk pada waktunya.

Hanya manusia…
yang sering memaksa musim kemarin tinggal lebih lama.

Mungkin…
itu sebabnya sebagian orang terlihat begitu lelah.

Bukan karena hidupnya terlalu berat.
Tetapi karena ia terus mempertahankan musim yang sebenarnya sudah selesai.

Rambutnya memutih…
egonya tetap hijau.

Umurnya bertambah…
keinginannya tidak pernah dewasa.

Tubuhnya meminta istirahat…
ambisinya masih minta panggung.

Teman saya mematikan puntung rokoknya.
“Sudah ya…”
katanya.
Saya mengangguk.

Kami berdiri hampir bersamaan.
Ia mengusap lututnya.
“Lutut duluan yang bangun…”
gumamnya.

Kami tertawa lagi.
Ringan.
Tidak lama.

Sebelum berpisah ia berkata pelan,
“Ternyata…”
“…yang paling susah itu bukan menerima kalau kita sudah tua.”
“Lalu?”
“Menerima…”
“…bahwa kita sudah tidak harus menjadi tokoh utama di setiap cerita.”

Ia berjalan lebih dulu.
Langkahnya tidak secepat dulu.

Saya memperhatikannya sampai hilang di tikungan.

Entah kenapa…
saya tidak sedang melihat seorang teman pulang.

Saya sedang melihat…
satu musim…
berjalan menuju musim berikutnya.

Malam itu saya baru benar-benar mengerti.
Barangkali menjadi tua bukan ketika rambut berubah putih.

Bukan ketika kacamata bertambah tebal.
Bukan pula ketika lutut mulai berbunyi.

Menjadi tua…
adalah ketika hati berhenti bertanya,

“Apa lagi yang bisa aku ambil?”

Lalu pelan-pelan mulai bertanya,

“Apa lagi yang bisa aku tinggalkan… agar orang lain lebih ringan melanjutkan perjalanan ?”

Mungkin…
itulah adab sebuah umur.

Bukan berhenti menjadi manusia.
Tetapi tahu…
kapan harus berhenti menjadi musim yang kemarin.

↗ Bagikan Tulisan Ini