Ajengan

SHADZARAT

Majelis 1

Bagian 3 — Ajengan

Langkah itu semakin dekat.

Tak tergesa.

Tak pula dibuat-buat pelan.

Biasa saja.

Namun serambi yang sejak tadi dipenuhi suara lirih, perlahan menjadi sunyi.

Ajengan Manglayang menaiki dua anak tangga kayu.

“Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.”

“Wa’alaikumussalām warahmatullāhi wabarakātuh.”

Beliau tidak langsung duduk.

Satu per satu jamaah disapanya dengan pandangan yang hangat.

“Hatur nuhun parantos sumping.”

“Mang Didin…”

“Muhun, Jengan.”

“Kumaha damang?”

“Alḥamdulillāh.”

Ajengan mengangguk pelan.

Pandangan beliau beralih kepada Bi Euis yang masih berdiri di dekat pintu.

“Hatur nuhun, Bi.”

Bi Euis hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Tak ada sambutan.

Tak ada mukadimah.

Ajengan kemudian duduk di tempat yang telah lama kosong itu.

Bukan kursi.

Bukan mimbar.

Hanya selembar tikar yang sama dengan yang diduduki jamaah.

Beliau merapikan ujung sarungnya.

Meletakkan tas kain kecil di samping kanan.

Lalu mengeluarkan sebuah kitab yang telah dibungkus kain putih.

Kain itu belum dibuka.

Kitab itu diletakkan perlahan di hadapan beliau.

Kedua telapak tangan Ajengan berada di atasnya beberapa saat.

Tak ada yang berbicara.

Mang Ujang menundukkan kepala.

Emod ikut merapatkan duduknya.

Di luar, suara jangkrik mulai terdengar dari kebun bambu.

Di dalam serambi…

tak terdengar apa pun.

Malam itu, sebelum kitab dibuka…

yang lebih dahulu mengajar adalah keheningan.

↗ Bagikan Tulisan Ini