Sebelum Kitab Dibuka

SHADZARAT

Majelis 1

Bagian 4 — Sebelum Kitab Dibuka

Ajengan Manglayang masih meletakkan kedua telapak tangannya di atas kain pembungkus kitab.

Beliau memandang jamaah.

Tak lama.

Lalu menundukkan kepala.

“Al-Fātiḥah…”

Suara itu pelan.

Namun cukup untuk membuat seluruh serambi ikut menunduk.

Tak ada yang mendahului.

Tak ada yang terlambat.

Suara bacaan Al-Fātiḥah mengalun lirih, saling bertemu, lalu perlahan menghilang bersama ujung ayat terakhir.

Hening kembali mengambil tempat.

Ajengan mengangkat wajah.

“Sateuacan urang ngawitan…”

beliau berhenti sejenak,

“…hayu urang tawasul heula.”

Jamaah kembali menundukkan kepala.

Nama demi nama disebut dengan tenang.

Junjungan Rasulullah .

Para sahabat.

Para ulama.

Para masyayikh.

Guru-guru yang telah lebih dahulu mengajarkan huruf demi huruf.

Dan muallif kitab yang malam itu akan dipelajari.

Tak ada seorang pun mencatat.

Tak ada yang membuka kitab.

Masing-masing hanya mengikuti dengan hati yang tenang.

Sesudah tawasul selesai, Ajengan berdoa singkat.

Bukan doa yang panjang.

Tetapi doa yang telah begitu akrab di telinga jamaah.

Memohon ilmu yang bermanfaat.

Hati yang lapang.

Lisan yang dijaga.

Dan adab yang tidak tercerai dari ilmu.

“Aamiin…”

Suara jamaah menyatu.

Ajengan mengangguk pelan.

Barulah tangan beliau bergerak.

Jemarinya menyentuh simpul kain putih yang membungkus kitab.

Namun simpul itu belum dilepas.

Beliau memandang jamaah sekali lagi.

“Sadayana parantos siap?”

“Muhun, Jengan.”

Ajengan tersenyum tipis.

“Insyā Allāh…”

“…urang ngawitan.”

Serambi kembali sunyi.

Kini, bukan karena menunggu.

Melainkan karena bersiap mendengar.

↗ Bagikan Tulisan Ini