SHADZARAT
Majelis 1
Bagian 5 — Simpul
Serambi tetap hening.
Ajengan Manglayang menundukkan pandangan ke arah kitab yang masih terbungkus kain putih.
Jemari beliau menyentuh simpulnya.
Pelan.
Tak ada gerakan yang tergesa.
Simpul itu terlepas.
Kain putih dibuka perlahan, lalu dilipat dengan rapi. Tidak dibiarkan tergeletak begitu saja. Beliau meletakkannya di sisi kanan.
Kitab itu kini tampak.
Sampulnya telah menguning dimakan usia.
Sudut-sudutnya mulai aus.
Bekas lipatan dan sentuhan tangan bertahun-tahun masih terlihat jelas.
Ajengan mengusap perlahan sampul kitab itu dengan telapak tangan kanannya.
Bukan untuk membersihkan debu.
Melainkan seperti seseorang yang sedang menyapa sahabat lama.
Beliau membuka halaman pertama.
Lembaran-lembaran tua itu bergerak perlahan di ujung jemari beliau.
Tak seorang pun mendekat.
Tak seorang pun mencoba melihat lebih jelas.
Masing-masing tetap berada di tempatnya.
Sesekali hanya terdengar suara halaman yang dibalik.
Lalu berhenti.
Ajengan menemukan halaman yang dicarinya.
Beliau tidak langsung membaca.
Pandangan beliau menyapu jamaah.
“Mang Ujang.”
“Muhun, Jengan.”
“Lamun urang muka kitab…”
“…naon anu pangheulana kedah disiapkeun?”
Mang Ujang menunduk.
“Haté, Jengan.”
Ajengan mengangguk pelan.
“Haté.”
Beliau mengulang satu kata itu.
“Sabab aya nu gancang tamat maca kitab…”
“…tapi can tangtu tamat diajar.”
Tak ada yang menjawab.
Kalimat itu dibiarkan tinggal di serambi.
Ajengan kembali memandang halaman kitab.
Telunjuk beliau menyentuh baris pertama.
Beliau menarik napas perlahan.
Namun suara beliau belum terdengar.
Jamaah ikut menundukkan pandangan.
Malam terasa semakin tenang.
Di luar serambi, angin menyentuh rumpun bambu.
Di dalam serambi…
setiap hati menunggu lafaz pertama yang akan mengalir dari kitab.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
telunjuk Ajengan berhenti tepat di awal matan.