SHADZARAT
Majelis 1
Bagian 6 — Basmalah
Serambi kembali hening.
Kitab telah terbuka.
Telunjuk Ajengan Manglayang berhenti pada baris pertama.
Beliau memandang halaman itu beberapa saat, seolah memastikan bahwa setiap hati telah siap mendengar.
Tak ada penjelasan.
Tak ada syarah.
Beliau hanya menarik napas perlahan.
Lalu terdengarlah lafaz yang begitu akrab di telinga setiap muslim.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Suara beliau tenang.
Jelas.
Tidak tergesa.
Selesai membaca, beliau diam.
Tak seorang pun bergerak.
Tak seorang pun menyela.
Keheningan itu bukan jeda.
Keheningan itu adalah bagian dari pelajaran.
Beberapa saat kemudian, beliau mengulanginya.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Mang Ujang menundukkan kepala.
Mang Didin memejamkan mata.
Emod mengikuti setiap bunyi lafaz dalam hati, tanpa berusaha mendahului.
Bi Euis yang masih berada di ambang dapur pun ikut menghentikan pekerjaannya sejenak.
Untuk ketiga kalinya, Ajengan membaca dengan nada yang sama.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Sesudah itu, kitab kembali sunyi.
Ajengan menutup mata beberapa saat.
Lalu beliau membuka kembali, mengangkat pandangan ke arah para jamaah.
“Urang sadayana tos remen ngucapkeun basmalah.”
Beliau berhenti sejenak.
“Unggal poe.”
“Unggal ngamimitian pagawean.”
“Unggal muka kitab.”
“Unggal nulis.”
Beliau mengusap perlahan halaman kitab.
“Tapi…”
“…naha urang parantos leres-leres cicing heula pikeun ngadéngékeun naon anu ku urang dibaca?”
Tak ada yang menjawab.
Ajengan tidak meminta jawaban.
Beliau hanya menggeser telunjuknya perlahan hingga tepat berada pada huruf pertama.
بِ
Beliau tersenyum tipis.
“Insyaallah…”
“…ti dieu urang ngamimitian.”
Serambi kembali tenggelam dalam keheningan.
Malam itu, majelis belum membahas satu kalimat pun.
Ia baru saja mengetuk pintu sebuah huruf.