SHADZARAT
Majelis 1
Bagian 9 — اللَّهِ
Ajengan Manglayang kembali membaca dari awal.
بِاسْمِ
Beliau berhenti sejenak.
Telunjuk bergeser perlahan.
Berhenti tepat pada lafaz berikutnya.
اللَّهِ
Suara beliau terdengar jernih.
“Allāhi…“
Beliau mengulanginya.
“Allāhi…“
Serambi tetap hening.
Tak seorang pun berbicara.
Ajengan kembali dari awal.
بِاسْمِ اللَّهِ
Irama bacaannya tidak berubah.
Pelan.
Terukur.
Setelah itu, beliau mulai mengabsahi.
Lafaz demi lafaz.
Makna gandul dibacakan sebagaimana lazimnya dalam kitab yang beliau ajarkan. Para jamaah tidak memotong, tidak pula mendahului. Mereka mengikuti alur bacaan sebagaimana telunjuk Ajengan bergerak di atas matan.
Beliau mengulang sekali lagi.
بِاسْمِ اللَّهِ
Mang Ujang ikut menggerakkan telunjuknya sendiri di atas kitab.
Tidak bersuara.
Hanya mengikuti.
Ajengan melihat ke arah jamaah.
“Sanes buru-buru ngartos.”
“Biasakeun heula nuturkeun.”
Beliau kembali membaca.
اللَّهِ
“Allāhi…”
Keheningan kembali turun.
Beliau tidak menjelaskan panjang tentang lafaz itu.
Tidak malam ini.
Beliau hanya berkata pelan,
“Lamun hiji nami dibaca kalawan hormat…”
“…mangka haté ogé diajar hormat.”
Sesudah itu beliau menutup kitab dengan telapak tangan.
Bukan karena pelajaran telah selesai.
Melainkan karena beliau ingin satu lafaz itu tinggal lebih lama di dalam hati para jamaah.
Malam semakin larut.
Lampu minyak bergoyang perlahan tertiup angin.
Dan di serambi kecil itu, tak seorang pun merasa rugi karena malam itu mereka baru sampai pada satu nama.
Sebab mereka sedang belajar bahwa ilmu tidak selalu bertambah dengan cepat.
Kadang ia justru tumbuh karena sebuah nama dibaca berulang-ulang dengan penuh takzim.