Murāja’ah

SHADZARAT

Majelis 1

Bagian 10 — Murāja’ah

Malam telah semakin larut.

Angin gunung turun perlahan melewati serambi.

Lampu minyak tetap menyala.

Cahayanya memantul lembut pada halaman-halaman kitab yang telah menguning dimakan usia.

Ajengan Manglayang tidak membuka lafaz baru.

Telunjuk beliau kembali ke awal.

Beliau memandang para jamaah.

“Peuting ieu…”

“…urang henteu nambahan.”

Tak seorang pun tampak kecewa.

Di majelis itu, tidak bertambahnya pelajaran bukan berarti tidak bertambahnya ilmu.

Ajengan mulai membaca.

بِسْمِ اللَّهِ

Beliau berhenti.

Lalu mengulanginya lagi.

بِسْمِ اللَّهِ

Irama bacaannya tetap sama.

Tenang.

Jelas.

Tidak tergesa.

Mang Ujang mengikuti gerak telunjuk Ajengan dengan matanya.

Mang Didin sesekali mengulang dalam hati.

Emod menahan tangannya.

Ia ingin menulis sesuatu di pinggir kitab.

Namun diurungkannya.

Ia memilih mendengar.

Ajengan kembali membaca.

بِ

Beliau berhenti.

Telunjuk berpindah.

اسْمِ

Beliau berhenti lagi.

Kemudian bergeser.

اللَّهِ

Setiap lafaz diberi ruang.

Setiap jeda diberi makna.

Tidak ada yang saling mendahului.

Ajengan memejamkan mata sesaat.

Kemudian berkata,

“Lamun maca kitab…”

“…ulah sieun ngulang.”

“Sabab anu diulang téh lain ukur bacaanana.”

“Nu keur diulang téh cara urang ngadeukeutan élmu.”

Serambi kembali sunyi.

Tak lama kemudian, Ajengan meminta jamaah mengikuti bersama.

Bukan dengan suara keras.

Cukup lirih.

Cukup agar telinga masing-masing mendengar bacaannya sendiri.

Untuk pertama kalinya malam itu, suara jamaah menyatu.

بِسْمِ اللَّهِ

Belum seragam.

Ada yang masih ragu.

Ada yang terlalu cepat.

Ada pula yang masih tertahan di antara harakat.

Ajengan tidak membetulkan.

Beliau hanya mengulang sekali lagi.

بِسْمِ اللَّهِ

Kali ini iramanya mulai menyatu.

Tak sempurna.

Namun tidak lagi saling mendahului.

Ajengan tersenyum.

“Henteu kedah buru-buru saé.”

“Nu penting…”

“…tong buru-buru ngarasa geus tiasa.”

Mang Didin menundukkan kepala.

Emod mengangguk pelan.

Mang Ujang memandang kembali kitabnya.

Lafaz yang sejak kecil begitu sering ia ucapkan, malam itu terasa seolah baru pertama kali benar-benar ia dengar.

Ajengan menutup kitab perlahan.

Beliau tidak menutup majelis.

Beliau hanya menjaga agar lafaz yang telah berulang-ulang dibaca itu tidak segera tertutup oleh banyaknya penjelasan.

“Insyaallah…”

“Peuting payun…”

“…urang neraskeun.”

Tak seorang pun bertanya, “Sampai mana?”

Karena di majelis itu, perjalanan tidak diukur oleh banyaknya lafaz yang telah dilewati.

Melainkan oleh seberapa dalam satu lafaz telah menetap di dalam hati.

Serambi kembali hening.

Di luar, suara jangkrik kembali terdengar.

Di dalam, tiga lafaz telah ditanamkan perlahan.

بِ

اسْمِ

اللَّهِ

Dan malam itu, ketiganya pulang bersama setiap jamaah.

↗ Bagikan Tulisan Ini