Baru sedikit demi sedikit

Pagi ini…

selepas bebersih…

saya tertidur.

Bukan karena malas.

Flu rupanya belum benar-benar pamit.

Batuk masih sesekali datang.

Mata juga masih menyimpan lelah semalam…

terlalu lama menatap layar.

Usia…

rupanya mulai pandai mengingatkan.

Ketika terbangun…

istri sudah sibuk dengan pekerjaannya.

Seperti biasa.

Tahajudnya sudah selesai.

Tilawahnya juga.

Puasa sunnahnya…

sering membuat saya malu.

Alhamdulillah.

Tak lama kemudian…

masuk sebuah pesan.

Isinya…

tentang kurang baiknya tidur di waktu pagi.

Ada potongan kajian Gus Baha.

Saya membacanya.

Lalu tersenyum.

Memang tidak salah.

Entah mengapa…

pikiran saya justru melompat…

ke ruang ngaji.

Ajengan.

Ta’lim al-Muta’allim.

Yang saya ingat…

bukan isi kitabnya.

Justru mukadimahnya.

Ajengan begitu lama berhenti di sana.

Tidak terburu-buru membuka pembahasan.

Tidak tergesa-gesa masuk ke isi.

Waktu itu…

saya sempat bertanya dalam hati.

Mengapa…

lama sekali…?

Hari ini…

baru sedikit demi sedikit saya mengerti.

Barangkali…

Ajengan sedang mengajarkan sesuatu…

yang bahkan lebih penting daripada isi kitab.

Adab…

untuk tidak tergesa-gesa merasa paham.

Adab…

untuk tidak terburu-buru menyimpulkan.

Adab…

untuk tidak cepat menilai.

Sebab…

yang kita lihat…

belum tentu seluruh kenyataan.

Seseorang bisa saja sedang tertidur.

Padahal…

ia sedang memulihkan tubuhnya.

Seseorang bisa saja terlihat diam.

Padahal…

ia sedang berjuang…

dengan sesuatu…

yang tidak pernah kita ketahui.

Barangkali…

itulah mengapa…

mukadimah…

selalu didahulukan.

Sebelum belajar ilmu…

ternyata saya memang harus belajar…

untuk tidak tergesa-gesa…

mengerti manusia.

↗ Bagikan Tulisan Ini