Bukan Sekadar Cerita Mereka

Suatu siang…
selepas makan siang, kami bertiga duduk di sebuah ruang rapat sebuah instansi.

Saya sudah mengenal mereka. Belum lama memang. Sekitar satu atau dua bulan.

Namun…
baru siang itu saya mendengar cerita yang selama ini tidak pernah mereka tunjukkan.

Di depan saya duduk seorang bapak. Usianya tak lagi muda.
Cara beliau berbicara tenang, tidak tergesa-gesa. Saya tidak pernah bertanya tentang perjalanan hidupnya.

Tetapi…
rasanya hidup sudah banyak mengajarinya.

Di sebelahnya duduk seorang ibu.
Wajahnya teduh. Tidak banyak bicara.

Tetapi…
setiap kali berbicara, saya selalu merasa ada sesuatu yang sudah selesai ia perjuangkan.

Pertemuan siang itu sebenarnya hanya untuk membahas satu urusan pekerjaan.
Pembahasannya selesai.

Namun…
obrolannya ternyata…
belum.

Entah siapa yang memulainya.
Yang saya ingat, pembicaraan perlahan bergeser.

Dari pekerjaan…
menjadi perjalanan hidup.

Bapak itu mulai bercerita.
Salah satu rekan bisnisnya pernah menipu beliau.
Beliau tidak menyebut nama. Hanya sesekali tersenyum kecil, seolah cerita itu sudah lama selesai di dalam dirinya.

Di ujung ceritanya beliau berkata,
“Ya… mau bagaimana lagi.”
Saya menoleh.

“Memangnya berapa, Pak ?”
“Kurang lebih empat setengah miliar.”
Saya terdiam.
Cukup lama.

Angka itu seperti menggantung beberapa detik di ruangan.
“Sudah dibawa ke pengacara, Pak ?”
Beliau mengangguk.
“Sudah.”

Saya mengira…
cerita itu selesai.

Ternyata…
belum.

“Lebih dari itu…”
Beliau berhenti sejenak.
“Ke mana-mana sudah.”
“Lalu… ?”

Beliau hanya menggeleng pelan.
“Tidak ada hasil.”

Ruangan kembali hening.

Beberapa detik berlalu.
Lalu beliau berkata,

“Ya sudah…
sekarang tinggal cari pelanggan baru.”

Beliau merapikan map di depannya.
Pembicaraan kembali berjalan seperti semula.

Saya memandang wajahnya.
Tidak terlihat marah.
Tidak juga sedang berpura-pura kuat.

Belum selesai saya mencerna cerita itu, ibu di sebelahnya ikut berbicara.
Setiap hari beliau berangkat pagi.
Pulang malam.
Bekerja.
Menabung.
Sedikit demi sedikit.

Hingga suatu siang…
ketika beliau masih bekerja…
rumahnya dibobol.

Sekitar dua ratus juta rupiah hilang.
Raib.

Beliau tentu tidak tinggal diam.

Sudah dicari.
Sudah diurus.
Sudah ke sana kemari.

Sampai akhirnya beliau berkata pelan,
“Saya ikhlaskan.”
Saya tidak langsung menoleh.
Kalimat itu terdengar ringan.

Padahal…
barangkali perjalanannya tidak.

Beliau melanjutkan ceritanya.
Di sela pekerjaannya…
beliau mulai berjualan.
Menjadi reseller.
Menabung lagi.
Sedikit demi sedikit.

Bukan untuk mengejar yang hilang.
Melainkan untuk memenuhi satu panggilan.
Naik haji.

Beliau tersenyum.
“Alhamdulillah…
Allah mudahkan.
Bahkan…
ONH Plus.”

Sejak awal saya hampir tidak banyak berbicara.
Botol air mineral di depan saya tetap utuh.
Sesekali saya memegangnya.
Lalu meletakkannya kembali.
Saya lebih banyak mendengarkan.

Di perjalanan pulang…
cerita mereka masih terus mengikuti saya.
Lama.

Baru kemudian…
saya mengerti.

Siang itu…
bukan sekadar cerita mereka.

↗ Bagikan Tulisan Ini