Suatu saat,
di hari Minggu pagi.
Warga mulai keluar.
Ada yang jalan pagi.
Ada yang lari pagi.
Ada yang sekadar mencari udara.
Saya kemudian duduk
di sebuah saung.
Di depan saya
sawah, kebun, pohon pisang.
Suasananya seperti kampung.
Padahal sebenarnya
tidak jauh dari kota.
Pagi masih muda.
Matahari mulai hangat.
Dan hari itu,
saya bertemu seorang rekan.
Seusia.
Sudah lama saya mengenalnya.
Biasa.
Kabar sana-sini.
Keluarga.
Teman.
Sahabat.
Dan dunia
yang sama-sama sedang kami jalani.
Tak lupa,
candaan khas bapak-bapak
yang sudah mulai
termakan usia.
Hahaha.
Lalu ia bercerita.
Berita-berita
yang dulu hanya kami dengar.
Sekarang,
satu per satu
mulai kami alami.
Ada temannya
yang mau menikahkan anak.
Ada rekannya
yang berangkat haji.
Ada temannya
yang mau sidang doktor.
Ada rekannya
yang perusahaannya
sudah go public.
Kami mendengarkan.
Sesekali tertawa.
Sesekali menimpali.
Biasa saja.
Sampai kemudian
ada berita yang lain.
Rekannya
yang ditangkap KPK
karena korupsi.
Saya tidak mau menghakimi.
Saya hanya tahu,
begitulah berita
yang tersebar di media.
Lalu ada lagi.
Temannya…
sudah pamit lebih dulu.
Menghadap
kepada Yang Maha Kuasa.
Hening sebentar.
Lalu percakapan berjalan lagi.
Tentang ini.
Tentang itu.
Tentang orang-orang
yang kami kenal.
Tentang hidup
yang terus berjalan.
Sampai akhirnya
tinggal kami berdua.
Saling menatap.
Dua orang
yang seusia.
Dan entah kenapa,
masa tua
seperti duduk
di antara kami.
Kalau dilihat dari luar,
mungkin terlihat mapan.
Kata orang.
Sudah sampai.
Sudah punya ini.
Sudah punya itu.
Tapi…
yang terlihat
tidak selalu
seperti yang sebenarnya.
Masih ada luka
yang tersisa.
Masih ada perjuangan
yang harus terus dijalankan.
Masih ada hal-hal
yang tidak pernah diceritakan.
Mungkin memang
tidak perlu.
Karena setiap orang
punya bagian hidupnya sendiri.
Ada yang dibawa
ke meja makan.
Ada yang dibawa
ke tempat kerja.
Ada yang cukup
disimpan sendiri.
Dan ada yang…
hanya dibawa
kepada-Nya.
Saya melihat lagi
ke depan.
Sawah masih di sana.
Pagi masih berjalan.
Orang-orang masih
jalan pagi.
Lari pagi.
Pulang.
Pergi.
Seperti tidak ada
yang berubah.
Padahal,
waktu…
terus berjalan.
Naik.
Turun.
Berliuk.
Kadang kita merasa
sedang berada di atas.
Kadang jatuh
entah ke mana.
Kadang bertemu
orang-orang baru.
Kadang satu per satu
orang lama pergi.
Dan kita tetap berjalan.
Mungkin pada akhirnya
tidak perlu terlalu jauh.
Jadi diri sendiri.
Bukan menurut
diri ini.
Tapi menurut
Yang Maha Suci.
Selalu memperbaiki diri.
Ke atas.
Kepada-Nya.
Dan ke sesama.
Terdengar sederhana.
Namun…
realitanya
tak sesederhana
kedengarannya.