Ada dua cerita yang kebetulan saya dengar dalam satu siang.
Seseorang kehilangan sekitar empat setengah miliar rupiah karena rekan bisnisnya.
Seseorang yang lain kehilangan sekitar dua ratus juta rupiah setelah rumahnya dibobol.
Keduanya sudah melakukan apa yang bisa dilakukan.
Mencari.
Mengurus.
Membawa persoalan ke pihak yang dianggap dapat membantu.
Tidak berhasil.
Yang menarik bukan jumlah yang hilang.
Melainkan apa yang terjadi sesudahnya.
Yang satu berkata:
“Ya sudah… sekarang tinggal cari pelanggan baru.”
Yang lain berkata:
“Saya ikhlaskan.”
Lalu keduanya kembali menjalani hidup.
Dua cerita.
Dua kehilangan.
Dan satu pertanyaan yang lebih besar:
Apa yang sebenarnya terjadi pada manusia setelah sesuatu yang penting dalam hidupnya hilang ?
Dalam psikologi, ada istilah resilience.
Tetapi resilience ternyata tidak sesederhana kemampuan seseorang untuk “kuat”.
Dalam literatur, resilience lebih banyak dipahami sebagai proses adaptasi terhadap adversity—kesulitan, tekanan, kehilangan, atau perubahan besar.
Yang menarik, adaptasi tidak selalu berarti kembali ke keadaan semula.
Seseorang bisa kembali mendekati kondisi sebelumnya.
Bisa juga membangun cara hidup yang berbeda.
Bahkan pada satu bagian kehidupan seseorang mungkin terlihat mampu berfungsi dengan baik, sementara pada bagian lain dampak kehilangan masih terasa.
Jadi :
pulih tidak selalu berarti kembali seperti dulu.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan seseorang menghadapi tekanan tidak berdiri sendiri.
Dukungan sosial dapat berperan.
Begitu pula kemampuan mengatur diri, cara seseorang memandang dirinya, hubungan dengan komunitas, dan dalam sejumlah penelitian, keterlibatan religius. Sebuah umbrella review pada 2024 yang mencakup 44 artikel dan lebih dari 556 ribu peserta menemukan sejumlah faktor yang berkaitan dengan resilience setelah adversity, meskipun tidak ada satu faktor yang dapat dianggap sebagai resep universal.
Ini penting.
Karena kita sering melihat seseorang yang berhasil melewati kesulitan lalu segera menyebutnya:
“orang yang kuat.”
Padahal mungkin ada banyak hal yang tidak terlihat di balik kemampuan seseorang untuk terus berjalan.
Orang-orang di sekelilingnya.
Sumber daya yang dimilikinya.
Cara ia memahami dirinya.
Keyakinannya.
Pengalaman sebelumnya.
Bahkan kondisi ketika kehilangan itu terjadi.
Kehilangan finansial memberikan lapisan lain.
Kehilangan uang bukan hanya persoalan nominal.
Ia dapat menyentuh rasa aman, kendali, harga diri, hubungan sosial, dan cara seseorang membayangkan masa depannya.
Sebuah systematic review mengenai financial hardship dan mental health menemukan bahwa faktor seperti coping, personal agency, dan self-esteem berkaitan dengan bagaimana tekanan finansial berhubungan dengan kondisi psikologis. Namun bukti yang tersedia juga memiliki keterbatasan, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat begitu saja disederhanakan.
Artinya, angka kerugian saja tidak cukup untuk menjelaskan akibatnya.
Empat setengah miliar bagi seseorang tidak otomatis menghasilkan pengalaman psikologis yang sama dengan empat setengah miliar bagi orang lain.
Begitu pula dua ratus juta.
Angkanya sama.
Kehidupannya belum tentu.
Di sini ada sesuatu yang mungkin sering luput ketika kita melihat cerita orang lain.
Kita cenderung melihat peristiwa.
Padahal penelitian lebih sering meminta kita melihat proses.
Kehilangan bukan hanya satu kejadian.
Ia bisa menjadi rangkaian:
kehilangan → respons → penyesuaian → keputusan → hubungan → perubahan → kehidupan berikutnya.
Dan rangkaian itu berlangsung dalam waktu.
Karena itu, apa yang terlihat pada minggu pertama belum tentu sama dengan apa yang terjadi enam bulan kemudian.
Begitu pula satu tahun kemudian.
Resilience, dalam pengertian ini, bukan label yang ditempelkan kepada seseorang.
Ia lebih dekat dengan sesuatu yang berlangsung.
Ada satu hal lagi yang membuat dua cerita tadi tidak bisa dijadikan resep.
Seseorang bisa terus bekerja setelah kehilangan.
Orang lain mungkin justru membutuhkan waktu untuk berhenti.
Seseorang menemukan tujuan baru.
Orang lain belum menemukannya.
Seseorang mendapatkan dukungan keluarga.
Yang lain mungkin menghadapinya sendirian.
Seseorang memiliki cadangan ekonomi.
Yang lain tidak.
Seseorang mempunyai keyakinan yang memberinya kerangka untuk memahami peristiwa.
Yang lain mungkin memaknainya dengan cara berbeda.
Maka ketika seseorang berkata,
“Saya ikhlaskan,”
kita tidak cukup tahu apa yang terjadi hanya dari dua kata itu.
Begitu pula ketika seseorang berkata,
“Saya cari pelanggan baru.”
Kalimat itu hanya memperlihatkan satu serpihan dari proses yang jauh lebih panjang.
Mungkin di sinilah kita perlu berhati-hati ketika membaca ketahanan orang lain.
Kita sering melihat hasil akhirnya.
Seseorang kembali bekerja.
Usahanya tumbuh.
Ia tersenyum.
Ia berangkat lagi.
Lalu kita menyebutnya:
bangkit.
Padahal kita tidak melihat seluruh proses yang mendahuluinya.
Tidak melihat malam-malam yang mungkin sulit.
Tidak melihat keputusan yang batal.
Tidak melihat orang-orang yang membantu.
Tidak melihat bagian diri yang mungkin berubah.
Tidak melihat apa yang masih dibawa dari peristiwa tersebut.
Yang terlihat hanya :
orang itu sudah berjalan lagi.
Dua cerita tadi juga memperlihatkan sesuatu yang lebih sederhana.
Kehilangan tidak selalu menghapus seluruh masa depan seseorang.
Tetapi kehilangan dapat mengubah hubungan seseorang dengan masa depan itu.
Yang sebelumnya menjadi tujuan mungkin berubah.
Yang dahulu dianggap penting mungkin mengecil.
Yang sebelumnya tidak terlihat mungkin menjadi pusat perhatian.
Dan kadang-kadang, tujuan yang sangat sederhana sudah cukup untuk membuat seseorang melangkah ke hari berikutnya.
Kita tidak selalu tahu apa tujuan itu.
Dan mungkin memang tidak perlu.
Pada akhirnya, dua orang tadi tetap hanya dua orang.
Kita tidak tahu apakah mereka dapat disebut “resilient” dalam pengertian penelitian.
Kita tidak tahu keseluruhan proses yang mereka jalani.
Kita hanya mengetahui dua serpihan kecil:
sesuatu yang hilang,
dan
kehidupan yang tetap berjalan sesudahnya.
Tetapi dari serpihan kecil itu, penelitian menunjukkan bahwa kemampuan manusia melanjutkan hidup bukan sekadar persoalan mental kuat atau kemauan untuk bangkit.
Ada proses.
Ada waktu.
Ada hubungan.
Ada sumber daya.
Ada cara seseorang memandang dirinya.
Ada keyakinan.
Dan ada kehidupan yang terus berubah setelah peristiwa itu lewat.
Mungkin karena itu,
yang menarik dari sebuah kehilangan bukan hanya
apa yang hilang.
Tetapi:
apa yang terjadi pada kehidupan setelahnya.