Ketika Tujuan harus Diubah

Ada satu hal yang jarang dibicarakan ketika kita berbicara tentang kegigihan.

Kita sering menganggap bahwa terus mengejar tujuan adalah bentuk keteguhan.

Semakin lama bertahan, semakin kuat.

Semakin sulit jalannya, semakin besar nilainya.

Tetapi ada keadaan ketika persoalannya bukan lagi tentang seberapa keras seseorang berusaha.

Persoalannya adalah :

apakah tujuan itu masih mungkin dicapai dengan keadaan yang sekarang ?

Dalam psikologi, ada pembahasan mengenai bagaimana manusia menyesuaikan tujuan ketika menghadapi hambatan.

Salah satu kerangka yang digunakan membedakan dua kemampuan.

Goal disengagement: kemampuan mengurangi keterikatan pada tujuan yang sudah tidak mungkin atau sangat sulit dicapai.

Dan goal reengagement: kemampuan menemukan dan kembali terlibat pada tujuan lain yang masih mungkin dicapai.

Keduanya berbeda.

Melepaskan satu tujuan tidak otomatis berarti kehilangan motivasi.

Dan menemukan tujuan baru tidak selalu berarti melupakan tujuan lama.

Kadang seseorang justru perlu melepaskan satu tujuan agar sumber daya psikologisnya dapat digunakan untuk sesuatu yang masih mungkin dilakukan.

Penelitian meta-analitik menunjukkan bahwa kemampuan melakukan penyesuaian tujuan berkaitan dengan kualitas hidup.

Tetapi hasilnya tidak sederhana.

Dalam sejumlah penelitian, kemampuan melepaskan tujuan yang tidak lagi dapat dicapai berkaitan dengan well-being, tetapi kemampuan untuk kembali terlibat pada tujuan baru menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan sejumlah indikator kualitas hidup. Hubungan tersebut juga dipengaruhi oleh usia, kondisi psikologis, dan konteks kehidupan. [1]

Penelitian yang lebih luas dan lebih baru juga menunjukkan bahwa bidang ini masih kompleks. Analisis terhadap 235 studi dengan 1.421 effect sizes menemukan bahwa goal disengagement, goal reengagement, dan goal-striving flexibility memiliki faktor pendahulu dan konsekuensi yang berbeda. Kualitas bukti keseluruhan juga belum cukup kuat untuk menghasilkan satu aturan universal.

Jadi:

tidak semua kegigihan adalah keteguhan.

Dan:

tidak semua perubahan arah adalah kegagalan.

Ini menjadi menarik karena manusia sering sulit membedakan antara bertahan dan terikat.

Ada tujuan yang memang perlu diperjuangkan.

Tetapi ada juga tujuan yang sudah berubah karena keadaan.

Sumber daya berkurang.

Kondisi berubah.

Kesempatan hilang.

Tubuh tidak lagi sama.

Hubungan berubah.

Tanggung jawab bertambah.

Informasi baru muncul.

Dalam keadaan seperti itu, strategi yang sama belum tentu menghasilkan kemungkinan yang sama.

Masalahnya, manusia tidak selalu mudah menerima kenyataan tersebut.

Kita telah menginvestasikan waktu.

Tenaga.

Uang.

Identitas.

Harapan.

Bahkan sebagian dari cara kita mendefinisikan diri sendiri.

Melepaskan tujuan tertentu karena itu berarti mengakui bahwa sebagian investasi tersebut tidak akan menghasilkan apa yang dahulu kita bayangkan.

Di sinilah konsep psychological flexibility menjadi relevan.

Fleksibilitas psikologis bukan berarti seseorang tidak memiliki prinsip.

Bukan juga berarti mudah berubah ketika menghadapi kesulitan.

Dalam literatur psikologi, konsep ini lebih dekat dengan kemampuan untuk tetap berhubungan dengan kenyataan yang sedang dihadapi, menerima pengalaman yang tidak menyenangkan tanpa harus dikendalikan olehnya, lalu memilih tindakan yang tetap sesuai dengan nilai yang dianggap penting.

Sebuah systematic review dan meta-analysis terhadap 67 studi dengan lebih dari 9.000 peserta menemukan hubungan antara peningkatan psychological flexibility, penurunan psychological inflexibility, dan perubahan psychological distress dalam konteks Acceptance and Commitment Therapy.

Ada perbedaan penting di sini.

Fleksibel tidak berarti kehilangan arah.

Seseorang dapat mengubah cara mencapai sesuatu tanpa mengubah nilai yang menjadi dasar tindakannya.

Kemudian ada situasi yang lebih sulit:

ketika tujuan itu sendiri sudah tidak dapat dicapai.

Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk menemukan tujuan baru menjadi semakin penting.

Sebuah studi longitudinal selama pandemi COVID-19 menemukan bahwa goal reengagement berkaitan dengan beberapa indikator psychological well-being, terutama pada orang yang merasa kehilangan kendali terhadap tujuan sebelumnya.

Temuan seperti ini memberi satu kemungkinan pembacaan:

ketika kendali terhadap satu bagian kehidupan berkurang, manusia mungkin membutuhkan sesuatu yang lain untuk kembali memberikan arah.

Bukan selalu tujuan yang lebih besar.

Kadang justru tujuan yang berbeda.

Tetapi ada satu jebakan.

Kita mudah mengubah semua ini menjadi nasihat:

“Kalau gagal, cari tujuan baru.”

Padahal penelitian tidak mengatakan sesederhana itu.

Kemampuan untuk melepaskan tujuan dipengaruhi oleh banyak hal.

Jenis tujuan.

Seberapa penting tujuan tersebut.

Seberapa mungkin tujuan itu sebenarnya dicapai.

Kondisi psikologis.

Usia.

Sumber daya.

Dukungan sosial.

Dan konteks kehidupan.

Karena itu, keputusan untuk terus bertahan atau mengubah arah tidak bisa dipisahkan dari kenyataan yang sedang dihadapi seseorang.

Di sini muncul pertanyaan yang lebih sulit.

Kapan seseorang sedang bertahan ?

Dan:

kapan sebenarnya ia sedang mempertahankan sesuatu yang sudah tidak lagi sesuai dengan kenyataan ?

Dari luar, keduanya bisa terlihat sama.

Sama-sama bekerja keras.

Sama-sama tidak berhenti.

Sama-sama mengatakan:

“Saya belum selesai.”

Tetapi arah di baliknya bisa berbeda.

Yang satu mungkin sedang memperjuangkan sesuatu yang masih mungkin.

Yang lain mungkin sedang mempertahankan tujuan lama karena sulit menerima bahwa keadaan sudah berubah.

Kita tidak selalu dapat membedakannya dari luar.

Penerimaan juga tidak sama dengan menyerah.

Dalam sejumlah penelitian, acceptance berkaitan dengan kemampuan melakukan goal reengagement dan dengan kualitas hidup, termasuk pada orang yang menghadapi kondisi kesehatan yang mengubah kehidupan.

Menerima kenyataan bahwa sebuah jalan sudah tertutup tidak berarti seluruh perjalanan harus berhenti.

Justru penerimaan dapat menjadi titik dari mana seseorang mulai bertanya:

Apa yang masih mungkin dilakukan sekarang ?

Pertanyaan itu berbeda dengan:

Bagaimana saya membuat kenyataan kembali seperti yang saya inginkan ?

Yang pertama berangkat dari kenyataan.

Yang kedua masih berusaha mengubah kenyataan agar sesuai dengan rencana lama.

Mungkin di sinilah kita perlu membedakan tiga hal :

mempertahankan nilai,

mempertahankan cara,

dan

mempertahankan tujuan.

Ketiganya tidak selalu harus berjalan bersama.

Seseorang dapat tetap memegang nilai yang sama,

tetapi mengubah caranya.

Dapat mempertahankan arah,

tetapi mengganti tujuan antara.

Dan dalam keadaan tertentu,

dapat melepaskan tujuan lama tanpa harus kehilangan apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

Perubahan arah, dengan demikian, tidak selalu berarti perubahan prinsip.

Tidak semua jalan yang berbelok perlu diluruskan kembali.

Tetapi tidak semua belokan juga harus dianggap sebagai petunjuk.

Kadang jalan berubah karena keadaan.

Kadang karena keputusan.

Kadang karena keterbatasan.

Kadang karena sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Yang dapat dilakukan manusia adalah membaca keadaan itu,

menilai apa yang masih mungkin,

dan menentukan apa yang perlu dipertahankan

serta apa yang perlu dilepaskan.

Penelitian belum memberikan satu formula yang berlaku untuk semua kehidupan.

Dan mungkin memang tidak akan pernah ada.

Karena kemampuan manusia untuk menyesuaikan tujuan selalu berlangsung di dalam konteks kehidupan yang berbeda.

Pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan:

“Apakah saya harus terus berjalan ?”

Tetapi:

“Dengan kenyataan yang ada sekarang, ke mana masih mungkin saya berjalan ?”

↗ Bagikan Tulisan Ini