Mengecilkan yang Terlihat Kecil

Kita cenderung memperlakukan sesuatu berdasarkan ukurannya.

Kesalahan kecil terasa ringan.

Kebaikan kecil terasa biasa.

Satu kali terlambat.

Satu kali berbohong.

Sedikit mengambil yang bukan hak kita.

Sedikit menunda.

Sedikit mengabaikan.

Tidak terasa seperti sesuatu yang perlu diperhatikan.

Begitu pula sebaliknya.

Memberi sedikit.

Menolong sebentar.

Mengucapkan sesuatu yang baik.

Melakukan satu hal yang benar ketika tidak ada yang melihat.

Sering kali juga terasa terlalu kecil untuk dianggap penting.

Pertanyaannya:

mengapa manusia begitu mudah mengecilkan sesuatu hanya karena ukurannya kecil ?

Dalam psikologi perilaku, ada alasan mengapa sesuatu yang dilakukan berulang kali dapat berubah sifat.

Sebuah tindakan yang pada awalnya membutuhkan perhatian dan keputusan sadar dapat menjadi semakin otomatis ketika dilakukan berulang dalam konteks yang serupa.

Dalam literatur tentang habit, perilaku tidak hanya dilihat dari seberapa sering ia dilakukan, tetapi juga dari terbentuknya hubungan antara situasi tertentu dan respons tertentu. Setelah hubungan itu cukup kuat, perilaku dapat muncul dengan lebih sedikit kesadaran dan usaha.

Sebuah penelitian longitudinal selama 84 hari terhadap 192 orang dewasa, misalnya, menemukan bahwa pengulangan perilaku dalam konteks yang relatif konsisten berkaitan dengan meningkatnya automaticity. Pada peserta yang berhasil membentuk kebiasaan, median waktu untuk mencapai tingkat automaticity puncak adalah sekitar 59 hari.

Angka itu bukan aturan universal.

Kebiasaan berbeda menurut perilaku, orang, dan konteks.

Tetapi ada satu hal yang cukup jelas:

sesuatu yang kecil dan berulang tidak selalu tetap kecil dalam pengaruhnya.

Hal yang sama dapat terjadi pada perilaku yang kita anggap tidak terlalu penting.

Dalam penelitian tentang behavioral ethics, ada fenomena yang disebut slippery slope.

Sebuah pelanggaran kecil tidak selalu langsung menghasilkan pelanggaran besar.

Tetapi penelitian Gino dan Bazerman menunjukkan bahwa pelanggaran yang meningkat secara bertahap dapat membuat seseorang bergerak semakin jauh dari standar awalnya. Salah satu mekanisme yang diteliti adalah moral disengagement—cara psikologis yang memungkinkan seseorang mengurangi hambatan moral terhadap tindakannya sendiri.

Yang menarik bukan bahwa setiap kesalahan kecil pasti menjadi kesalahan besar.

Penelitian tidak mengatakan demikian.

Yang lebih hati-hati untuk dikatakan adalah:

ketika pelanggaran terjadi bertahap, manusia dapat mengalami perubahan dalam cara ia menilai batas yang sebelumnya dianggap penting.

Batas itu dapat bergeser sedikit demi sedikit.

Ada fenomena lain yang juga berhubungan dengan cara kita menilai perilaku:

moral licensing.

Secara sederhana, penelitian mengenai moral licensing menguji kemungkinan bahwa seseorang yang sebelumnya melakukan sesuatu yang dianggap baik dapat merasa memiliki “kredit moral” tertentu, sehingga kemudian lebih mudah membenarkan perilaku yang kurang baik.

Sebuah meta-analysis terhadap 91 studi dengan 7.397 peserta menemukan efek moral licensing dengan ukuran efek rata-rata yang kecil hingga sedang. Namun penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mekanismenya memiliki moderator dan keterbatasan, sehingga fenomena ini tidak dapat dianggap sebagai hukum psikologis yang selalu berlaku.

Penelitian meta-analitik yang lebih baru, mencakup 115 eksperimen dan 21.770 peserta, juga menemukan bahwa efek licensing lebih kuat dalam kondisi ketika perilaku seseorang diamati orang lain, sementara bukti untuk mekanisme intrapsikis ketika tidak diamati jauh lebih lemah.

Ini menarik karena memperlihatkan sesuatu:

bahkan penilaian moral manusia sendiri tidak selalu bekerja secara sederhana.

Kita tidak hanya menilai:

“Apakah tindakan ini baik atau buruk ?”

Kadang kita juga menilai:

“Seperti apa saya setelah melakukan tindakan ini ?”

Dan penilaian terhadap diri sendiri dapat ikut memengaruhi perilaku berikutnya.

Ada kemungkinan lain yang lebih sederhana.

Sesuatu yang dilakukan berkali-kali dapat menjadi normal.

Bukan karena sejak awal dianggap benar.

Tetapi karena terlalu sering terjadi.

Kita mulai terbiasa.

Yang dulu terasa janggal menjadi biasa.

Yang dulu membutuhkan pertimbangan menjadi otomatis.

Yang dulu membuat kita berhenti sebentar untuk berpikir, lama-lama dilewati begitu saja.

Di sinilah penelitian tentang habit menjadi relevan.

Kebiasaan membuat perilaku lebih efisien karena otak tidak perlu memberikan perhatian yang sama besar pada setiap pengulangan. Tetapi efisiensi itu memiliki sisi lain: perilaku yang sudah otomatis juga dapat menjadi lebih sulit diubah.

Jadi ada ironi kecil di sini.

Pengulangan membantu kita membangun perilaku.

Tetapi pengulangan juga dapat membuat kita berhenti mempertanyakan perilaku tersebut.

Hal ini berlaku pada kebaikan juga.

Tidak semua perubahan harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Penelitian tentang pembentukan kebiasaan menunjukkan bahwa perilaku yang diulang dalam konteks yang konsisten dapat menjadi semakin otomatis.

Maka satu tindakan baik yang tampaknya tidak berarti mungkin memang tidak menghasilkan perubahan besar pada hari itu.

Tetapi jika ia menjadi pola,

yang berubah bukan lagi satu tindakan.

Yang berubah adalah kecenderungan untuk melakukan tindakan tersebut.

Demikian pula dengan tindakan yang buruk.

Satu tindakan mungkin tidak banyak menjelaskan siapa seseorang.

Tetapi pola yang terus berulang mulai memberi informasi yang berbeda.

Di sinilah ukuran sebuah tindakan menjadi agak menipu.

Kita sering menilai sesuatu berdasarkan:

berapa besar akibatnya sekarang.

Padahal ada pertanyaan lain:

apa yang dilakukan tindakan itu terhadap pola perilaku setelahnya ?

Satu kebohongan mungkin tidak menghancurkan sebuah hubungan.

Tetapi kebiasaan berbohong mengubah cara seseorang berhubungan dengan kebenaran.

Satu tindakan mengambil sesuatu yang bukan hak mungkin tidak langsung merusak sebuah sistem.

Tetapi pembenaran yang terus diulang dapat mengubah batas tentang apa yang dianggap boleh.

Sebaliknya, satu tindakan menolong mungkin tidak mengubah kehidupan seseorang secara dramatis.

Tetapi kebiasaan memperhatikan orang lain dapat membentuk pola yang berbeda.

Di sini kita tidak sedang mengatakan bahwa setiap tindakan kecil pasti membawa akibat besar.

Itu terlalu jauh.

Yang lebih masuk akal adalah:

tindakan kecil dapat menjadi bagian dari pola yang jauh lebih besar daripada tindakan itu sendiri.

Mungkin karena itu, manusia perlu membedakan antara:

kecil

dan

tidak berarti.

Keduanya bukan hal yang sama.

Sesuatu dapat kecil dalam ukuran,

tetapi penting dalam arah.

Satu keputusan kecil dapat menjadi awal dari kebiasaan.

Satu kebiasaan dapat menjadi bagian dari karakter perilaku.

Satu pelanggaran kecil dapat menguji batas.

Satu kebaikan kecil dapat memperkuat pola.

Tetapi semua itu tetap bergantung pada pengulangan, konteks, lingkungan, dan banyak faktor lain.

Tidak ada satu tindakan kecil yang secara otomatis menentukan seseorang.

Maka mungkin yang perlu diperhatikan bukan hanya:

“Seberapa besar tindakan ini ?”

Tetapi juga:

“Apa yang sedang dibentuk oleh tindakan ini ?”

Apakah ia sedang menjadi kebiasaan ?

Apakah batas sedang bergeser ?

Apakah sesuatu yang dahulu terasa salah mulai terasa biasa ?

Atau sebaliknya,

apakah sebuah kebaikan yang kecil sedang menjadi sesuatu yang semakin mudah dilakukan ?

Kita sering menunggu sesuatu menjadi besar sebelum merasa perlu memperhatikannya.

Padahal sebagian hal besar

mungkin tidak dimulai sebagai sesuatu yang besar.

Ia dimulai sebagai sesuatu yang hampir tidak kita anggap penting.

Dan mungkin karena itu,

yang kecil

tidak selalu perlu dibesar-besarkan.

Tetapi juga

tidak selalu layak diremehkan.

↗ Bagikan Tulisan Ini