Ketika Kita Mencari Pola

Ada hari yang kita anggap baik.

Ada hari yang kita hindari.

Ada angka yang terasa membawa keberuntungan.

Ada angka yang sebaiknya jangan disebut.

Ada benda yang dipercaya membawa keberuntungan.

Ada tempat yang dianggap kurang baik.

Dan kadang-kadang, satu kejadian yang kebetulan terjadi bersamaan dengan sesuatu yang kita percaya cukup untuk membuat keduanya terasa berhubungan.

Padahal belum tentu.

Pertanyaannya:

mengapa manusia begitu mudah menemukan hubungan di antara dua hal yang mungkin sebenarnya tidak saling berhubungan ?

Dalam psikologi kognitif ada istilah illusory correlation.

Sederhananya, kita melihat seolah-olah dua hal memiliki hubungan, padahal bukti yang tersedia belum menunjukkan adanya hubungan tersebut.

Fenomena ini sudah lama dipelajari.

Penelitian menunjukkan bahwa manusia dapat mempersepsikan korelasi antara dua kejadian yang sebenarnya tidak berkorelasi. Salah satu penjelasan yang banyak diteliti berkaitan dengan bagaimana perhatian, frekuensi kejadian, dan cara informasi diproses memengaruhi penilaian kita terhadap pola.

Jadi masalahnya bukan selalu karena kita tidak memiliki informasi.

Kadang-kadang justru karena kita memiliki beberapa informasi yang terasa sangat cocok satu sama lain.

Bayangkan seseorang mempercayai bahwa sebuah angka membawa kesialan.

Kemudian pada suatu hari angka itu muncul.

Tidak lama setelahnya terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Keduanya lalu tersimpan sebagai satu cerita:

angka itu muncul → sesuatu yang buruk terjadi.

Padahal ada begitu banyak hari ketika angka tersebut muncul dan tidak terjadi apa-apa.

Hanya saja,

hari-hari yang biasa biasanya tidak meninggalkan cerita.

Yang tidak biasa lebih mudah diperhatikan.

Dan ketika dua kejadian yang mencolok muncul bersamaan, hubungan di antara keduanya dapat terasa lebih kuat daripada yang sebenarnya.

Penelitian mengenai illusory correlation menunjukkan bahwa kejadian yang jarang atau menonjol dapat memperoleh perhatian yang tidak proporsional dan memengaruhi penilaian kita mengenai hubungan antarperistiwa.

Ada satu hal yang lebih menarik lagi.

Kita tidak hanya mencari pola.

Kita juga mencari rasa bahwa dunia dapat dipahami.

Dalam sebuah rangkaian eksperimen yang dipublikasikan di Science, Whitson dan Galinsky menemukan bahwa ketika orang mengalami kondisi dengan rasa kendali yang rendah, mereka menjadi lebih cenderung melihat pola yang sebenarnya tidak ada—termasuk hubungan semu, pola pada informasi acak, dan kecenderungan terhadap keyakinan takhayul.

Ini memberi kemungkinan penjelasan yang cukup masuk akal.

Ketika sesuatu terasa tidak pasti,

pikiran manusia mungkin lebih aktif mencari struktur.

Sesuatu.

Apa saja.

Yang dapat membuat keadaan terasa sedikit lebih dapat dipahami.

Di sinilah takhayul menjadi menarik.

Bukan hanya karena seseorang percaya pada angka tertentu.

Tetapi karena kepercayaan tersebut dapat memberikan hubungan sebab-akibat yang terasa sederhana.

Hari itu buruk karena tanggal tertentu.

Bisnis gagal karena hari tertentu.

Perjalanan tidak lancar karena angka tertentu.

Sebuah kejadian baik terjadi karena benda tertentu.

Hubungan semacam itu memberikan satu hal yang sangat manusiawi:

penjelasan.

Masalahnya,

penjelasan yang terasa masuk akal belum tentu merupakan penjelasan yang benar.

Eksperimen lain mengenai superstition menemukan sesuatu yang serupa.

Dalam sebuah tugas laboratorium, peserta diminta mengamati hubungan antara suatu tindakan dan hasil tertentu, padahal secara objektif keduanya tidak memiliki hubungan kausal.

Sebagian besar peserta tetap mempersepsikan adanya hubungan.

Yang menarik, tingkat keyakinan takhayul seseorang dapat memprediksi seberapa kuat ia melihat hubungan semu tersebut.

Jadi manusia bukan hanya dapat salah membaca pola.

Sebagian orang mungkin memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk melakukannya.

Tetapi ada satu hal yang perlu hati-hati.

Tidak semua keyakinan yang kita sebut “takhayul” dapat dijelaskan hanya sebagai kesalahan berpikir.

Kepercayaan manusia juga dipengaruhi budaya, pengalaman, lingkungan sosial, tradisi, dan cara suatu masyarakat memberi makna terhadap kejadian.

Dan bahkan konsep illusory correlation sendiri tidak selalu sesederhana “otak sedang salah”.

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, pola yang tampak ilusif dapat muncul dari cara manusia melakukan inferensi terhadap frekuensi dan informasi yang tersedia. Karena itu, para peneliti sendiri masih memperdebatkan mekanisme yang tepat di balik fenomena tersebut.

Ini penting.

Karena tujuan memahami bias kognitif bukan untuk mengatakan:

“Manusia itu bodoh.”

Justru sebaliknya.

Kita sedang melihat betapa kompleksnya cara manusia berusaha memahami dunia.

Mungkin itu sebabnya kita lebih mudah mengingat:

hari ketika angka tertentu muncul dan sesuatu terjadi,

daripada

puluhan hari ketika angka yang sama muncul dan tidak terjadi apa-apa.

Kita mengingat kecocokan.

Bukan seluruh populasi kejadiannya.

Dan dari beberapa kecocokan,

kita mulai membangun cerita.

Cerita itu kemudian diulang.

Diceritakan kepada orang lain.

Menjadi kebiasaan.

Lalu, perlahan,

menjadi keyakinan.

Ada sisi lain dari persoalan ini.

Ketika seseorang merasa bahwa suatu angka atau hari tertentu membawa keberuntungan atau kesialan, ia mungkin mulai mengubah perilakunya.

Menghindari.

Menunda.

Lebih berhati-hati.

Atau justru merasa lebih percaya diri.

Artinya, sebuah keyakinan yang pada awalnya hanya ada di dalam pikiran dapat menghasilkan perilaku nyata.

Pada titik tertentu, kita tidak lagi hanya bertanya:

“Apakah angka itu benar-benar berpengaruh ?”

Tetapi juga:

“Apa yang dilakukan keyakinan tentang angka itu terhadap perilaku kita ?”

Ini wilayah yang berbeda.

Karena sesuatu yang secara objektif tidak memiliki hubungan sebab-akibat tetap dapat memengaruhi keputusan seseorang jika ia mempercayainya.

Maka mungkin ada dua hal yang perlu dibedakan.

Kejadian.

Dan

cerita yang kita buat tentang kejadian tersebut.

Sebuah peristiwa terjadi.

Kemudian pikiran mencari hubungan.

Hubungan itu diberi makna.

Makna tersebut membantu kita menjelaskan apa yang terjadi.

Tetapi hubungan antara dua peristiwa tidak otomatis berarti hubungan sebab-akibat.

Kadang memang ada hubungan.

Kadang kebetulan.

Kadang kita belum memiliki cukup informasi untuk mengetahuinya.

Dan kemampuan mengatakan:

“Saya belum tahu apakah keduanya berhubungan.”

mungkin justru merupakan salah satu bentuk kehati-hatian berpikir.

Menariknya, dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan hal seperti ini jauh lebih sering daripada yang kita sadari.

Bukan hanya tentang angka.

Tentang orang.

Tentang bisnis.

Tentang kesehatan.

Tentang keberuntungan.

Tentang keputusan.

Tentang kegagalan.

Satu kejadian mengikuti kejadian lain,

lalu kita menganggap yang pertama sebagai penyebab yang kedua.

Padahal urutan waktu saja belum cukup untuk membuktikan sebab-akibat.

Kita melihat dua titik,

lalu pikiran kita menggambar garis di antaranya.

Kadang garis itu memang ada.

Kadang kita sendiri yang menggambarnya.


Mungkin karena itu,

yang perlu diperhatikan bukan hanya pola yang kita lihat.

Tetapi juga:

berapa banyak kejadian yang tidak kita masukkan ke dalam pola tersebut.

Tanggal yang sama tetapi tidak terjadi apa-apa.

Keputusan yang sama tetapi hasilnya berbeda.

Orang yang sama tetapi situasinya berubah.

Kejadian yang tampak serupa tetapi ternyata memiliki sebab yang berbeda.

Sering kali,

yang tidak masuk ke dalam cerita

justru menentukan apakah cerita itu benar.

Karena itu sebuah angka mungkin memang hanya sebuah angka.

Sebuah hari mungkin hanya sebuah hari.

Dan sebuah kebetulan,

mungkin memang hanya kebetulan.

Tetapi manusia tetap akan mencari pola.

Mungkin karena dengan menemukan pola,

dunia terasa sedikit lebih mudah dipahami.

Dan mungkin karena itu pula,

sesekali kita perlu berhenti

sebelum menghubungkan

dua titik

yang sebenarnya

belum tentu memiliki garis.

↗ Bagikan Tulisan Ini