Dulu Saya yang Menjawab

Lama tidak ada kabar.

Bukan hanya sehari. Bukan hanya seminggu. Tapi sudah berbulan-bulan.

Seorang adik saya yang tinggal di luar kota. Ia disana bukan untuk kuliah, bukan juga untuk bekerja. Ia sedang nyantri, sedang berkhidmat di sebuah pesantren di sudut kota kecil di Jawa Tengah.

Ia seorang gadis.

Dan ia memanggil saya Mas.

Bukan karena saya muda, namun memang silsilahnya begitu. Ia salah seorang anak dari bibi saya.

Yang lucu, usia bibi saya tidak jauh berbeda dengan saya. Bahkan sedikit di bawah saya.

Jadi, secara sederhana, ibu dari gadis yang memanggil saya Mas itu usianya justru di bawah saya.

Entah kenapa, panggilan itu selalu membuat saya merasa dua puluh tahun lebih muda.

Bukan karena umur.

Tapi… ia memanggil saya dengan sebutan Mas.


Saya masih sangat ingat ketika ia masih lebih kecil. Anak ini pintar. Setiap saya pulang, ia hampir selalu menunggu.

Bukan menunggu oleh-oleh.

Menunggu untuk diajak berdebat, berdiskusi, bertanya tentang ini dan itu. Dan saya akan selalu berusaha menjawab.

Bukan karena saya selalu tahu.

Tapi karena, ya… namanya juga laki-laki. Kadang sedikit sok tahu kalau berhadapan dengan adik.

Ia memang sering bertanya kepada saya tentang banyak hal. Saya senang meladeninya. Kadang bisa menjawab, kadang sebenarnya cuma modal percaya diri.

Sampai suatu ketika ia mulai bercerita tentang teman laki-laki yang mendekatinya.

Saya bilang, hati-hati.

Bukan karena saya menganggap laki-laki itu pasti punya niat buruk. Bukan juga karena saya tidak percaya kepadanya.

Saya kan laki-laki.

Sedikit banyak saya tahu bagaimana laki-laki berpikir ketika sedang mengejar perempuan. Ada hal-hal yang mungkin tidak perlu dijelaskan kepada perempuan, karena laki-laki sendiri tahu bagaimana pikirannya bekerja ketika sedang punya rasa.

Jadi kalau ada yang mendekati dia, naluri saya sebagai kakak laki-laki langsung muncul.

Dan dalam hati cuma bisa bilang,

“Halahhh… isi otak laki-laki. Saya juga tahu.”

Begitulah.

Mungkin itu salah satu bentuk protektif seorang kakak. Sedikit sok tahu, sedikit merasa harus menjaga.


Waktu berjalan.

Ia tumbuh.

Saya juga tumbuh.

Anak yang dulu sering menunggu saya pulang itu sekarang tinggal jauh dari rumah. Kami pun tidak lagi sesering dulu berkomunikasi.

Sampai suatu hari, ponsel saya berbunyi.

Notif WhatsApp dari dia.

Obrolan pun mengalir. Tentang pesantren, tentang kabar, tentang kehidupan di sana. Seperti biasa, dari satu cerita pindah ke cerita lain tanpa terasa.

Sampai ia menyampaikan sebuah kabar.

“Alhamdulillah, udah ujian Tasmi’ 30 juz.”

Saya langsung membalas,

“Alhamdulillah.”

Ada rasa bangga mendengar itu.

Saya tahu Tasmi’ bukan sekadar mengatakan bahwa ia hafal 30 juz. Hafalan itu sudah diperdengarkan dan diuji. Ada proses panjang di belakang satu kalimat pendek tersebut.

Lalu, entah bagaimana percakapan sampai pada satu pertanyaan saya.

“Tinggal… nikahnya.”

Setelah itu tidak ada jawaban.

Sebentar.

Lalu lebih lama.

Saya tidak tahu kenapa dia lama membalas. Saya juga tidak terlalu memikirkannya.


Sampai akhirnya muncul satu pesan.

“Nggih mas…”

Kemudian beberapa saat setelahnya,

“Insya Allah sampun wekdale, mas.”


Saya membacanya pelan.

Lalu membacanya lagi.

Saya tahu arti kalimat itu. Saya tahu maksud sederhananya.

Tapi ada sesuatu di sana yang membuat saya berhenti.

Bukan karena dia bicara tentang menikah.

Yang menghujam justru kalimat terakhirnya.

Insya Allah sampun wekdale.

Saya tidak tahu apa yang ada di pikirannya ketika menulis itu. Saya tidak tahu apakah sudah ada rencana tertentu, apakah sudah ada pembicaraan, atau memang ia hanya menjawab seperti itu.

Saya hanya membaca apa yang dia tulis.


Dan bagi saya, kalimat itu terasa berbeda.

Ia tidak berkata,

“Sudah saya siapkan, Mas.”

Tidak juga,

“Sudah saya pikirkan.”

Apalagi,

“Sudah ada rencana.”

Ia hanya berkata,

“Insya Allah sampun wekdale.”

Sudah waktunya.

Bukan menurut saya.

Bukan menurut dia.

Entah bagaimana, kalimat itu terasa seperti sebuah penerimaan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak seluruhnya bisa kita atur sendiri.

Di situ saya terdiam.


Anak yang dulu sering datang membawa pertanyaan kepada saya, sekarang justru membuat saya berpikir.

Dulu dia bertanya.

Saya yang menjawab.

Sekarang dia menjawab.

Saya yang diam.

Mungkin memang begitu cara waktu bekerja.

Orang yang dulu kita pikir masih harus kita jaga, pelan-pelan tumbuh menjadi seseorang yang punya jalan hidupnya sendiri.

Dan sebagai kakak, saya mulai menyadari satu hal.

Menjaga tidak selalu berarti menentukan.

Menyayangi tidak selalu berarti ikut mengatur.

Kadang kita hanya perlu tetap ada. Mendoakan. Kalau diminta, memberi pandangan. Setelah itu, membiarkan seseorang berjalan dengan pilihannya sendiri.

Karena ada bagian dari hidup yang bisa kita ikhtiarkan.

Ada yang harus kita tunggu.

Dan ada yang akhirnya harus kita serahkan kepada Yang Maha Mengatur.


Saya kembali melihat pesan itu.

“Insya Allah sampun wekdale, mas.”

Pendek.

Sangat pendek.

Tapi entah kenapa, saya membacanya beberapa kali.

Dulu saya merasa harus punya jawaban untuk setiap pertanyaannya.


Sekarang, satu jawabannya justru membuat saya belajar diam.

Mungkin memang tidak semua hal dalam hidup harus kita jawab.

Ada yang cukup kita usahakan.

Ada yang cukup kita doakan.

Dan ada yang waktunya hanya Dia yang tahu.

Saya tersenyum sendiri.

Bukan karena akhirnya adik saya akan menikah.

Bukan pula karena saya sudah tahu kapan waktunya.

Saya hanya teringat pada anak perempuan yang dulu sering menunggu saya pulang, lalu datang membawa begitu banyak pertanyaan.


Dulu…

saya yang menjawab.

Sekarang…

saya yang belajar dari jawabannya.

↗ Bagikan Tulisan Ini