Tidak Lagi Menjadi Jawaban

Ada satu perubahan yang sering terjadi dalam hubungan antarmanusia, tetapi jarang kita sadari ketika sedang mengalaminya.

Orang yang dulu sering datang kepada kita untuk bertanya, suatu hari berhenti bertanya.

Bukan karena ia tidak membutuhkan kita lagi.

Bisa jadi justru karena ia sudah mulai mampu menjawab pertanyaannya sendiri.

Saya teringat seorang anak perempuan dalam keluarga yang sejak kecil cukup sering datang kepada saya dengan berbagai pertanyaan. Tentang sekolah, tentang pertemanan, tentang laki-laki, tentang hidup yang saat itu belum terlalu ia pahami.

Saya senang menjawabnya.

Kadang memang tahu jawabannya.

Kadang sebenarnya tidak terlalu tahu, tetapi tetap menjawab dengan keyakinan seorang kakak laki-laki yang merasa harus terlihat tahu.

Itu hal yang sangat manusiawi.

Ketika seseorang yang lebih muda datang kepada kita, pengalaman sering membuat kita merasa memiliki sesuatu yang bisa diberikan: pengetahuan, peringatan, atau sekadar sudut pandang.

Masalahnya muncul ketika pengalaman tersebut perlahan berubah menjadi perasaan bahwa kita juga tahu apa yang terbaik untuk hidup orang lain.

Padahal keduanya berbeda.

Mengetahui sesuatu tidak sama dengan berhak menentukan.

Pengalaman kita bisa membuat kita lebih cepat mengenali risiko. Kita mungkin pernah melihat bagaimana seseorang mendekati orang lain, bagaimana sebuah hubungan dimulai, bagaimana keputusan yang tampaknya kecil bisa menghasilkan konsekuensi panjang.

Tetapi tetap ada satu batas yang tidak boleh dilupakan:

kita menjalani pengalaman kita sendiri, bukan pengalaman orang lain.

Karena itu, ketika seseorang yang dulu selalu bertanya mulai mengambil keputusan sendiri, sebenarnya yang berubah bukan hanya dirinya.

Peran kita juga berubah.

Dulu mungkin kita berada di depan.

Memberi jawaban.

Memberi peringatan.

Menjelaskan apa yang menurut kita masuk akal.

Kemudian, pelan-pelan, kita bergeser ke samping.

Masih ada ketika dibutuhkan.

Tetapi tidak lagi menjadi pusat keputusan.

Perubahan seperti ini sering terasa aneh.

Terutama bagi orang yang sudah lama berada dalam posisi melindungi.

Sebab melindungi memberikan rasa bahwa kita masih memiliki fungsi yang jelas.

Kita tahu apa yang harus dilakukan.

Kita tahu apa yang harus dikatakan.

Kita tahu apa yang harus dihindari.

Sedangkan ketika orang yang kita sayangi mulai menentukan hidupnya sendiri, ada wilayah yang menjadi tidak pasti.

Kita tidak tahu siapa yang akan dipilihnya.

Tidak tahu kapan.

Tidak tahu bagaimana.

Tidak tahu apakah keputusan itu akan berakhir baik.

Dan ketidakpastian seperti ini secara psikologis memang tidak selalu mudah diterima.

Dalam literatur psikologi, intolerance of uncertainty menggambarkan kecenderungan seseorang mengalami ketidakpastian sebagai sesuatu yang sulit ditoleransi. Salah satu respons yang dapat muncul adalah semakin banyak mencari informasi, memastikan, memeriksa, atau mencoba mengurangi ketidakpastian.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sangat sederhana.

“Siapa orangnya?”

“Kapan?”

“Sudah sejauh mana?”

“Sudah dipikirkan baik-baik?”

Pertanyaan-pertanyaan itu bisa terdengar seperti perhatian.

Dan memang bisa berasal dari perhatian.

Tetapi perhatian dan kontrol memiliki wilayah yang sangat berdekatan.

Perbedaannya ada pada apa yang kita lakukan setelah mendapatkan jawaban.

Kalau informasi itu kita gunakan untuk membantu seseorang berpikir, kita sedang memberi dukungan.

Kalau informasi itu kita gunakan untuk memastikan keputusan akhirnya sesuai dengan yang kita inginkan, kita sudah bergerak ke wilayah yang berbeda.

Ini menarik jika dilihat dari konsep autonomy dalam Self-Determination Theory.

Autonomy bukan berarti seseorang harus hidup sendirian atau tidak membutuhkan nasihat. Ia lebih dekat dengan pengalaman bahwa tindakan dan keputusan seseorang berasal dari dirinya sendiri, bukan semata-mata karena dikendalikan pihak lain. Bersama competence dan relatedness, autonomy dipandang sebagai kebutuhan psikologis dasar yang berkaitan dengan perkembangan dan kesejahteraan.

Artinya, hubungan yang sehat tidak harus memilih antara “peduli” atau “membebaskan”.

Keduanya bisa berjalan bersamaan.

Kita bisa tetap peduli tanpa mengambil alih.

Tetap memberi nasihat tanpa memaksakan.

Tetap memperingatkan tanpa menganggap keputusan akhir sebagai milik kita.

Dan mungkin yang paling sulit:

tetap hadir ketika keputusan seseorang ternyata berbeda dari keputusan yang akan kita ambil.

Di situlah kedewasaan sebuah hubungan mulai terlihat.

Bukan ketika kita mampu membuat orang lain mengikuti nasihat kita.

Tetapi ketika kita mampu menerima bahwa orang lain memiliki kehidupan yang harus ia jalani sendiri.

Ada fase dalam kehidupan ketika orang tua perlu memegang tangan anak.

Ada fase ketika kakak perlu memberi tahu adiknya agar berhati-hati.

Ada fase ketika seseorang membutuhkan banyak jawaban dari orang yang lebih berpengalaman.

Tetapi semua hubungan itu memiliki arah yang sama:

ketergantungan perlahan berubah menjadi kemandirian.

Dan kalau proses itu berjalan sehat, orang yang dulu kita lindungi tidak selamanya berada di belakang kita.

Ia akhirnya berjalan di samping kita.

Kadang bahkan lebih dulu.

Di titik itu, kita mungkin baru menyadari bahwa tugas kita sebenarnya bukan menjadi jawaban untuk seluruh hidupnya.

Kita hanya pernah menjadi salah satu tempat ia mencari jawaban.

Setelah itu, ia harus belajar menjadi penanggung jawab bagi pilihannya sendiri.

Itulah sebabnya sebuah kalimat pendek kadang bisa terasa lebih panjang daripada penjelasan berjam-jam.

Bukan karena kalimat itu mengandung kepastian.

Justru sebaliknya.

Karena di dalamnya ada kesadaran bahwa hidup memiliki wilayah yang tidak bisa dipastikan oleh orang lain.

Dan mungkin di situlah peran kita berubah.

Dari orang yang menjawab,

menjadi orang yang mendengarkan.

Dari orang yang mengarahkan,

menjadi orang yang tersedia ketika dibutuhkan.

Dari orang yang merasa harus menjaga setiap langkah,

menjadi orang yang cukup memastikan bahwa ketika suatu hari ia membutuhkan tempat kembali, kita masih ada.

Barangkali itu bukan kehilangan peran.

Justru mungkin itulah bentuk lain dari keberhasilan sebuah hubungan:

ketika seseorang yang dulu membutuhkan jawaban dari kita akhirnya mampu hidup tanpa harus selalu meminta jawaban kita.

↗ Bagikan Tulisan Ini