Hari ini,
14 Agustus 2026.
Awalnya seperti biasa.
Pagi hari,
setelah menjalani ritual pagi,
saya bergeser ke sebuah meja kayu.
Meja biasa.
Sederhana.
Tempat biasa saya mencoba menerawang,
apa yang kira-kira akan terjadi hari ini.
Di kepala sudah pasti
berjejer plan A, B, C.
Jam sekian ketemu A.
Jam sekian ketemu B.
Jam sekian ketemu D.
Begitu seterusnya.
Rapi.
Teratur.
Setidaknya di kepala.
Entah kenyataannya.
Karena yang di kepala
dengan kenyataan
lebih sering kontradiksi.
Namun…
Ada satu yang selalu tidak kontradiksi.
Secangkir kopi pahit.
Setia di ujung pagi.
Kontradiksi.
Itu kata saya.
Padahal mah,
terserah yang di atas
mau menakdirkan apa hari ini.
Rencana boleh sepuluh.
Kalau realita seratus,
siapa yang bisa nolak ?
Hahahaha…
Kopi belum habis.
Seperti orang tua di zaman now
yang ikut-ikutan update informasi.
Tanpa sadar
saya buka media sosial.
Lihat beranda.
Cek story.
Lihat ini.
Lihat itu.
Yang sebenarnya
tidak ada kaitannya
dengan diri sendiri.
Hahaha…
Sampai kemudian
jari saya berhenti.
Ada satu story.
Selamat datang
bulan Maulid.
Bulan Rabiul Awal.
1 Rabiul Awal.
Saya diam sebentar.
Bukan karena tanggal itu.
Tetapi karena satu kata
yang tiba-tiba membawa saya
jauh ke belakang.
Maulid.
Tiba-tiba saya kembali menjadi anak kecil.
Malam-malam.
Jalanan yang gelap
dipenuhi obor api.
Cahaya kecil bergerak
di antara orang-orang
yang berjalan menuju masjid.
Ada suara orang-orang.
Ada shalawat.
Ada pengajian.
Ada anak-anak yang mungkin
belum mengerti apa-apa
tetapi ikut berjalan
karena memang semua orang berjalan.
Kemudian Bapak.
Membaca kitab Al-Barzanji.
Suara itu…
Entah kenapa
saya masih bisa membayangkannya.
Dulu saya tidak tahu
apa yang sedang dibaca.
Tidak tahu sejarahnya.
Tidak tahu perdebatan tentangnya.
Tidak tahu kenapa orang-orang
berkumpul pada malam-malam itu.
Saya hanya tahu…
bulan itu berbeda.
Ada sesuatu yang membuat malam
terasa lebih ramai.
Lebih hangat.
Lebih dekat.
Saya menikmatinya.
Saya merasakannya.
Tanpa harus memahami.
Barangkali memang begitu cara
seorang anak mengenal sesuatu.
Bukan lewat penjelasan.
Tetapi lewat suasana.
Lewat suara.
Lewat cahaya.
Lewat orang-orang yang dicintainya.
Lewat Bapak
yang membaca Al-Barzanji.
Lalu waktu berjalan.
Saya tumbuh.
Pengetahuan bertambah.
Buku bertambah.
Ceramah yang didengar bertambah.
Pertanyaan bertambah.
Saya mulai tahu banyak hal
yang dulu tidak saya tahu.
Tentang sejarah.
Tentang berbagai pendapat.
Tentang cara orang memahami Maulid.
Tentang bagaimana umat
memperingatinya dengan cara
yang berbeda-beda.
Bahkan tentang bagaimana zaman
mengubah cara kita berkumpul.
Dulu orang berjalan
membawa obor.
Sekarang kita bisa melihat
peringatan Maulid dari layar.
Dulu suara shalawat
datang dari masjid di ujung kampung.
Sekarang ia bisa muncul
di beranda ponsel
di mana pun kita berada.
Dulu menunggu malam.
Sekarang tinggal membuka story.
Zaman berubah.
Cara berubah.
Kita berubah.
Dan pagi ini,
di meja kayu yang sederhana itu,
sambil memegang secangkir kopi
yang belum juga habis…
saya tiba-tiba teringat
kepada anak kecil itu.
Anak kecil
yang tidak banyak tahu.
Tetapi bisa merasakan
bahwa ada sesuatu yang istimewa.
Anak kecil
yang tidak pernah bertanya
apakah cara ini benar
atau cara itu salah.
Ia hanya ikut.
Mendengar.
Melihat.
Merasakan.
Dan mungkin…
di situlah sesuatu
yang selama ini saya cari
sebenarnya pernah tinggal.
Bukan di kitab.
Bukan di perdebatan.
Bukan di ramainya acara.
Bukan pula di banyaknya informasi
yang sekarang bisa kita dapatkan
dalam hitungan detik.
Tetapi di sebuah malam.
Di antara cahaya obor.
Di suara seorang Bapak
membaca Al-Barzanji.
Di kerumunan orang-orang
yang berjalan menuju pengajian.
Di dada seorang anak kecil
yang belum tahu apa-apa
tetapi merasa dekat
dengan sesuatu yang bahkan
belum mampu ia mengerti.
Sekarang saya sudah dewasa.
Sudah lebih banyak tahu.
Tetapi ada satu hal
yang justru semakin sulit
saya jelaskan.
Rasa yang dulu
kok seperti hilang ?
Saya kembali melihat kopi.
Masih ada sedikit.
Pagi belum selesai.
Rabiul Awal baru dimulai.
Dan mungkin…
bukan hanya saya
yang pernah mengalami
hal seperti ini.
Mungkin ada di antara kita
yang hari ini juga
sedang duduk di sebuah meja.
Mungkin dengan kopi.
Mungkin dengan teh.
Mungkin di ruang tamu.
Mungkin di kantor.
Mungkin di dalam mobil
yang sedang terjebak macet.
Lalu tiba-tiba melihat
satu kalimat di layar :
Selamat datang
bulan Maulid.
Lalu berhenti sebentar.
Dan tanpa disadari,
pikiran kita berjalan
lebih jauh daripada jari kita
yang sedang menggulir layar.
Kembali ke rumah.
Kembali ke kampung.
Kembali ke masjid.
Kembali kepada suara seseorang
yang dulu membacakan shalawat.
Kembali kepada wajah-wajah
yang mungkin sebagian
sudah tidak ada.
Dan mungkin,
di antara semua yang berubah
selama perjalanan hidup kita…
ada satu pertanyaan kecil
yang diam-diam ikut pulang :
Ke mana perginya rasa
yang dulu pernah begitu dekat ?
Kopi saya akhirnya habis.
Tetapi pagi ini
rasanya belum selesai.
Barangkali karena Rabiul Awal
memang baru saja dimulai.
Atau mungkin…
ada hal-hal tertentu
yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu
seseorang berhenti sebentar,
menyeruput kopi,
membaca satu kalimat,
lalu mengingat kembali
siapa dirinya
ketika dulu
belum banyak tahu apa-apa.
Dan mungkin sekarang…
Masihkah ada rasa itu
di dalam diri kita ?