Ada sesuatu yang baru saya lihat dari pagi itu.
Bukan tentang seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Justru tentang seseorang yang terlalu lama dikenal karena kemampuannya menolong.
Saya mulai berpikir, mungkin kita memang punya kebiasaan melihat manusia melalui perannya.
Guru kita kenal karena ilmunya.
Dokter karena kemampuannya mengobati.
Orang tua karena menjadi tempat pulang.
Teman karena bersedia mendengarkan.
Dan seseorang yang sering memberi nasihat, lama-lama kita kenal sebagai orang yang selalu punya jawaban.
Pada awalnya tidak ada yang salah.
Memang begitu fungsi sosial mereka.
Persoalannya muncul ketika fungsi itu perlahan berubah menjadi ekspektasi.
Orang mulai terbiasa bahwa ia selalu siap.
Selalu tenang.
Selalu tahu harus berbuat apa.
Selalu bisa dimintai waktu.
Dan karena selama ini ia memang mampu menjalankan peran itu, hampir tidak ada yang bertanya bagaimana keadaannya ketika ia sedang tidak menjalankannya.
Saya kemudian teringat pada satu hal sederhana.
Kemampuan memberi dukungan tidak berarti seseorang tidak membutuhkan dukungan.
Dalam penelitian tentang hubungan sosial, perhatian terhadap dukungan memang tidak hanya diarahkan kepada orang yang menerima bantuan. Pemberian dukungan sendiri dapat berkaitan dengan kualitas hubungan dan kesejahteraan orang yang memberi. Feeney dan Collins, misalnya, melihat hubungan yang mendukung sebagai proses yang memungkinkan seseorang memberi maupun menerima dukungan dalam proses berkembang dan menghadapi kesulitan.
Saya membaca itu lalu kembali kepada kejadian yang saya alami.
Ternyata pertanyaannya bukan sesederhana:
“Siapa yang menolong dan siapa yang ditolong ?”
Ada pertanyaan lain yang lebih menarik:
“Apakah seseorang selalu berada pada posisi yang sama dalam sebuah hubungan ?”
Hari ini saya mendengarkan.
Besok mungkin saya yang didengarkan.
Hari ini saya menguatkan.
Pada waktu lain mungkin saya yang sedang membutuhkan seseorang.
Penelitian mengenai pertukaran dukungan juga menunjukkan bahwa manfaat dukungan emosional berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang keseimbangan antara memberi dan menerima dukungan dalam hubungannya.
Di sini saya mulai melihat persoalannya dengan cara yang berbeda.
Mungkin yang melelahkan bukan semata-mata karena seseorang banyak memberi.
Memberi justru bisa menjadi pengalaman yang bermakna.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika memberi menjadi satu-satunya posisi yang tersedia.
Seseorang selalu datang sebagai orang yang kuat.
Orang lain datang membawa masalah.
Ia mendengarkan.
Ia memberi arah.
Ia menenangkan.
Orang itu pulang.
Lalu datang orang berikutnya.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Tetapi dalam pola yang berlangsung lama, ada sesuatu yang mungkin tidak terlihat.
Orang lain mengenalnya melalui apa yang ia berikan.
Bukan melalui apa yang mungkin ia perlukan.
Saya kira di sinilah ekspektasi sosial mulai bekerja.
Kita mengatakan:
“Dia kuat.”
“Dia matang.”
“Dia pasti tahu.”
“Dia kan tempat kita bertanya.”
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti penghargaan.
Tetapi sekaligus dapat menjadi semacam peran yang harus terus dimainkan.
Ketika seseorang sudah terlalu lama dikenal sebagai orang yang kuat, ketidaksiapannya justru terasa tidak biasa.
Ketika ia bingung, kita heran.
Ketika ia lelah, kita mungkin tidak segera menyadarinya.
Ketika ia memilih diam, kita menganggap semuanya baik-baik saja.
Padahal manusia tidak berhenti menjadi manusia hanya karena mempunyai peran tertentu.
Seorang guru tetap bisa bingung.
Seorang dokter tetap bisa takut.
Seorang pemimpin tetap bisa membutuhkan teman.
Seseorang yang selama ini menjadi tempat orang lain bersandar tetap bisa membutuhkan tempat untuk berhenti.
Saya juga menemukan konsep yang berdekatan dengan persoalan ini dalam penelitian mengenai emotional labor.
Dalam pekerjaan tertentu, seseorang bukan hanya diminta menyelesaikan tugas, tetapi juga mengelola emosi dan ekspresi dirinya sesuai tuntutan peran. Literatur menunjukkan bahwa tuntutan semacam itu dapat menjadi sumber tekanan dan, dalam kondisi tertentu, berkaitan dengan burnout.
Saya tidak ingin membawa konsep itu terlalu jauh.
Kejadian yang saya alami bukan penelitian tentang burnout.
Saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan orang yang saya temui pagi itu.
Dan saya tidak ingin mengarang keadaan batin seseorang hanya karena melihat satu percakapan.
Tetapi konsep tersebut membantu saya memahami satu hal:
Sebuah peran dapat mempunyai tuntutan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Bahkan ketika tidak ada kontrak.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada uraian pekerjaan.
Ekspektasi tetap bisa tumbuh.
Seseorang dianggap sebagai tempat bertanya.
Maka ia diharapkan tahu.
Seseorang dianggap sebagai tempat mengadu.
Maka ia diharapkan siap mendengar.
Seseorang dianggap bijaksana.
Maka ia seolah harus selalu memiliki ketenangan.
Mungkin karena itu saya mulai memperhatikan bentuk dukungan yang berbeda.
Selama ini saya sering menganggap dukungan berarti melakukan sesuatu.
Memberi nasihat.
Mencari solusi.
Membantu menyelesaikan masalah.
Padahal, dari apa yang saya lihat pagi itu, mungkin ada bentuk dukungan yang jauh lebih sederhana.
Tidak meminta apa-apa.
Tidak mencari jawaban.
Tidak membawa persoalan.
Tidak membuat seseorang harus kembali menjalankan perannya.
Hanya hadir.
Dalam kerangka thriving through relationships, Feeney dan Collins juga menekankan pentingnya responsiveness dalam hubungan: kemampuan untuk merespons kebutuhan orang lain, tetapi sekaligus memiliki hubungan yang memungkinkan seseorang menerima dukungan ketika dirinya yang membutuhkan.
Saya jadi melihat satu kebiasaan kecil dalam hubungan manusia dengan cara yang sedikit berbeda.
Kita mudah menghubungi seseorang ketika membutuhkan sesuatu.
Kita mencari guru ketika membutuhkan ilmu.
Mencari orang tua ketika membutuhkan perlindungan.
Mencari teman ketika membutuhkan tempat bercerita.
Mencari orang yang kita anggap lebih kuat ketika kita sedang tidak kuat.
Itu wajar.
Tetapi mungkin ada satu pertanyaan yang selama ini jarang saya ajukan:
“Siapa yang datang kepada orang yang selama ini selalu kita datangi ?”
Bukan untuk meminta nasihat.
Bukan untuk meminta doa.
Bukan untuk membawa masalah.
Hanya datang.
Karena mungkin ada perbedaan antara dibutuhkan dan didukung.
Seseorang bisa sangat dibutuhkan oleh banyak orang, tetapi belum tentu memiliki ruang yang cukup untuk menerima dukungan dari mereka.
Dan mungkin, dukungan yang paling tulus kepada seseorang yang selalu terlihat kuat bukanlah membuatnya semakin kuat.
Melainkan memberinya ruang untuk tidak perlu kuat sebentar.
Saya kembali kepada pagi itu.
Saya tidak tahu apakah beliau sedang membutuhkan apa pun.
Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
Yang saya tahu, untuk beberapa waktu kami tidak berada dalam hubungan “orang yang bertanya” dan “orang yang menjawab”.
Tidak ada yang meminta apa-apa.
Dan mungkin justru karena itu, saya bisa melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu saya perhatikan.
Bahwa seseorang bisa menjadi tempat bersandar bagi banyak orang…
tanpa harus selalu berdiri sendirian.
Barangkali yang perlu saya ubah bukan cara melihat orang yang kuat.
Tetapi cara saya memperlakukan mereka.
Jangan hanya melihat:
“apa yang bisa saya dapatkan darinya ?”
Sesekali mungkin lebih baik melihat:
“Apakah selama ini saya pernah menjadi tempat ia berhenti ?”
Karena manusia, pada akhirnya, tidak hidup hanya dari perannya.
Pada akhirnya, seseorang tidak hanya membutuhkan orang yang mempercayai kemampuannya.
Ia juga membutuhkan hubungan di mana ia tidak harus terus membuktikan kemampuan itu.