“Beneran, Bro… habis ngaji ?”
“Iya…”
“Dah umur segini, masih ngaji ?”
Saya hanya tersenyum.
“Masih.”
“Ngaji apa ?”
Saya mengambil cangkir kopi.
Menyeruputnya pelan.
“Basmalah.”
Ia langsung tertawa.
“Lho… masih Basmalah ?”
Saya ikut tertawa.
“Iya…
masih.”
Ah…
mendengar pertanyaan itu saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu.
Kalau waktu itu ada orang bertanya kepada saya, berapa lama mengaji Basmalah…
mungkin saya juga akan menjawab, “Paling beberapa pertemuan.”
Ya…. wajarlah.
Namanya juga Basmalah.
Dalam bayangan saya, pertemuan pertama pasti langsung membahas lafaz Allah.
Lalu Ar-Rahman.
Kemudian Ar-Rahim.
Begitu kira-kira.
Ternyata…
saya terlalu percaya diri.
Pertemuan pertama justru dibuka dengan sebuah pertanyaan.
Mengapa hampir setiap pekerjaan baik diawali dengan Basmalah ?
Saya mengangguk.
Ya…masuk akal.
Dalam hati saya malah sempat senang.
“Nah… habis ini pasti mulai.”
Ternyata…. belum.
Yang dibahas justru satu huruf.
Ba.
Saya masih ingat…
waktu itu saya sempat tersenyum sendiri.
Kami datang membawa satu kalimat.
Eh, yang dibedah malah satu huruf.
Kalau dipikir-pikir sekarang…
lucu juga.
Dalam hati saya sempat bertanya,
“Kalau begini terus…
kapan sampainya ?”
Baru belakangan saya sadar.
Yang ingin cepat sampai itu ternyata bukan kaki saya.
tapi…, pikiran saya.
Mungkin memang beginilah kita hari ini.
Sedikit-sedikit ingin cepat.
Cepat selesai.
Cepat paham.
Cepat memberi pendapat.
Sekarang, orang bisa merasa mengerti hanya karena menonton beberapa video pendek. Besoknya, sudah berani menjelaskan kepada orang lain.
Saya tidak sedang menyalahkan siapa-siapa.
Saya juga pernah begitu.
Merasa sudah memahami.
Padahal…
baru berkenalan.
Pengajian terus berjalan.
Huruf Ba ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.
Di antara pembahasan yang paling masyhur, para ulama menjelaskan Ba’ sebagai lil-isti’anah.
Makhluk yang hadits memohon pertolongan kepada Allah Yang Qadim.
Lalu dibahas pula mengapa fi’ilnya dihilangkan.
Saya masih ingat…
di titik itu saya, mulai jarang menulis.
Bukan karena tidak ada yang dicatat.
Justru… karena terlalu banyak yang harus dipikirkan.
Puluhan tahun saya membaca huruf itu.
Tetapi tidak pernah benar-benar berhenti di depannya.
Beberapa pertemuan kemudian saya kembali berharap.
“Nah…
sekarang pasti masuk kepada Allah.”
Ternyata… belum.
Kami berhenti lagi.
Pada satu kata.
Ism.
Apa sebenarnya nama ?
Apa hubungan nama dengan yang dinamai ?
Mengapa kita membaca Bismillah…
bukan Billah ?
Di situlah saya mulai merasa ada yang sedang diperbaiki.
Bukan kitabnya.
Bukan cara Sang Kyai menjelaskan.
Tetapi, cara saya belajar.
Saya terlalu sering ingin segera memetik buah.
Padahal…
akarnya saja belum saya kenali.
Barulah setelah itu pembahasan masuk kepada lafaz Allah.
Mengapa Allah disebut Allah ?
Apakah lafaz itu musytaq atau jamid ?
Mengapa para ulama menghabiskan begitu banyak halaman hanya untuk membahas satu nama ?
Di situ… saya mulai berhenti melawan.
Saya tidak lagi bertanya,
“Kapan selesai ?”
Saya mulai bertanya,
“Apa yang sedang diajarkan kepada saya ?”
Dan…
jawabannya, pelan-pelan muncul.
Beberapa pertemuan pertama ternyata bukan sedang menjelaskan Basmalah.
Beberapa pertemuan pertama…
sedang mendidik muridnya.
Mengajari kami menghormati satu huruf.
Mengajari kami tidak tergesa-gesa melewati satu kata.
Mengajari kami bahwa jalan menuju Allah…
tidak selalu dimulai dari pembahasan tentang Allah.
Majelis sore itu selesai.
Basmalahnya belum.
Aneh…
yang berubah justru saya.
Dalam perjalanan pulang saya terus memikirkan satu hal.
Barangkali inilah yang membedakan tradisi para ulama dengan kebiasaan kita hari ini.
Kita sering mengejar banyak jawaban.
Mereka lebih dahulu memperbaiki cara seseorang menerima jawaban.
Sejak hari itu…
setiap kali membaca Bismillah…
saya tidak lagi terburu-buru menuju lafaz Allah.
Saya berhenti sebentar pada huruf Ba.
Lalu melanjutkan pelan.
Sebab, baru belakangan saya mengerti…
kadang Allah tidak sedang mempercepat kita memahami ilmu.
Dia sedang memperlambat kita…
agar pantas menerimanya.