Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang wanita.
Parasnya manis.
Saya tulis dulu bagian itu supaya jujur.
Karena kalau tidak ditulis, nanti pembaca curiga.
Tidak begitu tinggi.
Usianya sekitar tiga puluhan.
Rapih.
Percaya diri.
Dan yang paling mencolok…
ia tahu apa yang sedang ia kejar.
Semakin bertambah umur saya semakin jarang kagum kepada kecantikan.
Bukan karena sudah suci.
Tetapi karena saya mulai melihat sesuatu yang lebih langka.
Ketekunan.
Kecantikan cukup banyak.
Ketekunan tidak.
Dalam obrolan itu saya mendengar sebagian kisah perjalanannya.
Tentang bisnis.
Tentang target.
Tentang cita-cita yang sedang ia bangun.
Tentang berbagai pintu yang harus diketuk.
Dan seperti biasa…
dunia tidak selalu menyediakan pintu yang bersih.
Ada satu kejadian yang cukup menarik perhatian saya.
Suatu ketika ia harus menemui seseorang.
Seorang lelaki.
Yang konon bisa membantu membuka jalan menuju tujuan yang sedang ia perjuangkan.
Mereka bertemu.
Mengobrol.
Lalu berpindah tempat.
Bukan di lobi.
Bukan di restoran.
Bukan di ruang rapat.
Ya…
kita semua sudah cukup dewasa untuk memahami arah ceritanya.
Yang membuat saya kagum bukan bagian itu.
Justru bagian setelahnya.
Karena ternyata ia sudah memperhitungkan kemungkinan tersebut jauh sebelumnya.
Ia sudah menghitung risikonya.
Sudah memetakan skenarionya.
Sudah menyiapkan batasnya.
Sudah menyiapkan jalan keluarnya.
Dan ketika arah pembicaraan mulai bergeser…
ia tidak panik.
Tidak bingung.
Tidak kehilangan kendali.
Ia hanya berkata:
“Tidak.”
Sederhana.
Tetapi tidak semua orang mampu melakukannya.
Semakin lama saya memikirkan kisah itu…
semakin saya merasa bahwa keberanian sering dipahami secara keliru.
Kita membayangkan keberanian sebagai orang yang tidak takut.
Padahal sering kali keberanian adalah orang yang sudah menghitung ketakutannya…
dan tetap melangkah.
Saya teringat Sayyidina Umar.
Salah satu hal yang selalu membuat saya kagum bukan keberaniannya.
Melainkan kehati-hatiannya.
Karena orang yang benar-benar berani biasanya tidak sembrono.
Yang sembrono sering kali justru orang yang belum menghitung risiko.
Saya pernah melakukan hal sebaliknya.
Masuk ke proyek dengan keyakinan tinggi.
Tanpa menghitung kemungkinan gagal.
Tanpa menghitung kemungkinan rugi.
Tanpa menghitung kemungkinan ditipu.
Pokoknya semangat.
Beberapa bulan kemudian saya menemukan bahwa semangat dan perencanaan ternyata dua departemen yang berbeda.
Wanita itu mengingatkan saya pada sesuatu.
Bahwa di balik banyak keberhasilan…
ada daftar risiko yang tidak pernah diposting di Instagram.
Tidak pernah masuk ke presentasi.
Tidak pernah masuk ke proposal.
Tidak pernah masuk ke cerita sukses.
Yang masuk biasanya hanya hasil akhirnya.
Orang melihat bangunannya.
Tidak melihat malam-malam panjangnya.
Orang melihat pencapaiannya.
Tidak melihat kecemasan yang harus ditelan.
Orang melihat keberhasilannya.
Tidak melihat harga yang hampir harus dibayar.
Dan mungkin…
itulah sebabnya saya lebih tertarik mendengar perjalanan daripada pencapaian.
Karena pencapaian sering terlihat.
Tetapi karakter…
biasanya terbentuk di bagian cerita yang tidak terlihat.
Saya pulang dari pertemuan itu sambil berpikir.
Bukan tentang bisnisnya.
Bukan tentang targetnya.
Bukan juga tentang parasnya yang manis.
Saya justru memikirkan satu hal lain.
Bahwa semakin besar tujuan seseorang…
semakin penting ia mengetahui batas yang tidak boleh dijual.
Karena ada kemenangan yang menghasilkan uang.
Ada kemenangan yang menghasilkan nama.
Dan ada kemenangan yang membuat seseorang masih bisa menatap cermin dengan tenang.
Entah kenapa…
yang terakhir itu terasa paling mahal.