Kalimat itu terdengar memalukan.
Dan sayangnya…
itu bukan metafora.
Sore itu saya datang membeli gorengan.
Niatnya sederhana.
Beli.
Bayar.
Pulang.
Selesai.
Tetapi hidup, seperti biasa, memiliki hobi yang cukup mengganggu.
Ia sering menyelipkan pelajaran di tempat yang tidak kita undang.
Waktu itu kepala saya sedang penuh.
Bukan penuh ilmu.
Kalau penuh ilmu mungkin lebih berguna.
Penuh pikiran.
Ada target yang belum tercapai.
Ada rencana yang belum jelas.
Ada beberapa hal yang saya serahkan kepada Tuhan…
tetapi setiap dua jam sekali tetap saya cek perkembangannya.
Saya duduk.
Menunggu gorengan matang.
Dan seperti kebanyakan laki-laki yang sedang lelah…
saya mulai membahas kehidupan kepada orang yang tidak meminta.
“Hidup makin rumit ya Pak…”
kata saya.
Beliau tidak langsung menjawab.
Masih membolak-balik gorengan.
Masih memperhatikan minyak.
Masih tenang.
Jenis tenang yang biasanya membuat orang lain tidak nyaman.
Lalu beliau bertanya:
“Rumit menurut siapa?”
Saya tertawa.
Karena saya kira itu bercandaan.
Tetapi beliau tidak ikut tertawa.
Dan mendadak saya merasa seperti mahasiswa yang baru sadar soal ujian bukan latihan.
Saya mulai menjelaskan.
Panjang.
Sangat panjang.
Tentang ekonomi.
Tentang bisnis.
Tentang teknologi.
Tentang persaingan.
Tentang masa depan.
Tentang ketidakpastian.
Tentang berbagai hal yang membuat saya terlihat berpikir dalam.
Atau setidaknya saya berharap begitu.
Beliau mendengarkan.
Mengangguk.
Sesekali tersenyum.
Tidak menyela.
Dan itu menyebalkan.
Karena orang yang diam sering membuat kita mengira diri sendiri sedang pintar.
Sampai akhirnya beliau berkata:
“Saya boleh tanya satu hal?”
“Boleh.”
“Sebenarnya…”
“yang bikin capek hidupnya…
keadaan…
atau pikiran Mas sendiri?”
Nah.
Di situ suasana berubah.
Karena ada pertanyaan yang masuk ke telinga.
Dan ada pertanyaan yang langsung masuk ke dada.
Yang ini tipe kedua.
Saya ingin menjawab cepat.
Tetapi aneh.
Tidak ada jawaban yang keluar.
Padahal biasanya saya cukup berbakat menjawab pertanyaan yang tidak saya pahami.
Saya teringat sesuatu.
Beberapa bulan terakhir.
Saya bekerja keras.
Benar.
Saya berusaha.
Benar.
Saya berdoa.
Juga benar.
Tetapi saya juga melakukan hal lain.
Membayangkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Mengulang percakapan yang belum terjadi.
Menyusun skenario kegagalan yang bahkan hidup sendiri belum sempat memikirkannya.
Dan yang paling hebat…
semua itu saya lakukan gratis.
Saya mulai curiga.
Jangan-jangan sebagian penderitaan saya memang bukan kiriman dari langit.
Melainkan produksi rumahan.
Saya teringat Imam Ghazali.
Beliau pernah banyak berbicara tentang nafs.
Tentang ego.
Tentang ilusi diri.
Tentang manusia yang tertipu oleh pikirannya sendiri.
Saya membaca itu.
Berkali-kali.
Menggarisbawahi.
Mencatat.
Mengutip.
Merasa paham.
Lalu panik karena pesan WhatsApp belum dibalas lima menit.
Perjalanan spiritual saya memang penuh tantangan teknis.
Tukang gorengan itu lalu menunjuk minyak panas.
“Kalau terlalu panas…”
“gosong.”
“Kalau terlalu dingin…”
“nggak matang.”
“Masalahnya…”
katanya,
“orang sering mengira semakin panas semakin bagus.”
Entah kenapa saya diam.
Lama.
Karena mendadak saya melihat hidup saya sendiri.
Target lebih besar.
Kerja lebih keras.
Ambisi lebih tinggi.
Kekhawatiran lebih banyak.
Dan semua itu saya sebut:
perjuangan.
Padahal mungkin sebagian di antaranya hanya ketidakmampuan untuk berhenti sebentar.
Saya pulang membawa gorengan.
Dan satu masalah tambahan.
Karena sekarang saya tidak bisa lagi menyalahkan keadaan sepenuhnya.
Yang lebih menyebalkan…
saya mulai melihat keterlibatan diri sendiri.
Dan mungkin…
itulah sebabnya saya kalah sore itu.
Bukan karena tukang gorengannya lebih pintar.
Bukan karena saya lebih bodoh.
Tetapi karena beliau sedang berbicara tentang hidup yang sudah dijalani.
Sedangkan saya…
masih sibuk menjelaskan hidup yang ada di kepala.