Yang tertinggal dibalik Laporan

Malam itu selepas Isya, WhatsApp bergetar.
Saya sempat menatapnya sebentar.

Ada masa ketika bunyi seperti itu langsung menyeret kita masuk tanpa jarak.

Seolah setiap pesan adalah sesuatu yang harus segera dijawab, segera dibereskan, segera ditutup.

Sekarang tidak selalu begitu.

Kadang saya hanya melihatnya.
Lalu membiarkannya dulu.
Bukan karena sibuk.

Tapi karena tidak semua hal harus langsung masuk ke dalam diri.

Seorang sahabat pengusaha menghubungi.
Lama kami tidak bertemu langsung.

Komunikasi hanya lewat pesan yang terpotong-potong oleh waktu.

Sesaat kemudian satu panggilan masuk.

Setelah basa-basi keluarga dan hal-hal ringan, ia berkata pelan:
“Bro… bisa bantu review perusahaan ku ?”
Singkat.

Tapi justru yang singkat sering membuka ruang yang panjang di dalam kepala.

Beberapa hari kemudian, kami bertemu.
Ngobrol.
Diskusi.

Beberapa catatan dibuka.
Beberapa dokumen.
Beberapa file.
Di permukaan, ini hanya pekerjaan biasa.

Tapi, tidak ada yang benar-benar “biasa” kalau kita cukup lama diam di dalamnya.

Entah kenapa, sebelum laptop itu dibuka, saya sempat diam sebentar.

Tidak lama.
Hanya jeda kecil yang tidak diminta.
Tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka ke dalam.

Di dunia perusahaan tertutup, hal seperti ini sering terjadi.
Catatan ada.
Dokumen ada.
Transaksi juga ada.
Tapi tidak selalu duduk di tempat yang tepat.

Rekening pribadi bercampur dengan perusahaan.
Arus keluar masuk tidak selalu punya nama yang jelas.
Data berserakan di beberapa sisi.
Tapi semuanya tetap bergerak.

Seperti sesuatu yang hidup, tapi tidak sepenuhnya dipahami dari dalam.

Di titik itu, saya mulai menangkap sesuatu yang lain.
Bukan lagi sekadar ketidakteraturan data.
Tapi ketidakteraturan cara kita memandangnya.

Karena sering kali yang kita sebut “rapi” hanyalah apa yang berhasil kita tutup dengan cepat.

Setiap melihat sesuatu yang tidak rapi, saya tidak langsung ingin membereskan.
Ada jeda lagi.

Dan di dalam jeda itu, muncul pertanyaan yang tidak saya undang:
“Ini sebenarnya sedang bicara tentang apa… di dalam diri saya ?”
Saya tidak menjawabnya.

Saya hanya membiarkannya duduk sebentar.
Lalu perlahan menjauh sendiri.

Sampai satu titik, kami sadar:
ini bukan sekadar review.

Ini rekonstruksi.
Rekonstruksi laporan keuangan.
Tapi kata “laporan” di situ mulai terasa terlalu sempit.

Tim mulai bekerja.
File dibuka satu per satu.
Berkas ditelusuri.
Potongan-potongan angka disambungkan kembali seperti mencoba mengingat sesuatu yang pernah kita tahu, tapi lama tidak kita lihat.
Saya lebih banyak melihat daripada mengatur.
Seolah ini bukan hanya tentang sistem luar.

Nama itu muncul di tengah proses:
Historical Financial Report.
Rapi sekali kedengarannya.
Seolah hidup perusahaan bisa diringkas dalam satu dokumen yang tenang.

Padahal yang kita tahu, yang hidup jarang benar-benar rapi saat dijumlahkan.

Malam itu saya duduk sendiri.
Di sudut kafe di Bandung Utara.
Kopi sudah tidak panas lagi.
Laptop masih menyala, tapi saya tidak benar-benar menatapnya.

Ada momen ketika saya hanya duduk.
Bukan karena lelah.
Bukan karena selesai.
Tapi karena tidak ada dorongan untuk menjadi apa pun selain duduk.

Dan di dalam duduk itu, sesuatu mulai bergeser.

Tidak seperti keputusan.
Tidak seperti kesimpulan.
Lebih seperti sesuatu yang selama ini ada, tapi baru sedikit tersingkap.

Yang sedang direkonstruksi itu ternyata bukan hanya laporan.
Bukan hanya perusahaan itu.
Bukan hanya sistem yang berantakan atau rapi.

Tapi, cara saya memperlakukan apa pun yang saya sentuh.

Cara saya melihat keteraturan.
Cara saya menyembunyikan kekacauan dengan cepat agar tidak perlu lama-lama menatapnya.

Lalu, perlahan lebih dalam lagi:
seperti file-file di dalam diri sendiri yang tidak pernah benar-benar beres.
Bukan karena kacau.
Tapi karena tidak pernah diberi waktu untuk dilihat tanpa tergesa.

Dan mungkin lebih dalam dari itu lagi:
seperti kita yang sering merasa hidup ini harus segera “balance”.

Padahal tidak semua yang belum seimbang harus segera dipaksa selesai.

Sebagian hal justru perlu dibiarkan terlihat dulu, sebelum diubah.

Saya tidak mencoba menarik kesimpulan apa pun malam itu.

Karena setiap kesimpulan terasa seperti penutupan terlalu cepat dari sesuatu yang baru saja mulai terlihat.

Saya hanya membiarkan pertanyaan itu tinggal lebih lama:
kalau hidup ini seperti laporan…
berapa banyak yang sebenarnya kita jalani tanpa benar-benar kita lihat ?

Kopi itu akhirnya habis.
Saya tidak langsung pulang.

Ada sedikit waktu yang tidak saya isi apa pun.

Dan mungkin, untuk sementara, itu cukup.

↗ Bagikan Tulisan Ini