Siang itu, Bandung sedang panas.
Panas yang berbeda dengan Bandung yang saya kenal dua puluh tahun lalu.
Entah kabutnya yang hilang.
Atau usia saya yang memang bertambah.
Di tengah terik itu, sebuah notifikasi WhatsApp muncul.
”Mas, pinjam dulu sejuta.
Besok saya kembalikan.”
Saya membacanya.
Lalu membacanya sekali lagi.
Bukan karena nominalnya.
Tetapi karena nama pengirimnya.
Saya mengenalnya sudah lama.
Seorang kontraktor.
Bukan pemain proyek miliaran.
Tetapi cukup untuk menghidupi keluarganya dengan keringat sendiri.
Bertahun-tahun ia memilih jalan itu.
Membangun rumah.
Menyusun saluran.
Mengecor jalan.
Mengawasi tukang sejak matahari belum tinggi sampai senja pulang.
Entah sudah berapa bangunan yang berdiri dari tangannya.
Hari itu…
Ia sedang meminta pinjaman sejuta rupiah.
Saya membalas singkat.
“Hayu… malam ngopi.”
Malam itu kami bertemu.
Bukan di kafe yang sedang ramai di media sosial.
Hanya warung kopi sederhana di sekitar Jalan Cilaki.
Motor keluar masuk.
Suara gelas beradu.
Aroma kopi bercampur asap rokok.
Di sudut lain, anak-anak muda duduk berjejer.
Masing-masing sibuk menatap layar ponselnya.
Entah sedang bekerja.
Entah sedang bercanda.
Entah sedang sama-sama berpura-pura baik-baik saja.
Kami memesan kopi.
Obrolan dimulai seperti biasanya.
Keluarga.
Anak-anak.
Teman lama.
Sesekali tertawa.
Lalu suasana perlahan berubah.
“Lagi berat.”
Hanya dua kata.
Tetapi saya tahu, kalimat sependek itu biasanya membawa cerita yang panjang.
Proyek yang belum dibayar.
Tagihan yang terus berjalan.
Orang yang berjanji minggu depan.
Minggu depannya pindah lagi ke minggu berikutnya.
Sementara di rumah…
Anak tidak bisa makan dengan janji.
Listrik tidak mengenal kata sabar.
Dapur juga tidak pernah mengerti istilah cash flow.
Saya hanya mendengarkan.
Malam itu saya tidak merasa kasihan.
Justru saya merasa hormat.
Karena saya tahu…
Mengirim pesan pinjaman bukan perkara mudah bagi seorang lelaki.
Apalagi lelaki yang sepanjang hidupnya terbiasa menjadi tempat orang lain meminta bantuan.
Barangkali memang begitulah lelaki.
Lapar kadang masih sanggup ditahan.
Tetapi meminta bantuan…
Sering kali terasa lebih menyakitkan daripada rasa lapar itu sendiri.
Saya memandang wajahnya.
Yang sedang ia pertaruhkan malam itu bukan sejuta rupiah.
Melainkan kewibawaannya.
Harga dirinya.
Namun di situlah saya justru belajar sesuatu.
Ia memilih meminjam.
Padahal ia punya banyak jalan lain.
Sebagai kontraktor, ia bisa saja mengurangi spesifikasi bangunan.
Mengubah volume pekerjaan.
Memainkan nota pembelian.
Mengakali laporan.
Barangkali tidak akan langsung ketahuan.
Tetapi ia tidak memilih itu.
Ia lebih rela duduk di hadapan saya.
Menelan rasa malu.
Daripada pulang membawa uang yang tidak halal.
Tiba-tiba saya teringat sebuah nasihat Syaikh Ibnu Athaillah.
Beliau mengingatkan bahwa boleh jadi sebuah kehinaan yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik daripada kemuliaan semu yang justru membuatmu jauh dari-Nya.
Malam itu, saya seperti melihat nasihat itu sedang hidup.
Bukan di dalam kitab.
Tetapi di hadapan secangkir kopi yang mulai dingin.
Saya jadi berpikir.
Mungkin yang sedang Allah jaga bukan rekening sahabat saya.
Melainkan hatinya.
Karena uang yang hilang masih bisa dicari.
Proyek yang gagal masih bisa dibangun lagi.
Tetapi sekali seseorang terbiasa menghalalkan segala cara…
Barangkali yang paling sulit dibangun kembali bukan usahanya.
Melainkan dirinya sendiri.
Kami pun pulang.
Tidak ada nasihat panjang.
Tidak ada ceramah.
Hanya saling berjabat tangan.
Sepanjang perjalanan, saya baru sadar.
Sejuta rupiah itu ternyata bukan pokok ceritanya.
Yang mahal justru keberanian seorang lelaki…
untuk tetap memilih jalan yang halal…
ketika harga dirinya terasa lebih mahal daripada isi dompetnya.
Lalu diam-diam saya bertanya kepada diri sendiri.
Kalau suatu hari Allah menguji saya dengan cara yang sama…
apakah saya masih seteguh itu?
Atau…
jangan-jangan saya justru lebih takut terlihat miskin di hadapan manusia…
daripada terlihat kotor di hadapan Allah ?