Shalat Isya sudah lewat beberapa jam yang lalu.
Masjid mulai terlihat lengang.
Santri-santri satu per satu kembali ke kamar.
Suara mereka perlahan hilang.
Yang masih terdengar…
hanya kipas angin tua.
Dan sesekali…
suara kalkulator dari sebuah ruangan kecil.
Ruang bendahara.
…
Malam itu saya sedang duduk bersama beliau.
Di depan kami secangkir kopi.
Sudah tidak terlalu panas.
Belum juga habis.
Terdengar ketukan pelan.
“Assalamu’alaikum, Yai…”
“Wa’alaikumussalam.”
Bendahara masuk.
Membawa sebuah map cokelat.
Map itu tidak tebal.
Tetapi entah mengapa…
malam itu terlihat berat.
Beliau tidak langsung membuka map.
Beliau mempersilakan duduk lebih dulu.
Lalu menyeruput kopi.
Pelan.
Baru setelah itu…
map dibuka.
Tidak banyak yang dibicarakan.
Bendahara menunjuk satu angka.
Lalu berkata lirih,
“Yai…”
Ia berhenti.
Lama.
Seperti sedang mencari kalimat yang paling ringan.
Padahal…
semua kalimat malam itu sama beratnya.
“Besok…”
“beras dapur habis.”
…
Tidak ada yang langsung menjawab.
Beliau hanya memandang halaman terakhir.
Lama.
Saya ikut melihat.
Angka-angka itu biasa saja.
Tetapi entah mengapa…
malam itu rasanya lebih berat daripada angka.
Karena saya tahu…
besok pagi…
puluhan santri tetap akan bangun.
Tetap antre sarapan.
Dan tidak satu pun dari mereka perlu tahu…
bahwa semalam…
ada seseorang yang sedang memikirkan beras mereka.
Beliau menutup map.
Tidak keras.
Hanya pelan.
Seperti orang yang tidak ingin membuat kegelisahan menjadi lebih gaduh.
Kemudian beliau membuka dompet.
Isinya tidak banyak.
Beliau melihat sebentar.
Lalu menutupnya kembali.
Tidak ada komentar.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada kalimat,
“Bagaimana ini…”
Beliau hanya berkata,
“Insya Allah…”
“besok kita cari jalan.”
Saya tidak tahu…
kalimat itu ditujukan kepada bendahara.
Atau kepada dirinya sendiri.
Besok paginya…
beliau tetap mengajar seperti biasa.
Santri duduk melingkar.
Kitab dibuka.
Satu membaca.
Yang lain menyimak.
Beliau tersenyum ketika ada yang salah membaca.
Sesekali tertawa kecil.
Kalau saya tidak berada di ruang bendahara semalam…
mungkin saya akan mengira…
hidup beliau sedang baik-baik saja.
Siang harinya…
jamaah datang silih berganti.
“Yai…”
“Usaha saya sedang turun.”
“Yai…”
“Anak saya belum bekerja.”
“Yai…”
“Utang saya belum lunas.”
Beliau mendengarkan.
Tidak memotong.
Tidak tergesa memberi jawaban.
Sesekali hanya bertanya,
“Sudah makan ?”
Waktu itu saya belum mengerti.
Sekarang saya mulai paham.
Ada orang yang sebelum diajak kuat…
lebih dulu harus dipastikan…
masih bisa makan.
Beberapa bulan kemudian…
kami kembali berbincang.
Beliau bercerita tentang gurunya.
Tidak panjang.
Hanya satu kalimat yang masih beliau ingat sampai hari ini.
“Jaga perut umat.”
Selesai.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada uraian.
Hanya satu kalimat.
Tetapi…
semakin lama saya hidup…
semakin berat kalimat itu terasa.
Sejak malam itu…
setiap kali berkunjung ke pesantren…
mata saya selalu mencari ruangan kecil itu.
Kadang pintunya terbuka.
Kadang tertutup.
Kadang bendahara sedang menghitung.
Kadang hanya ada lampu yang menyala.
Saya tidak pernah masuk lagi.
Saya hanya melihat dari kejauhan.
Lalu berjalan pelan menuju masjid.
…
Entah mengapa…
kalau sekarang ada orang bertanya kepada saya,
“Di mana amanah sering kali terlihat paling berat ?”
Saya tidak teringat ruang pengajian.
Tidak pula mimbar.
Yang selalu muncul di kepala saya…
justru sebuah map cokelat.
Yang dibuka…
pelan.
Di sebuah ruangan kecil.
Pada malam hari.
Saat hampir semua orang sudah tidur.
Dan seseorang…
masih berusaha memastikan…
besok pagi…
tidak ada santri yang bertanya,
“Yai…”
“Hari ini kita makan apa ?”