Alhamdulillah, Do’a saya Allah Kabulkan

Selepas Subuh berjamaah, seorang sahabat tiba-tiba menarik tangan saya.
“Ayo, ngopi.”
Ajakan itu terdengar biasa.
Karena memang bukan pertama kalinya.

Rumah kami berdekatan dengan masjid.
Dan terkadang kami duduk-duduk di sebuah ruang kecil untuk bercengkerama selepas shalat. Sebuah sudut ruang nyaman, nyantai yang terletak di sebelah luar rumah utama.

Di ruangan tersebut kami menyeruput kopi dan bertukar cerita.
Tentang pekerjaan.
Tentang anak-anak.
Tentang hidup yang semakin ke sini terasa makin sulit ditebak.

Pagi itu, saya sudah melangkah ke arah ruangan biasa.
Tetapi ia menarik lengan saya.
“Bukan ke sana. Masuk ke dalam.”

Begitu masuk, saya baru sadar.
Rupanya pagi itu saya tidak diajak ngopi.
Setidaknya bukan ngopi seperti biasanya.

Di dalam ruangan sudah berkumpul istri dan keempat anaknya.
Mereka duduk melingkar di atas karpet.
Ruangan itu nyaman.
Hangat.
Rapi.
Namun bukan itu yang membuat saya terdiam.

Masing-masing memegang kitab.
Saya mengenali pemandangan itu.

Beberapa hari sebelumnya, sahabat saya mengirim foto keluarganya yang sedang mengaji bersama.
Saat itu saya hanya melihatnya dari layar ponsel.
Dan diam-diam, saya iri.

Pagi ini, saya duduk di tengah-tengahnya.
Ternyata mereka sedang mengkaji Safinatun Najah.
Bukan kitab yang tebal.
Bukan pembahasan tingkat tinggi.
Kitab dasar.
Pintu masuk bagi banyak santri untuk mengenal fikih.
Namun justru di situlah keindahannya.

Satu per satu membaca.
Mengeja.
Memaknai dengan cara khas pesantren, dengan terjemahan gandul berlogat Sunda.

Iramanya terasa akrab.
Membawa ingatan saya kembali ke masa kecil.
Dulu, ketika belajar di kampung, kami juga melakukannya seperti itu.
Bedanya, logatnya Jawa.
“Bismillahi…”
“Kelawan nyebut asmane Gusti Allah…”
“Sifate Gusti Allah, Ar-Rahmanu…”
“Dzat kang paring rahmat ing dalem dunya lan akhirat…”

Pagi itu, saya mendengar irama yang sama.
Hanya bahasanya berbeda.
Ruhnya tetap sama.

Sesekali terdengar tawa kecil.
Ada anak yang bercanda.
Ada yang menggoda saudaranya.
Ada yang tersenyum ketika diminta mengulangi bacaan.
Tidak ada yang dimarahi.
Tidak ada wajah tegang.
Ilmu hadir di ruangan itu tanpa kehilangan kehangatannya.

Lalu sampailah mereka pada pembahasan huruf ba dalam kalimat Bismillah.

Sahabat saya menjelaskan dengan pelan.
Bahwa ba dalam Bismillah adalah ba’ lil-isti’anah.
Huruf ba yang bermakna memohon pertolongan.

Seakan setiap kali kita mengucapkan Bismillah, kita sedang mengakui:
Aku tidak mampu berjalan sendiri.”

Anak-anak itu kemudian diajak memahami bahwa manusia adalah makhluk yang hadits.
Makhluk yang diciptakan.
Makhluk yang terbatas.
Makhluk yang bergantung.
Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Qadim.
Tidak berawal.
Tidak bergantung.
Menjadi sumber segala pertolongan.

Dari sana, obrolan melebar pada kajian akidah yang sering diajarkan di pesantren.
Tentang macam-macam isti’anah.

Ada pertolongan yang mustahil dinisbatkan kepada Allah.
Karena Allah tidak membutuhkan siapa pun.
Ada pertolongan antarsesama makhluk yang dibolehkan.
Karena manusia memang hidup saling membutuhkan.

Dan ada pertolongan paling utama.
Makhluk yang hadits memohon pertolongan kepada Allah Yang Qadim.
Inilah makna terdalam dari Bismillah.

Saya memperhatikan anak-anak itu mengangguk.
Mungkin mereka belum memahami seluruh kedalamannya.
Terus terang, saya pun merasa belum.

Karena semakin lama hidup, saya justru semakin sadar betapa seringnya saya mengucapkan Bismillah dengan lisan, tetapi lebih percaya pada kemampuan diri sendiri.

Saya mengucapkan Bismillah saat memulai pekerjaan.
Tetapi hati saya lebih tenang oleh pengalaman.
Saya mengucapkan Bismillah saat membuka usaha.
Tetapi saya lebih percaya pada perhitungan.
Saya mengucapkan Bismillah saat merencanakan masa depan.
Tetapi saya lebih bergantung pada angka-angka.

Barangkali inilah yang dimaksud para ahli tasawuf.
Bahwa Bismillah bukan sekadar kalimat pembuka.
Ia adalah pengakuan.
Bahwa kita lemah.
Bahwa kita bergantung.

Bahwa tidak ada daya untuk memulai.
Tidak ada kekuatan untuk melanjutkan.
Dan tidak ada kemampuan untuk menyelesaikan.
Kecuali dengan pertolongan Allah.

Aneh.
Saya datang untuk ngopi.
Tetapi justru sedang belajar tentang sesuatu yang selama ini saya cari.
Bukan sekedar tambahan rezeki.
Melainkan arah…

Saya memandang sahabat saya.
Ia tidak tampak seperti orang yang sedang memamerkan sesuatu.
Ia hanya menjalani kebiasaan yang mungkin baginya terasa biasa.
Padahal bagi saya, itu adalah kemewahan.

Kemewahan yang tidak bisa dibeli.
Kemewahan yang lahir dari waktu, keteladanan, dan kesabaran yang panjang.
Dan pagi itu, saya sadar.

Alhamdulillah.
Doa saya Allah kabulkan.

Ketika pamit pulang, matahari mulai meninggi.
Beberapa langkah menuju rumah, saya masih mendengar suara anak-anak mengeja makna dari dalam ruangan.
Bismillahi…

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya pulang sambil membawa rasa iri.

Iri yang tidak ingin saya sembuhkan.

↗ Bagikan Tulisan Ini