SHADZARAT
Majelis 2
Bagian 3 — الرَّحْمٰنِ
Serambi kembali tenang .
Ajengan Manglayang menundukkan pandangan ke atas kitab yang terbuka di hadapannya .
Beberapa saat tidak ada suara .
Beliau mulai membaca .
بِسْمِ اللَّهِ
Beliau berhenti .
“Ieu …”
“… sifat Gusti Allah .”
Telunjuk beliau bergeser perlahan .
Berhenti tepat pada satu lafaz .
الرَّحْمٰنِ
Beliau membacanya sekali lagi .
الرَّحْمٰنِ
Makna gandul pun mengalir pelan .
Kang Moho Welas .
Hening .
Ajengan kembali membaca .
الرَّحْمٰنِ
Kang Moho Welas .
Mang Ujang mengikuti lirih .
Mang Didin menundukkan kepala, matanya berpindah dari lafaz Arab ke makna gandul yang menggantung di sela-sela baris kitab .
Emod masih mengeja dalam hati .
Ajengan mengulang sekali lagi .
الرَّحْمٰنِ
Kang Moho Welas .
Beliau mengangkat pandangan .
“Hayu …”
“Sadayana .”
Serambi mengikuti bersama .
الرَّحْمٰنِ
Kang Moho Welas .
Ajengan mengangguk pelan .
“Sae .”
“Lafazna ulah buru-buru .”
“Hartosna ulah kaliwat .”
Keheningan kembali turun memenuhi serambi .
Mang Didin mengangkat tangan .
“Ajengan …”
“Muhun .”
“Naha gandulna mung nyebat Kang Moho Welas ?”
Ajengan memandang kitab beberapa saat .
Beliau tidak segera menjawab .
Senyumnya tipis .
“Patarosan anu sae .”
Beliau kembali menunjuk lafaz itu .
الرَّحْمٰنِ
Kang Moho Welas .
“Hartosna …”
“… urang teraskeun engké .”
“Cekap dugi dieu heula .”
Ajengan menutup kitab perlahan .
Tak ada lagi yang bertanya .
Serambi kembali sunyi .
Namun satu lafaz masih tinggal di dalam hati para jamaah .
الرَّحْمٰنِ