Saya pernah mendengar seseorang berkata:
“Masalah hidup saya dimulai sejak kenal seseorang….”
Ia manahan nafas sebentar,
Sesaat kemudian, ia meneruskan.
“Seorang janda….”
Kalimatnya serius.
Wajahnya juga serius.
Saya yang berusaha tidak tertawa.
Karena entah kenapa…
janda sering mendapat pekerjaan tambahan yang tidak tercantum dalam administrasi negara.
Menjadi penyebab berbagai masalah.
Rumah tangga berantakan.
Salah janda.
Lelaki hilang fokus.
Salah janda.
Gagal move on.
Salah janda.
Produktivitas menurun.
Kadang masih salah janda.
Saya tidak sedang membela siapa-siapa.
Saya hanya heran.
Ya heran, mengapa manusia begitu suka mencari tokoh antagonis untuk menjelaskan hidupnya.
Semakin bertambah umur saya semakin curiga.
Kadang yang kita cari bukan solusi.
Kadang kita hanya mencari tersangka.
Supaya ada yang bisa disalahkan.
Karena menyalahkan orang lain sering lebih nyaman daripada memeriksa diri sendiri.
Saya teringat kisah tentang Nabi Adam.
Yang menarik bukan ketika beliau melakukan kesalahan.
Manusia memang begitu.
Yang menarik adalah cara beliau merespons kesalahan itu.
Tidak menunjuk orang lain.
Tidak menunjuk keadaan.
Tidak menunjuk lingkungan.
Beliau menunjuk dirinya sendiri.
Dan terus terang…
bagian itu tidak nyaman.
Karena bertentangan dengan bakat alami sebagian manusia.
Termasuk saya. Hehehe.
Kalau proyek gagal.
Saya bisa menemukan tujuh belas penyebab eksternal dalam waktu lima menit.
Ekonomi.
Pasar.
Cuaca.
Timing.
Keadaan.
Algoritma.
Nasib.
Yang sering terlambat muncul justru kemungkinan bahwa saya sendiri ikut berkontribusi.
Beberapa tahun lalu saya pernah sangat kesal terhadap seseorang.
Sangat.
Saya menghabiskan banyak waktu menjelaskan kepada teman-teman betapa salahnya orang itu.
Lalu pulang.
Lalu tidak bisa tidur.
Lalu mendadak muncul pertanyaan yang sangat mengganggu.
“Kalau dia memang salah…”
“Kenapa yang capek saya?”
Pertanyaan itu menyebalkan.
Karena menunjuk ke arah yang tidak saya sukai.
Diri sendiri.
Saya teringat Imam Al Ghazali.
Beliau sering berbicara tentang bagaimana manusia begitu jeli melihat kesalahan orang lain.
Dan begitu rabun melihat kesalahannya sendiri.
Saya membaca itu.
Mengangguk.
Merasa tercerahkan….
Sesaat kemudian saya, membuka media sosial.
Dan langsung menemukan tiga orang yang menurut saya perlu membaca Imam Ghazali.
Perjalanan menuju kesadaran diri memang penuh tantangan.
Yang lucu…
ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan…
kita sering sibuk mencari siapa yang salah.
Padahal pertanyaan yang lebih berguna mungkin:
“Apa yang sedang diajarkan keadaan ini kepada saya?”
Tetapi saya mengerti.
Pertanyaan kedua jauh lebih berat.
Karena pertanyaan pertama membuat kita menjadi korban.
Sedangkan pertanyaan kedua menuntut kita bertumbuh.
Dan bertumbuh itu melelahkan.
Jauh lebih melelahkan daripada menyalahkan.
Jadi ketika seseorang berkata:
“Semua masalah saya bermula dari janda itu.”
Saya tidak langsung membantah.
Saya hanya teringat sesuatu.
Bahwa sepanjang hidup…
manusia selalu punya versi “janda”-nya masing-masing.
Ada yang menyalahkan pasangan.
Ada yang menyalahkan orang tua.
Ada yang menyalahkan atasan.
Ada yang menyalahkan pemerintah.
Ada yang menyalahkan masa lalu.
Ada yang menyalahkan keadaan.
Dan kadang…
setelah semua nama itu dicoret…
yang tersisa di daftar ternyata hanya satu.
Diri sendiri.
Yang menyebalkan…
biasanya di situlah perubahan baru bisa dimulai.