Selepas Maghrib saya tidak langsung pulang.
Saya pergi ke sebuah pesantren kecil di sudut Bandung Timur.
Bukan pesantren modern.
Tidak ada gedung bertingkat.
Tidak ada kafe di dalam area pesantren.
Dan sejauh yang saya lihat, belum ada program “santripreneur” yang membuat santri belajar fiqih sambil membahas strategi branding.
Hanya sebuah pesantren sederhana.
Tempat orang masih datang untuk belajar.
Malam itu saya duduk bersama beberapa ustadz.
Ngobrol santai.
Tentang kitab.
Tentang santri.
Tentang teman-teman lama yang sekarang mulai sibuk mengurus anak, usaha, dan kolesterol.
Di tengah obrolan itu ponsel saya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari seorang sahabat.
Dua foto.
Tidak ada caption.
Tidak ada nasihat.
Tidak ada kutipan motivasi.
Tidak ada kalimat:
“Semoga kita semua istiqamah.”
Hanya dua foto.
Saya membukanya.
Lalu diam.
Di foto pertama terlihat dua anaknya duduk di atas karpet.
Di samping mereka, istrinya ikut membuka kitab.
Mereka sedang belajar bersama.
Sederhana.
Biasa saja.
Tidak ada pencahayaan profesional.
Tidak ada pose.
Tidak ada tanda-tanda bahwa foto itu sedang mengejar algoritma.
Saya memperbesar fotonya.
Lalu memperbesar lagi.
Padahal biasanya kalau menerima foto keluarga orang lain saya cukup lihat sekilas.
Lalu membalas:
“Masya Allah.”
Kalimat yang sangat fleksibel.
Bisa berarti kagum.
Bisa berarti terharu.
Bisa juga berarti:
“Saya tidak tahu harus membalas apa.”
Tetapi malam itu berbeda.
Saya memperhatikan foto itu cukup lama.
Terlalu lama untuk ukuran orang yang mengaku tidak kepo.
Dan di situlah masalahnya dimulai.
Karena saya iri.
Benar-benar iri.
Saya pernah iri melihat orang beli rumah.
Pernah iri melihat orang beli mobil.
Pernah iri melihat teman yang bisnisnya tumbuh lebih cepat.
Pernah iri melihat orang yang foto-fotonya lebih sering muncul di bandara daripada di rumah.
Tetapi iri yang satu ini terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih sunyi.
Dan entah kenapa lebih sulit saya abaikan.
Karena yang saya lihat bukan kekayaan.
Bukan pencapaian.
Bukan status.
Bukan juga jumlah digit di rekening.
Walaupun, mari jujur saja…
yang terakhir itu tetap menarik untuk dibahas.
Tetapi bukan itu yang membuat saya iri malam itu.
Yang membuat saya iri adalah kenyataan bahwa di rumah sahabat saya…
selepas Maghrib…
ada kitab yang dibuka bersama.
Semakin lama saya melihat foto itu…
semakin banyak hal yang muncul di kepala.
Saya tidak penasaran berapa omzet usahanya.
Tidak penasaran mobil apa yang dipakainya.
Tidak penasaran aset apa yang sedang dikumpulkannya.
Yang saya pikirkan justru:
Betapa beruntungnya seseorang yang ketika pulang ke rumah…
mendapati ilmu sedang tumbuh di ruang tamunya.
Dan anehnya…
saya mulai merasa selama ini daftar doa saya agak membosankan.
Sebagian besar berisi hal-hal yang mudah dihitung.
Usaha yang lancar.
Rezeki yang lapang.
Proyek yang berhasil.
Tabungan yang cukup.
Tidak salah.
Semua itu penting.
Tetapi malam itu saya sadar.
Mungkin ada rezeki yang nilainya jauh lebih besar justru karena tidak bisa dihitung.
Anak yang mencintai ilmu.
Pasangan yang mencintai ilmu.
Rumah yang dipenuhi percakapan tentang kebaikan.
Semakin lama saya memikirkan foto itu…
semakin saya sadar bahwa tidak semua iri harus disembuhkan.
Ada iri yang justru perlu dipelihara.
Bukan untuk mengambil milik orang lain.
Bukan untuk mengurangi kebahagiaan mereka.
Tetapi untuk menjaga arah perjalanan kita sendiri.
Karena diam-diam manusia akan bergerak menuju apa yang ia kagumi.
Dan malam itu saya tahu persis apa yang ingin saya kagumi.
Bukan rumah yang lebih besar.
Bukan kendaraan yang lebih mewah.
Bukan bisnis yang lebih ramai.
Saya hanya ingin suatu hari nanti…
selepas Maghrib…
di rumah saya sendiri…
ada seseorang yang sedang membuka kitab.
Dan saya cukup beruntung untuk duduk di dekatnya.
Bukan sebagai tamu.
Bukan sebagai penonton.
Tetapi sebagai bagian dari cerita itu sendiri.