Ismi…

SHADZARAT

Majelis 1

Bagian 8 — اسْمِ

Ajengan Manglayang kembali mengulang bacaan dari awal.

بِاسْمِ

Suara beliau tenang.

Tidak tergesa.

Lalu telunjuknya berhenti tepat pada lafaz berikutnya.

اسْمِ

Beliau membacanya perlahan.

Ismi…

Diulang sekali lagi.

Ismi…

Beliau tidak segera memberi penjelasan.

Sebaliknya, telunjuk beliau justru berhenti di atas huruf

سْ

“Cobi tingali ieu.”

Semua mata mengikuti arah telunjuk beliau.

“Aya tanda leutik di luhur hurup

س

Beliau tersenyum tipis.

“Ieu sanés titik.”

“Ieu sukun.”

Keheningan kembali memenuhi serambi.

Ajengan melanjutkan,

“Santri ulah ngan ukur ningali hurup.”

“Tapi tingali ogé harakatna.”

“Sabab harakat téh bagian tina élmu.”

Beliau kembali membaca.

اسْمِ

Ismi…

Lalu telunjuk bergeser ke huruf terakhir.

مِ

“Tempo.”

“Di dieu aya kasrah.”

Beliau mengetuk perlahan ujung halaman.

“Ku naon kasrah ?”

Tak seorang pun menjawab.

Ajengan menggeser telunjuknya kembali ke lafaz sebelumnya.

بِ

“Naha inget ?”

“Ieu hurup ba tadi.”

“Hurup ieu kaasup ḥarf jar.”

“Ku sabab aya ba…”

“…mangka ism dibaca ismi.”

Beliau tidak melanjutkan pembahasan i’rab.

Belum malam itu.

Beliau hanya ingin para jamaah menyadari bahwa perubahan harakat bukanlah kebetulan.

Ajengan kembali membaca dari awal.

بِاسْمِ

Beliau mulai mengabsahi dengan perlahan.

Huruf demi huruf.

Lafaz demi lafaz.

Makna gandul dibacakan mengikuti tradisi kitab yang beliau ajarkan, tanpa tergesa mengejar penjelasan panjang.

Mang Ujang menatap kitabnya dengan saksama.

Emod tidak lagi hanya mendengar bunyinya.

Kini ia mulai memperhatikan harakat yang selama ini sering terlewat.

Ajengan memandang para jamaah.

“Diajar kitab…”

“…teu dimimitian ku loba nyarita.”

“Tapi ku diajar ningali.”

“Ningali hurupna.”

“Ningali harakatna.”

“Ningali kumaha para ulama ngajaga unggal bacaan.”

Beliau kembali membaca,

اسْمِ

Ismi…

Suara itu memenuhi serambi sekali lagi.

Belum ada pembahasan tentang makna ism.

Belum pula sampai kepada lafaz

اللَّهِ

Karena malam itu, Ajengan sedang mengajarkan satu pelajaran yang sering terlupakan:

bahwa sebelum memahami makna sebuah kata, seorang penuntut ilmu harus lebih dahulu belajar menghormati setiap huruf dan setiap harakat yang menyusunnya.

↗ Bagikan Tulisan Ini