Jalan yang Terkadang Berbelok

Beliau adalah orang yang sulit untuk tidak dihormati.

Pendiriannya keras. Sikapnya tegas. Pendidikannya tinggi. Pernah memimpin sebuah perusahaan.

Kalau berbicara…
kalimat-kalimatnya seperti sudah selesai diputuskan sebelum diucapkan.
Tidak banyak ruang untuk ragu.

Soal ibadah…
saya bahkan tidak layak membandingkan.

Tahajudnya nyaris tidak pernah tertinggal. Tilawahnya tidak pernah terlewat. Puasanya jauh lebih banyak daripada saya.

Saya tidak sedang memuji.
Memang begitulah adanya.

Mungkin justru karena itu…
saya sering heran.

Mengapa…
setiap kali kami berbicara tentang kehidupan…
rasanya ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar bertemu.

Bukan perdebatannya.
Tetapi cara memandang jalannya.

Saya bukan orang yang suka memaksa hasil.
Ikhtiar…
tetap harus dilakukan.

Syariat…
tetap harus ditunaikan.

Tetapi setelah itu…
bukankah ada wilayah yang memang tidak lagi berada di tangan kita…?

Jalan…
tidak selalu lurus.

Kadang berbelok.
Bukan karena kita ingin berbelok.
Memang…
kenyataannya mengarah ke sana.
Kadang di depan terlihat buntu.

Lalu apa…?
Apakah setiap tembok harus dipaksa menjadi pintu…?
Apakah setiap belokan harus dianggap kesalahan…?

Semakin bertambah usia…
saya justru semakin sering melihat…
bahwa hidup…
jarang sekali mengikuti gambar yang kita buat.

Kitalah yang terlalu sering memaksa…
agar gambar itu menyerupai kenyataan.

Barangkali…
yang disebut tawakal…
bukan menunggu semua rencana berhasil.

Melainkan tetap melangkah…
meski jalan di depan…
sudah tidak lagi sama…
dengan yang kita bayangkan.

Ah…
sudahlah.
Besok pagi…
jalan akan kembali memperlihatkan dirinya.

Kalau lurus…
Alhamdulillah.
Kalau ternyata harus berbelok…
ya sudah.

Barangkali…
di sanalah…
Allah sedang menunjukkan jalan…
yang tidak pernah saya masukkan…
ke dalam rencana saya.

↗ Bagikan Tulisan Ini