Jalur Langit… Kok Jatuh ke Parit ?

“Pak…
menurut Bapak…
proyek ini saya ambil nggak?”
Saya terdiam.

Aneh.
Pertanyaan seperti itu ternyata lebih sulit dijawab…
daripada menghitung RAB miliaran rupiah.

Saya balik bertanya.
“Datanya sudah lengkap?”
“Sudah.”
“Hitungannya?”

“Sudah.”
“Legalitasnya?”
“Sudah.”
Saya mengangguk.

“Lalu…
kenapa masih bertanya?”
Ia tersenyum.
Tipis.

“Itu dia, Pak…”

Saya ikut tersenyum.
Semakin lama saya berada di dunia proyek…
semakin sering saya bertemu pertanyaan…
yang tidak ada jawabannya…
di spreadsheet.

Beberapa minggu kemudian…
orang lain datang.

“Boleh minta pendapat ?”
Saya kira…
ia akan mengeluarkan proposal.

Ternyata…
ia membuka foto seseorang.

“Ini calon partner saya.”
Saya hampir tertawa.

Yang sedang dihitung…
bukan lagi neraca.
Tetapi orangnya.

Lain hari.
“Saya pulang dulu.”
“Kenapa?”
“Mau minta doa ibu.”
Saya diam.

Aneh.
Kalimat sesederhana itu…
terasa lebih berat…
daripada laporan setebal ratusan halaman.

Ada lagi.
“Saya istikharah dulu.”
Bukan karena proposalnya jelek.
Bukan karena hitungannya salah.

Justru…
karena semuanya…
terlihat baik-baik saja.
Dan mungkin…
di situlah manusia paling mudah tertipu.

Zaman berubah.
Dulu orang membuka ensiklopedia.
Hari ini membuka AI.
Besok…
entah apa lagi.

Alatnya berubah.
Kebiasaan manusianya…
tidak banyak.
Kita tetap mencari…
seseorang…
atau sesuatu…
yang bisa membuat keputusan terasa lebih ringan.

Lalu saya mendengar kalimat yang semakin sering diucapkan.

“Harus lewat jalur langit.”
Saya mengangguk.
Bagus.
Tidak ada yang salah.

Lima menit kemudian…
orang yang sama sibuk mencari…
siapa orang dalamnya.
Saya menunduk.

Kopi saya…
mendadak terasa pahit.
Bukan karena gulanya kurang.

Mungkin…
karena hati saya sedang mendengar…
dua kalimat…
yang saling membatalkan.

Lama-lama saya mengerti.
Masalahnya bukan pada Excel.
Bukan pada AI.
Bukan pula pada doa.

Semuanya…
ada tempatnya.
Yang sering bermasalah…
adalah kita.

Kita ingin disebut memakai jalur langit.
Tetapi…
masih takut…
melepaskan jalur-jalur yang diam-diam lebih kita percaya.

Semakin bertambah umur…
saya justru semakin menghormati…
orang-orang yang menghitung dengan sungguh-sungguh…
lalu berdoa dengan sungguh-sungguh.

Mereka tidak sedang mempertentangkan akal…
dengan tawakal.

Mereka tahu…
menghitung adalah ikhtiar.

Dan setelah itu…
ada saatnya berhenti menghitung.
Lalu tunduk.

Mungkin…
itulah yang sampai hari ini…
belum selesai saya pelajari.

Bahwa setelah semua angka selesai dihitung…
semua risiko selesai dipetakan…
semua kemungkinan selesai dipikirkan…
masih ada satu pertanyaan…
yang tidak bisa dijawab oleh kalkulator.

Tidak juga oleh AI.
Pertanyaan itu…
barangkali hanya bisa dijawab…
oleh hati…
yang sudah lama belajar tunduk kepada Allah.

Kalau hati itu belum tunduk…
jangan-jangan…
yang kita sebut jalur langit…
hanya papan petunjuk.

Kita senang menunjuk ke atas.
Sementara kaki kita…
diam-diam…
masih berjalan…
ke arah parit.

↗ Bagikan Tulisan Ini