Suatu malam di Ujungberung.
Sebuah kecamatan di Bandung Timur.
Bukan tempat yang biasanya masuk buku sejarah.
Tetapi cukup untuk mempertemukan saya dengan seorang teman lama.
Kami bertemu di sebuah kafe.
Tidak terlalu mewah.
Tidak terlalu sederhana.
Naik satu tingkat dari warung kopi sasetan.
Turun dua tingkat dari tempat yang harga kopinya membuat orang meninjau ulang masa depan keuangannya.
Tetapi cerita ini bukan tentang kafenya.
Cerita ini tentang teman saya.
Karena terus terang…
sampai hari ini saya masih kesulitan menjelaskan manusia yang satu ini.
Kadang ia terlihat muda.
Bukan muda karena umur.
Karena umur sudah lama berhenti menerima negosiasi.
Tetapi muda karena masih bisa duduk bersama anak-anak muda.
Ngobrol teknologi.
Ngobrol media sosial.
Ngobrol bisnis.
Ngobrol ide-ide baru yang kadang membuat saya harus membuka Google diam-diam setelah pulang.
Yang lebih mengherankan…
di lingkaran itu ia sering dipanggil:
“Mas.”
Saya mendengarnya.
Lalu melihat wajahnya.
Lalu melihat wajah saya sendiri di kamera depan ponsel.
Kemudian menutup kamera itu kembali.
Ada beberapa kenyataan yang lebih baik diterima tanpa penyelidikan lanjutan.
Tetapi beberapa hari kemudian saya melihatnya duduk bersama orang-orang yang lebih tua.
Orang-orang yang rambutnya lebih banyak pengalaman daripada pigmen.
Di sana kadang ia dipanggil:
“Ustadz.”
Kadang:
“Gus.”
Kadang:
“Kang.”
Saya mulai kehilangan arah.
Karena identitasnya berubah lebih cepat daripada harga cabai.
Belum selesai.
Di lingkungan lain…
ia dipanggil:
“Pak Haji.”
Dalam beberapa minggu saya mendengar orang memanggilnya dengan banyak nama.
Mas.
Bos.
Ustadz.
Gus.
Pak Haji.
Seolah hidup belum memutuskan ia sebenarnya masuk kelompok yang mana.
Tetapi itu belum bagian yang paling membingungkan.
Yang lebih membingungkan lagi, sepanjang hidupnya selalu saja ada janda yang mendekat.
Saya pernah mencoba mencari polanya.
Gagal.
Kalau teorinya uang, fenomena itu tetap terjadi saat uang sedang tipis.
Kalau teorinya jabatan, fenomena itu tetap terjadi saat jabatan sedang tidak jelas.
Kalau teorinya ketampanan…
demi menjaga persahabatan kami…
bagian itu tidak perlu diteliti lebih lanjut.
Akhirnya saya menyerah.
Dan memasukkannya ke dalam kategori:
“Misteri yang hanya diketahui Tuhan dan sebagian janda.”
Tetapi kalau dipikir-pikir…
mungkin saya memang salah fokus.
Karena yang menarik dari hidupnya bukan itu.
Bukan orang-orang yang datang.
Bukan orang-orang yang tertarik.
Bukan orang-orang yang mampir ketika hidup terlihat menarik.
Yang lebih menarik justru orang yang tetap tinggal.
Istrinya.
Yang tetap bertahan saat usaha naik.
Saat usaha turun.
Saat keadaan lapang.
Saat keadaan sempit.
Saat sahabat ramai.
Saat sahabat menghilang.
Saat dipanggil Bos.
Saat tidak lagi terasa seperti Bos.
Karena yang luar biasa bukan orang yang hadir ketika lampu sedang terang.
Yang luar biasa adalah orang yang tetap duduk di sebelah kita ketika lampunya padam.
Jalan hidup teman saya juga tidak membantu.
Karena sama sekali tidak linear.
Pernah punya usaha.
Moncer.
Ramai.
Dikenal banyak orang.
Lalu tumbang.
Bangkit lagi.
Lebih besar.
Lebih ramai.
Lebih menjanjikan.
Lalu tumbang lagi.
Bangkit lagi.
Tumbang lagi.
Bangkit lagi.
Tumbang lagi.
Kalau grafik hidupnya dijadikan alat pendeteksi gempa…
mungkin sudah mendapat penghargaan dari BMKG.
Yang menarik…
bahkan ketika keadaan usahanya sedang tidak baik-baik saja…
masih ada orang yang memanggilnya:
“Bos.”
Saya pernah heran.
Karena kondisi saat itu menurut saya lebih cocok dipanggil:
“Saudara seperjuangan.”
Tetapi orang-orang tetap memanggilnya Bos.
Mungkin karena pernah jadi Bos.
Mungkin karena auranya.
Mungkin karena kenangan manusia sering kali lebih setia daripada kenyataan.
Malam itu kami ngobrol lama.
Tentang keluarga.
Tentang anak.
Tentang usaha.
Tentang umur yang diam-diam terus berjalan.
Sesekali ia mengeluh.
Sesekali tertawa.
Dan yang paling aneh…
ia lebih sering tertawa.
Padahal kalau melihat daftar kejadian dalam hidupnya…
ia punya cukup alasan untuk menjadi pahit.
Lalu di tengah obrolan ia berkata pelan:
“Memang kita tidak berdaya.”
Saya menunggu kalimat berikutnya.
Karena biasanya kalimat seperti itu diikuti motivasi.
Atau promosi seminar.
Ternyata tidak.
Ia hanya tersenyum.
Menyeruput kopi.
Dan membiarkan kalimat itu tetap menjadi kalimat.
“Memang kita tidak berdaya.”
Setelah itu obrolan berlanjut seperti biasa.
Tentang anak.
Tentang harga kebutuhan pokok.
Tentang teman-teman lama yang sekarang lebih sering muncul di grup WhatsApp daripada di dunia nyata.
Lalu malam semakin larut.
Kopi habis.
Orang-orang mulai pulang.
Kami juga beranjak.
Sebelum berpisah saya memperhatikannya sekali lagi.
Seorang lelaki yang pernah dipanggil Mas.
Pernah dipanggil Bos.
Pernah dipanggil Ustadz.
Pernah dipanggil Gus.
Pernah dipanggil Pak Haji.
Pernah berada di atas.
Pernah berada di bawah.
Pernah kehilangan banyak hal.
Pernah mendapatkan banyak hal.
Lalu tetap bisa tertawa seperti malam itu.
Di perjalanan pulang saya baru sadar sesuatu.
Mungkin selama ini saya salah melihat.
Saya kira kekuatan manusia terlihat dari seberapa banyak yang berhasil ia kumpulkan.
Seberapa lama yang berhasil ia pertahankan.
Seberapa tinggi yang berhasil ia capai.
Ternyata tidak selalu.
Kadang kekuatan justru terlihat dari apa yang masih tersisa…
setelah banyak hal diambil darinya.
Bisnis bisa pergi.
Teman bisa pergi.
Kesempatan bisa pergi.
Nama besar bisa naik dan turun.
Bahkan sebagian identitas yang kita banggakan bisa hilang satu per satu.
Tetapi malam itu…
saya melihat ada sesuatu yang tidak ikut hilang.
Sesuatu yang membuatnya tetap ringan.
Tetap bisa tertawa.
Tetap bisa menyeruput kopi dengan tenang.
Di lampu merah terakhir sebelum rumah, saya tiba-tiba teringat sesuatu.
Bertahun-tahun saya melihat orang berusaha menjadi seseorang.
Menjadi Bos.
Menjadi orang penting.
Menjadi orang yang dihormati.
Menjadi orang yang berhasil.
Malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda.
Saya melihat seorang lelaki yang berkali-kali kehilangan semua itu.
Lalu tetap bisa tertawa.
Dan entah kenapa…
itu terlihat jauh lebih sulit.
Lampu merah berubah hijau.
Motor-motor mulai bergerak.
Jalanan semakin sepi.
Angin malam Bandung mulai terasa dingin.
Lalu tanpa sengaja saya mengulang kalimatnya dalam hati.
“Memang kita tidak berdaya.”
Untuk pertama kalinya malam itu…
kalimat itu tidak terdengar seperti kelemahan.
Ia terdengar seperti seseorang yang akhirnya berhenti berpura-pura menjadi Tuhan.