Ada satu naluri yang hampir selalu hadir dalam hubungan orang tua dengan anak :
membuat hidup anak lebih mudah.
Memberi tempat yang lebih baik.
Sekolah yang lebih baik.
Makanan yang lebih baik.
Kamar yang lebih nyaman.
Lingkungan yang lebih aman.
Ketika orang tua telah melewati kesulitan dalam hidupnya, keinginan itu mungkin semakin kuat.
Kalau dulu harus susah,
mengapa anak harus mengalami kesusahan yang sama ?
Kalau ada pilihan yang lebih nyaman,
mengapa memilih yang lebih sulit ?
Pertanyaannya sederhana.
Tetapi ternyata jawabannya tidak sesederhana itu.
Dalam psikologi perkembangan, perhatian tidak hanya diberikan kepada apa yang diterima anak dari orang tua.
Peneliti juga melihat bagaimana anak belajar menghadapi dunia.
Kemampuan mengatur emosi.
Mengambil keputusan.
Menghadapi frustrasi.
Memecahkan masalah.
Beradaptasi ketika keadaan berubah.
Semua itu tidak muncul begitu saja.
Ia berkembang melalui pengalaman, hubungan, dan kesempatan untuk menghadapi berbagai keadaan dengan tingkat tantangan yang sesuai.
Sebuah systematic review mengenai resilience pada anak yang mengalami social adversity menemukan bahwa faktor yang berkaitan dengan hasil yang lebih resilient mencakup kemampuan kognitif, regulasi emosi, hubungan dengan caregiver, dan keterlibatan dalam pendidikan. Peneliti juga menekankan bahwa resilience tidak dibentuk oleh satu faktor saja, melainkan oleh kombinasi faktor individual, keluarga, sekolah, dan lingkungan.
Artinya,
anak tidak hanya membutuhkan perlindungan.
Ia juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang.
Tetapi di sinilah persoalannya menjadi rumit.
Karena memberikan kesempatan berkembang tidak sama dengan sengaja membuat anak menderita.
Ada perbedaan antara :
tantangan
dan
adversity yang berlebihan.
Ada perbedaan antara:
“Biarkan dia mencoba sendiri.”
dan:
“Biarkan dia menghadapi semuanya sendiri.”
Yang pertama dapat memberi ruang bagi kemandirian.
Yang kedua dapat menjadi pengabaian.
Penelitian tentang parent-child coregulation menunjukkan bahwa ketika anak menghadapi tantangan, dukungan orang tua tetap penting. Review sistematis pada anak usia sekolah menemukan bahwa regulasi bersama antara orang tua dan anak dalam menghadapi tantangan berkaitan dengan kemampuan self-regulation anak yang lebih baik. Karakteristik yang tampak membantu justru mencakup fleksibilitas dan responsivitas dalam hubungan tersebut.
Jadi mungkin bukan :
dilindungi atau dibiarkan.
Melainkan:
didampingi sambil perlahan belajar menghadapi.
Ini menjadi semakin menarik ketika penelitian mulai melihat apa yang disebut overparenting atau overprotection.
Meta-analysis terhadap 52 artikel menemukan bahwa overparenting berkaitan dengan depresi, kecemasan, dan internalizing symptoms pada offspring, meskipun besarnya hubungan relatif kecil.
Meta-analysis lain terhadap 44 studi dan lebih dari 21.000 peserta juga menemukan hubungan kecil antara overparenting dan beberapa indikator kesehatan mental, termasuk anxiety dan depression, tetapi menunjukkan heterogenitas yang cukup tinggi dan perbedaan menurut budaya, usia perkembangan, dan karakteristik lain.
Ini penting.
Karena data tersebut tidak mengatakan:
orang tua yang melindungi anak adalah buruk.
Yang ditunjukkan adalah sesuatu yang lebih sempit :
perlindungan yang berlebihan dapat berkaitan dengan outcome yang kurang baik.
Dan itu berbeda.
Bahkan penelitian mengenai parental autonomy support memberikan gambaran yang cukup konsisten.
Sebuah meta-analysis besar yang mencakup 238 studi dan lebih dari 126.000 peserta menemukan bahwa parental autonomy support berkaitan positif dengan child well-being, sedangkan psychological control berkaitan dengan child ill-being. Pola tersebut tetap terlihat dalam berbagai wilayah, tingkat individualisme, tahap perkembangan, dan jenis kelamin.
Maka orang tua memiliki persoalan yang tidak mudah:
bagaimana membantu tanpa mengambil alih ?
Bagaimana melindungi tanpa membuat anak percaya bahwa dunia selalu harus dibuat aman untuknya ?
Bagaimana memberi arah tanpa membuat setiap keputusan harus datang dari orang lain ?
Bagaimana menyediakan tempat pulang,
tanpa membuat anak tidak pernah belajar berjalan sendiri ?
Ada penelitian lain yang memberi nuansa lebih jauh.
Beberapa literatur mengenai stress inoculation menunjukkan bahwa paparan terhadap tantangan yang ringan dan dapat dikendalikan dapat, dalam kondisi tertentu, berkaitan dengan kemampuan menghadapi tekanan berikutnya. Tetapi paparan stres yang berat, kronis, atau traumatis justru dapat membebani sistem adaptasi.
Jadi bukan :
semakin susah semakin kuat.
Itu terlalu sederhana.
Yang lebih dekat dengan bukti adalah:
pengalaman menghadapi tantangan tertentu, dalam kadar dan konteks tertentu, dapat memberi kesempatan untuk mengembangkan kapasitas menghadapi tantangan berikutnya.
Dan batas antara tantangan yang membangun dengan tekanan yang merusak tidak selalu sama untuk setiap anak.
Mungkin karena itu, “lebih baik” perlu didefinisikan ulang.
Lebih baik belum tentu :
lebih mahal.
lebih besar.
lebih nyaman.
lebih lengkap.
lebih mudah.
Semua itu bisa memang lebih baik dalam satu dimensi.
Tetapi perkembangan anak memiliki dimensi lain.
Apakah ia mampu menghadapi frustrasi ?
Apakah ia dapat menunggu ?
Apakah ia mampu mengurus sesuatu sendiri ?
Apakah ia dapat mengambil keputusan ?
Apakah ia mampu beradaptasi ketika keadaan tidak sesuai harapan ?
Apakah ia tahu bagaimana meminta bantuan ?
Dan yang tidak kalah penting:
apakah ia merasa cukup aman untuk mencoba, gagal, lalu mencoba lagi ?
Di sini hubungan antara kenyamanan dan resilience menjadi lebih menarik.
Kenyamanan itu sendiri bukan masalah.
Anak membutuhkan keamanan.
Membutuhkan hubungan yang responsif.
Membutuhkan dukungan.
Membutuhkan lingkungan yang memungkinkan dirinya berkembang.
Bahkan penelitian tentang resilience pada anak yang mengalami adversity menunjukkan kuatnya peran hubungan dengan caregiver, dukungan sosial, dan faktor keluarga.
Jadi tujuan pendidikan bukan menciptakan anak yang terbiasa menderita.
Bukan pula membuat hidup anak sengaja sulit.
Melainkan mungkin:
menciptakan cukup rasa aman sehingga anak berani menghadapi sesuatu yang belum ia kuasai.
Itu berbeda.
Ada satu pergeseran kecil dalam cara kita melihat pengasuhan.
Kita sering bertanya:
“Apa yang bisa saya berikan kepada anak ?”
Mungkin ada pertanyaan lain:
“Kemampuan apa yang sedang saya bantu tumbuhkan melalui apa yang saya berikan ?”
Kamar yang nyaman memberikan kenyamanan.
Sekolah yang baik memberikan fasilitas dan lingkungan belajar.
Orang tua yang selalu membantu menyelesaikan masalah memberikan pertolongan.
Tetapi semua itu baru menjadi bagian dari pendidikan ketika kita juga melihat:
apa yang menjadi kemampuan anak setelah semua bantuan itu diberikan.
Karena pada akhirnya,
orang tua tidak dapat memilih seluruh dunia yang akan ditemui anaknya.
Tidak dapat memilih semua orang yang akan bertemu dengannya.
Tidak dapat menghilangkan seluruh kegagalan.
Tidak dapat menjamin setiap pekerjaan akan berjalan baik.
Tidak dapat memastikan semua hubungan akan bertahan.
Tidak dapat membuat seluruh hidup menjadi nyaman.
Yang mungkin dilakukan adalah membantu anak memiliki sesuatu yang lebih berguna daripada kenyamanan yang terus-menerus:
kemampuan menghadapi kenyataan ketika kenyamanan itu tidak tersedia.
Dan kemampuan itu tidak lahir pada hari ketika dunia menjadi sulit.
Ia biasanya mulai dibentuk jauh sebelumnya.
Dalam hal-hal kecil.
Dalam kesempatan memilih.
Dalam kegagalan yang masih aman.
Dalam tugas yang dibiarkan selesai sendiri.
Dalam frustrasi yang tidak langsung dihilangkan.
Dalam masalah yang didampingi,
tetapi tidak selalu diselesaikan oleh orang lain.
Mungkin karena itu,
pertanyaan tentang pendidikan anak bukan hanya:
“Seberapa baik tempat yang kita pilih untuknya ?”
Ada pertanyaan yang lebih jauh:
“Anak seperti apa yang sedang dibentuk oleh pilihan itu ?”
Karena tempat yang nyaman bisa saja menjadi tempat yang baik.
Tempat yang sederhana juga bisa menjadi tempat yang baik.
Tidak ada bangunan yang secara otomatis membuat seorang anak kuat.
Tidak ada kesulitan yang secara otomatis membuat seorang anak tangguh.
Yang lebih menentukan adalah apa yang terjadi di dalam prosesnya:
hubungan,
dukungan,
tantangan,
kesempatan,
batas,
kegagalan,
dan ruang bagi anak untuk perlahan-lahan menjadi mampu.
Mungkin tugas orang tua bukan
menghapus seluruh kesulitan dari kehidupan anak.
Tetapi memastikan bahwa ketika kesulitan datang,
anak tidak sepenuhnya asing terhadapnya.