SHADZARAT
Majelis 1
Bagian 1 — Menjelang Isya
Langit Manglayang belum sepenuhnya gelap.
Beberapa orang datang seorang demi seorang.
Tak ada yang tergesa.
Di serambi pesantren, tikar pandan telah lebih dahulu digelar.
Mang Didin datang paling awal. Seperti biasa, ia memilih duduk dekat tiang kayu. Tas kain lusuhnya diletakkan di samping lutut.
Tak lama kemudian Mang Ujang muncul sambil menyalami orang-orang yang sudah datang.
“Assalāmu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalām.”
Tak ada percakapan panjang.
Emod datang belakangan. Di tangannya ada kitab yang masih dibungkus kain. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, lalu duduk di barisan belakang.
“Di dieu waé, Mod.”
Mang Ujang menggeser duduknya.
Emod tersenyum kecil, lalu berpindah mendekat.
Dari arah dapur, Bi Euis muncul membawa baki berisi beberapa gelas teh hangat.
“Hati-hati, masih panas.”
Mang Didin menerima gelas itu dengan kedua tangan.
“Hatur nuhun, Bi.”
Di halaman, suara sandal mulai berkurang.
Adzan Isya segera berkumandang.
Tak ada aba-aba.
Tak ada yang menyuruh.
Satu per satu jamaah berdiri, merapikan sarung dan peci, lalu melangkah menuju masjid.
Serambi kembali kosong.
Yang tertinggal hanya tikar, beberapa gelas teh yang masih mengepulkan uap, dan sebuah tempat di ujung serambi yang masih belum terisi.
Tempat itu bukan yang paling tinggi.
Bukan pula yang paling mewah.
Namun setiap orang mengetahui, di situlah Ajengan Manglayang akan duduk setelah salat Isya berjamaah.
Malam baru saja dimulai.
Begitu pula majelis ini.