Saya kira, ayah El berubah.
Begitulah kesan pertama yang muncul di kepala saya.
Saya mengenal El sejak kecil.
Saya juga tahu ke mana saja ayahnya menitipkan anak itu belajar.
Pesantren pertama.
Bersih.
Rapi.
Fasilitasnya cukup.
Saya tidak berpikir apa-apa.
Anaknya masih kecil.
Beberapa tahun kemudian…
Pindah lagi.
Tempatnya juga bagus.
Saya semakin yakin.
Kalau nanti pindah lagi…
Pasti lebih bagus lagi.
Begitu yang ada dalam benak saya.
Kalau sudah banting tulang siang malam…
Siapa orang tua yang tidak ingin anaknya hidup lebih enak ?
Kalau ada kasur yang lebih empuk…
Kenapa memilih yang keras ?
Kalau ada kamar yang lebih nyaman…
Kenapa memilih yang pengap ?
Kalau ada jalan yang lebih mudah…
Ngapain sengaja muter ?
Bukankah hampir semua orang tua…
Diam-diam sedang berlomba menghapus kata “susah” dari hidup anaknya ?
Saya berpikir begitu.
Sampai…
Saya melihat pesantren ketiganya….
Justru, yang paling sederhana.
Bangunannya jauh dari mewah.
Fasilitasnya seadanya.
Tidak serapi tempat-tempat sebelumnya.
Sekilas, mengingatkan saya pada banyak pesantren salaf tempo dulu.
Saya enggan bertanya.
Tapi… di kepala saya rame.
“Lho…
Kok malah mundur ?”
…
Selepas subuh tadi…
sambil menyeruput kopi yang mulai dingin…
Saya seperti ditertawakan pikiran saya sendiri.
Barangkali…
Yang mundur bukan pilihan ayahnya.
Cara pandang sayalah yang tertinggal.
Saya sibuk melihat pesantrennya.
Ayahnya sibuk melihat anaknya.
Saya menghitung fasilitas.
Ia sedang menghitung bekal.
Saya mencari tempat yang lebih nyaman.
Ia sedang menyiapkan hati yang lebih kuat.
Yang satu memilih bangunan.
Yang satu sedang membangun.
…
Mungkin memang ada usia…
Ketika, anak perlu dikenalkan pada kenyamanan.
Tetapi ada juga usia…
Ketika kenyamanan harus mulai dicicil untuk dilepas.
Bukan karena nyaman itu buruk.
Melainkan karena hidup tidak pernah berjanji akan selalu nyaman.
Kelak…
El akan bertemu dunia yang tidak bisa ia atur.
Orang-orang yang tidak bisa ia pilih.
Keadaan yang tidak selalu ramah.
Kalau sejak kecil ia hanya akrab dengan dunia yang selalu menuruti harapannya…
Bagaimana ia akan tetap berdiri…
Ketika harapan itu terlambat datang ?
…
Saya terdiam, bener – bener diam.
Karena, tiba-tiba saya sadar…
Ketika direnungkan….
Bukankah, selama ini saya juga begitu ?
Berkali-kali saya berdoa kepada Allah…
“Ya Allah…
Pertemukan saya ke tempat yang lebih baik.“
Ternyata…
Yang berubah bukan selalu tempatnya.
Kadang…
Allah justru sedang memindahkan saya ke “pesantren” berikutnya.
Tempat yang tidak lebih nyaman.
Tetapi lebih mendidik.
Saya baru sadar…
Tidak semua kenaikan kelas dimulai dengan gedung yang lebih megah.
Kadang…
Ia dimulai ketika kita ditempatkan di ruang yang membuat ego pelan-pelan mengecil.
Dan mungkin…
Di situlah…
Pelajaran yang sebenarnya baru dimulai.