Siang itu…
sebuah mobil berhenti di halaman kantor.
Saya mengenali mobilnya.
Bahkan sebelum pintunya terbuka.
Ia turun.
Melambaikan tangan.
Lalu berjalan masuk.
Seperti biasanya.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikumussalam.”
Belum sempat duduk…
matanya sudah berkeliling.
“Kopi masih gratis, kan Pak ?”
Saya tertawa.
“Kalau bayar… kamu pulang sekarang juga.”
Ia ikut tertawa.
“Nah… berarti saya memang masih diterima.”
Ruangan mendadak terasa akrab.
Seperti tidak ada yang sedang disembunyikan.
Padahal…
hidup sering kali pandai menyamarkan luka.
Usianya masih muda.
Sekitar dua puluh tahun.
Anaknya cerdas.
Usahanya berkembang.
Mobil yang dibawanya hari itu bahkan lebih baik daripada mobil pertamanya dulu.
Kalau hanya melihat dari kejauhan…
orang mungkin berkata,
“Enak ya hidupnya.”
Saya hanya tersenyum.
Saya sudah terlalu sering melihat…
bahwa hidup tidak pernah bisa dinilai dari kendaraan yang diparkir di halaman.
Sesaat kemudian kami berbincang.
Tentang usaha.
Tentang pelanggan.
Tentang karyawan.
Tentang target yang selalu terasa dekat…
lalu menjauh lagi.
“Gimana bisnisnya ?”
“Alhamdulillah…”
Ia berhenti.
Mengembuskan napas pelan.
“…masih bikin pusing.”
“Kalau nggak bikin pusing…”
saya menyeruput kopi.
“…mungkin itu bukan bisnis.”
Ia tertawa.
Saya juga.
Lalu…
sunyi datang.
Pelan.
Tanpa mengetuk pintu.
Ia menatap cangkirnya.
Sendok kecil itu diputar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu…
berkali-kali.
Saya hampir bertanya.
Namun saya urungkan.
Tidak semua jeda harus segera diisi.
“Pak…”
“Iya ?”
Ia menarik napas.
Lama….
“Boleh nggak…”
Ia tersenyum.
Bukan senyum bahagia.
Lebih mirip seseorang yang sedang berusaha tetap utuh.
“…hari ini saya nggak pura-pura kuat ?”
Saya terdiam, saya ingin menjawab.
Sungguh.
Tetapi tidak ada kalimat yang terasa pantas.
Akhirnya…
saya hanya mengangguk.
Kadang…
orang tidak membutuhkan jawaban.
Ia hanya ingin ada seseorang…
yang tidak pergi.
“Saya kadang iri.”
“Sama siapa ?”
“Sama teman-teman.”
“Kenapa ?”
“Kalau mereka cerita tentang ayahnya…”
Kalimat itu menggantung.
Lama…
“…kok hangat ya.”
Saya diam.
Ia juga diam.
Ruangan itu ikut diam.
“Ayah saya masih ada, Pak.”
“Alhamdulillah…”
“Iya…”
Ia tersenyum lagi.
Tipis.
Lelah.
“Tapi saya nggak tahu…”
Matanya mengarah ke luar jendela.
“…rasanya punya ayah itu seperti apa.”
Entah mengapa…
saya tidak buru-buru mencari kalimat.
Ada luka…
yang justru menjadi berat…
ketika terlalu cepat dihibur.
“Kalau boleh memilih…”
akhirnya saya bertanya.
“Apa yang paling kamu inginkan ?”
Ia tidak langsung menjawab.
Saya menunggu.
Dan membiarkan waktu bekerja.
“Saya nggak pengin dibelikan apa-apa.”
Saya mengangguk.
“Saya juga nggak pengin diajak jalan.”
Ia menarik napas.
Pelan.
“Saya cuma pengin…”
Kalimat itu berhenti.
Seolah ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya.
“…sekali saja…”
Matanya mulai basah.
“…beliau nelepon.”
Saya masih diam.
“Bukan karena ada perlu.”
Ia menunduk.
“Tapi cuma bilang…”
“Nak…”
“Hari ini capek ya ?”
Saya ikut menunduk.
Lama.
Sangat lama.
Baru hari itu saya menyadari…
ada anak-anak…
yang tumbuh besar…
tanpa pernah mendengar kalimat sesederhana itu.
Aneh memang.
Beberapa menit kemudian…
kami sudah kembali membahas kopi.
Dapur MBG … hehehe.
Jalanan yang makin macet.
Lalu tertawa lagi.
Mungkin begitulah hidup.
Ia tidak pernah memberi tanda…
kapan seseorang sedang menyembunyikan sesak di dadanya.
Menjelang sore…
ia berdiri.
“Makasih ya, Pak.”
“Hati-hati…”
Ia berjalan menuju mobilnya.
Masuk.
Menutup pintu.
Namun…
mobil itu tidak langsung bergerak.
Saya memperhatikannya dari depan pintu.
Lama…
Saya tidak tahu…
apakah ia sedang membalas pesan.
Sedang menghapus air mata.
Atau…
sedang membereskan sesuatu…
yang tidak pernah bisa dibereskan hanya dalam satu siang.
Beberapa saat kemudian…
mobil itu perlahan meninggalkan halaman.
Saya masih berdiri.
Masih di tempat yang sama.
Dan entah mengapa…
sejak hari itu…
setiap kali mendengar seorang ayah menelepon anaknya hanya untuk bertanya,
“Sudah makan ?”
atau…
“Hati-hati di jalan.”
saya tidak pernah lagi menganggap kalimat-kalimat itu sebagai sesuatu yang biasa.
Sebab…
bagi sebagian orang…
itu hanya percakapan.
Namun bagi sebagian yang lain…
itulah rumah.
Rumah…
yang tidak pernah sempat mereka tinggali.