Kalimat yang Tidak Ikut Pulang

Malam itu…
kami ngopi.

Eh…
lebih tepatnya…
ngaji sambil ngopi.

Bedanya tipis.
Kalau ngopi…
yang habis kopinya.

Kalau ngaji sambil ngopi…
kadang…
yang habis…
cara kita memandang sesuatu.

Obrolannya…
ngalor.
Ngidul.

Dari urusan rumah.
Sampai urusan yang…
kalau dipikir-pikir…
bukan urusan kami juga.

Begitulah.
Kalau sudah duduk melingkar…
segelas kopi…
kadang cukup untuk membuat malam terasa pendek.

Di tengah obrolan…
beliau menyeruput kopi.
Pelan.
Lalu berkata,

“Jangan pernah meremehkan amal…
sekecil apa pun.”

Tidak ada yang menjawab.
Beliau kembali menyeruput kopi.
Lalu melanjutkan,

“Dan…
jangan pernah meremehkan maksiat…
sekecil apa pun.”
Selesai.

Tidak ada penjelasan.
Tidak ada kisah.
Tidak ada dalil yang panjang.

Obrolan kembali berjalan.
Ada yang membahas bola.
Ada yang bercerita soal sawah.
Ada yang sibuk menambah gula.
Ada yang meminta kopi lagi.
Seolah…
kalimat tadi…
tidak pernah diucapkan.

Malam semakin larut.
Satu per satu…
kami pulang.

Kopi malam itu…
sudah lama habis.

Cangkirnya…
entah sekarang ada di mana.

Tetapi…
entah mengapa…
ada satu kalimat…
yang tidak ikut pulang.
Ia memilih tinggal.

Setiap kali…
ada kesempatan berbuat baik…
yang terlihat terlalu kecil…
kalimat itu datang.

Setiap kali…
hendak meremehkan…
sebuah kesalahan yang terasa ringan…
kalimat itu muncul lebih dulu.

Entah mengapa…
sampai hari ini…
saya masih merasa…
kalimat itu…
sedang berbicara kepada saya.

↗ Bagikan Tulisan Ini