Sebelum Ajengan Datang

SHADZARAT

Majelis 2

Bagian 1 — Sebelum Ajengan Datang

Langit di lereng Manglayang mulai menggelap.

Seperti pekan-pekan sebelumnya, serambi masjid kembali menjadi tempat yang paling dahulu menunggu.

Tikar telah tergelar.

Lampu minyak telah dinyalakan.

Belum ada Ajengan.

Mang Ujang datang lebih dahulu.

Ia duduk di tempat yang biasa.

Dari dalam tas kainnya, ia mengeluarkan kitab yang minggu lalu mereka pelajari.

Kertas pembatas masih terselip pada halaman yang sama.

Ia membukanya perlahan.

Tak lama kemudian Mang Didin datang.

“Sampurasun.”

“Rampes.”

Mang Didin duduk di samping Mang Ujang.

Belum lama, Emod ikut datang sambil membawa kitab yang masih terbungkus kain lusuh.

Ia duduk, membuka ikatan kainnya, lalu mencari halaman yang sama.

Mang Ujang memandang keduanya.

“Kamari dugi ka mana?”

Mang Didin menggaruk kepala.

“Bismillah…”

Mang Ujang tertawa kecil.

“Sanés, sanés.”

“Sanés dugi ka dinya.”

Emod ikut membuka halaman kitabnya.

Telunjuknya mencari baris yang minggu lalu mereka tinggalkan.

“Di dieu…”

بِ

Mang Ujang mengangguk.

“Neraskeun.”

Emod melanjutkan dengan hati-hati.

اسْمِ

Mang Didin ikut menyambung.

اللَّهِ

Ketiganya terdiam.

Mang Didin tersenyum malu.

“Geus.”

“Mopohokeun deui.”

Mang Ujang tersenyum.

“Moal nanaon.”

“Urang baca deui.”

Mereka kembali dari awal.

بِ

Emod masih berhenti sejenak pada harakat.

Mang Ujang tidak langsung membetulkan.

Ia hanya menunjuk pelan pada lafaz di dalam kitab.

“Tempo deui.”

Emod mengamati.

Matanya berhenti pada huruf

سْ

“Oh…”

“…ieu anu kamari diterangkeun.”

Mang Didin ikut mendekat.

“Nya…”

“…anu sukun.”

Mang Ujang mengangguk.

“Leres.”

“Henteu titik.”

Ketiganya tersenyum kecil.

Tak ada yang merasa sedang diuji.

Tak ada yang merasa lebih pandai.

Yang ada hanyalah tiga orang yang sedang berusaha mengingat kembali apa yang telah mereka dengar sepekan lalu.

Mereka membaca sekali lagi.

بِاسْمِ اللَّهِ

Belum serempak.

Masih ada jeda.

Masih ada keraguan.

Namun tidak ada yang tergesa.

Dari kejauhan terdengar suara sandal menaiki anak tangga serambi.

Ketiganya saling berpandangan.

Tanpa ada yang memberi aba-aba, kitab segera dirapikan.

Punggung diluruskan.

Pandangan ditundukkan.

Suara langkah itu semakin dekat.

Ajengan Manglayang telah datang.

Dan seperti pekan sebelumnya, serambi kembali hening.

Malam kedua pun dimulai.

↗ Bagikan Tulisan Ini