Sebut saja…
A.
Kalau pertama kali bertemu…
mungkin akan berpikir dua kali untuk bercanda dengannya.
Tubuhnya besar.
Tatapannya keras.
Lengannya penuh bekas kerja.
Atau…
mungkin bukan hanya kerja.
Ada masa…
ketika hidupnya lebih akrab dengan jalanan daripada ruang tamu.
Pernah tidur di terminal.
Pernah bangun karena suara klakson.
Pernah makan…
kalau ada.
Pernah tidak makan…
kalau memang tidak ada.
Jalanan…
punya kurikulumnya sendiri.
Ia tidak mengajarkan kelembutan.
Ia mengajarkan bertahan.
Kalau dipukul…
balas.
Kalau diinjak…
lawan.
Kalau ditantang…
jangan mundur.
Begitulah ijazah yang diberikan jalanan.
Lalu…
waktu datang.
Diam-diam.
Tanpa suara.
Ia tidak pernah bertanya,
“Sudah siap ?”
Ia juga tidak pernah menunggu,
“Masih ingin sebentar lagi ?”
Ia terus berjalan.
Sedetik pun tidak pernah berhenti.
Tanpa terasa…
lelaki itu…
telah mendekati usia lima puluh tahun.
Anak-anaknya mulai besar.
Tenaganya masih sama.
Tetapi…
entah mengapa…
dadanya mulai berbeda.
Yang berubah bukan ototnya.
Yang berubah…
adalah pertanyaannya.
“Kalau nanti meninggal…”
“Saya pulang membawa apa ?”
Sejak saat itulah…
ia mulai mencari jalan pulang.
Bukan pulang ke rumah.
Tetapi pulang…
kepada Allah….
Ia mulai mendekati pesantren.
Duduk paling belakang.
Datang diam-diam.
Pulang diam-diam.
Lebih banyak mendengar.
Lebih sedikit berbicara.
Orang yang dulu mudah mengepalkan tangan…
pelan-pelan belajar menengadahkan tangan.
Suatu malam…
sang Kyai membahas satu kalimat.
Pendek.
Sangat pendek.
وَأَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Beliau membacanya perlahan.
Lalu mengulanginya lagi.
Sekali…
Dua kali…
Tiga kali…
Ruangan menjadi sunyi.
Kemudian beliau bertanya,
“Siapa di antara kalian yang siap menerima takdir yang baik ?”
Hampir semua santri mengangguk.
Beliau tersenyum.
Lalu bertanya lagi,
“Kalau yang buruk ?”
Tidak ada yang menjawab.
Kyai menundukkan kepala.
Lalu berkata pelan,
“Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan…”
خَيْرِهِ…
“Tetapi…”
وَشَرِّهِ…
“Karena hampir semua orang mampu berkata ‘saya beriman’…”
“ketika hidup sedang baik-baik saja.”
“Tetapi…”
“Keimanan…”
“baru benar-benar bersuara…”
“ketika takdir Allah terasa pahit.”
Beliau kembali diam.
Lama.
Sangat lama.
Lalu menatap para santri.
“Ingat…”
“Mengetahui…”
“itu pekerjaan akal.”
“Mengimani…”
“itu pekerjaan hati.”
“Mengetahui…”
“belum tentu sanggup menerima.”
“Tetapi…”
“Orang yang benar-benar beriman…”
“tetap bersujud…”
“meski kenyataan yang datang…”
“menghancurkan seluruh rencana hidupnya.”
Pengajian selesai.
Semua pulang.
Tidak ada yang menyangka…
bahwa esok harinya
salah seorang yang duduk di majelis itu…
akan menjadi orang pertama…
yang diminta membuktikan…
apa yang baru saja dipelajarinya.
Esok harinya…
A menjemput anaknya.
Anaknya berdiri di seberang jalan.
Melambai.
Ia membalas.
Sambil berteriak,
“Hati-hati Nak…”
Anaknya tersenyum.
Lalu melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian…
semuanya terjadi…
dalam hitungan yang bahkan tidak sempat disebut waktu.
Sebuah mobil melaju.
Suara benturan memecah jalan.
Tubuh kecil itu terlempar.
Lalu…
hening.
Ada hening…
yang jauh lebih menyakitkan…
daripada teriakan.
Orang-orang mulai berlari.
Ada yang menunjuk sopir.
Ada yang berteriak.
Ada yang mengepalkan tangan.
Dan…
jujur saja…
kalau mengenal masa lalunya…
mungkin semua orang akan berpikir sama.
“Sopir itu selesai.”
Karena A bukan orang yang asing dengan pukulan.
Bukan orang yang asing dengan kemarahan.
Bahkan…
mungkin…
tidak ada yang akan menyalahkannya…
kalau saat itu ia kehilangan kendali.
Tetapi…
yang terjadi…
justru sebaliknya.
Ia melewati sopir itu.
Tanpa menyentuhnya.
Tanpa memandangnya.
Ia langsung memeluk anaknya.
Mengangkat tubuh kecil yang sudah bersimbah darah itu.
Anaknya…
telah tiada.
Lalu ia menoleh kepada sopir.
Tidak dengan tatapan benci.
Tidak dengan suara tinggi.
Ia hanya berkata,
“Tolong…”
“Antarkan kami pulang.”
Bukan untuk dimarahi.
Bukan untuk dibalas.
Hanya…
mengantarkan pulang.
Hari-hari berikutnya…
rumahnya dipenuhi pelayat.
Tahlilan berlangsung.
Tetangga berdatangan.
Keluarga sopir pun datang.
Ikut duduk.
Ikut membaca doa.
Tidak ada makian.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada dendam.
Yang ada…
hanya kehilangan…
yang dipeluk dengan diam.
Beberapa hari kemudian…
saya datang.
Kami duduk.
Lama.
Lebih banyak diam…
daripada berbicara.
Lalu ia memecah kesunyian.
“Mas…”
“Sekarang saya mengerti…”
Saya menatapnya.
Ia melanjutkan,
“Kemarin malam…”
“Saya baru ngaji…”
“Tentang…”
وَأَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Waktu itu…”
“Saya merasa sudah paham.”
Ia tersenyum tipis.
Senyum yang dipenuhi luka.
“Ternyata…”
“Allah tidak sedang menguji…”
“apa yang saya ketahui.”
“Allah sedang menguji…”
“apa yang benar-benar saya imani.”
Ia berhenti.
Menarik napas panjang.
“Kalau hanya…”
خَيْرِهِ
“Saya rasa…”
“semua orang sanggup.”
“Tetapi…”
“Ketika…”
وَشَرِّهِ
“itu datang…”
“bukan akal yang diuji.”
“Bukan hafalan yang diuji.”
“Bukan lisan yang diuji.”
“Yang diuji…”
“adalah…”
“apakah saya benar-benar beriman…”
“atau selama ini…”
“baru sekadar mengetahui.”
Lalu ia menunduk.
Air matanya jatuh.
Satu per satu.
Dan dengan suara yang nyaris tak terdengar…
ia berkata,
“Saat saya menggendong anak saya…”
“Yang terlintas bukan wajah sopir itu.”
“Yang terlintas…”
“justru pengajian semalam.”
“Kalimat Kyai itu…”
“terus terngiang…”
وَأَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Ya Allah…”
“Ini pahit…”
“Sangat pahit…”
“Tetapi…”
“kalau inilah yang Engkau pilihkan…”
“kalau inilah yang Engkau tetapkan…”
“maka…”
“Ya Allah…”
“Saya terima.”
Sejak hari itu…
saya tidak pernah lagi mudah berkata,
“Saya beriman.”
Karena saya sadar…
mengucapkannya…
sangat mudah.
Tetapi…
membuktikannya…
mungkin harus menunggu hari…
ketika Allah meminta sesuatu…
yang paling kita cintai.
Maka…
sebelum kita berbicara tentang…
خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
barangkali ada satu pertanyaan…
yang harus lebih dahulu kita jawab.
Apa sebenarnya arti “beriman” ?
Karena…
mungkin…
selama ini…
kita baru mengetahuinya.
Belum…
mengimaninya.