Dulu…
pagi tidak pernah terburu-buru.
Kabut masih menggantung di atas sawah.
Rumput masih basah oleh embun.
Ayah sudah duduk di saung.
Di depannya…
secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis.
Beliau menyeruputnya sekali.
Pelan.
Cangkir itu kembali diletakkan di atas meja bambu.
Baru setelah itu…
tangan kanannya merogoh saku baju.
Sebungkus rokok dikeluarkan.
Sebatang diselipkan di bibir.
Korek dinyalakan.
Asap pertama naik perlahan.
Lalu hilang bersama angin pagi.
Di tengah meja…
beberapa potong singkong goreng baru saja diangkat dari dapur.
Masih hangat.
Masih mengepul.
Sesaat kemudian obrolan pun mengalir.
Tentang hujan yang semalam turun.
Tentang sawah yang mulai menghijau.
Tentang tetangga yang kehilangan ayam.
Tentang apa saja.
Hal-hal kecil…
yang kalau dipikir sekarang…
tidak mengubah dunia.
Tetapi entah mengapa…
selalu membuat pagi terasa utuh.
Tak ada yang sibuk menjadi paling benar.
Kalau berbeda pendapat…
ya tertawa.
Kalau belum sepakat…
ya besok ngopi lagi.
Hidup memang tidak ringan.
Uang sering pas-pasan.
Rumah sederhana.
Tetapi…
entah mengapa…
hati orang-orang waktu itu terasa lebih lapang.
Sudah hampir dua puluh lima tahun saya tinggal di kota.
Pulang semakin jarang.
Kesibukan selalu pandai mencari alasan.
Dan anehnya…
alasan itu hampir selalu terdengar masuk akal.
“Nanti saja.”
“Minggu depan.”
“Lagi banyak kerjaan.”
“Lagi ada rapat.”
Tanpa terasa…
dua puluh lima tahun lewat begitu saja.
Sampai suatu pagi…
saya kembali duduk di saung yang sama.
Kabut masih ada.
Sawah masih di sana.
Angin masih datang dari arah yang sama.
Ayah menggeser cangkir ke arah saya.
“Coba…”
Saya menyeruputnya.
Masih pahit.
“Kopinya masih pahit, Yah ?”
Beliau tersenyum.
“Dari dulu juga begitu.”
Saya ikut tersenyum.
Lalu menyeruput lagi.
“Iya…”
“Lidah saya saja yang berubah.”
Ayah tidak menjawab.
Beliau hanya mengangguk kecil.
Seolah kalimat itu belum selesai.
Saya membuka tas.
Mengeluarkan sebungkus kopi.
“Ini kopi yang lagi ramai, Yah.”
Beliau menerimanya.
Melihat bagian depannya.
Menyipitkan mata sebentar.
Lalu membalik kemasannya.
“Lho…”
“Sekarang kopi ikut ramai ?”
Saya tertawa.
“Bukan kopinya.”
“Orang-orangnya.”
Ayah ikut tersenyum.
Saya mulai bercerita.
Tentang biji kopi.
Tentang daerah asalnya.
Tentang ketinggian kebun.
Tentang proses fermentasi.
Lalu…
entah sejak kapan…
cerita itu berubah menjadi istilah-istilah yang dulu bahkan tidak pernah saya kenal.
“Natural.”
“Honey.”
“Washed.”
“Anaerobic.”
Saya terus berbicara.
Semakin bersemangat.
Semakin panjang.
Sesekali saya membuka ponsel.
Menunjukkan gambar.
Menjelaskan grafik.
Menceritakan aroma.
Body.
Acidity.
Aftertaste.
Ayah hanya mendengarkan.
Sesekali mengangguk.
Sesekali menyeruput kopi.
Sesekali memandang sawah.
Saya baru berhenti…
ketika beliau meletakkan cangkirnya.
“Lalu…”
Saya menatap beliau.
“Kapan kamu menikmati kopinya ?”
Saya tertawa.
Refleks.
Tetapi…
tawa itu tidak benar-benar keluar.
Ia berhenti…
di bibir saya sendiri.
Angin kembali lewat.
Burung-burung masih bernyanyi.
Tak ada yang berbicara.
Tak ada yang merasa harus segera mengisi diam.
Lama.
Baru kemudian saya berkata pelan,
“Kayaknya sekarang semua memang ada ilmunya, Yah.”
Beliau mengangguk.
Saya melanjutkan.
“Tidur ada ilmunya.”
“Makan ada ilmunya.”
“Mendidik anak ada ilmunya.”
“Mengelola stres ada ilmunya.”
Saya berhenti sebentar.
“Bahkan…”
“bahagia pun, sekarang ada teorinya.”
Ayah mengangguk lagi.
“Itu bagus.”
“Iya.”
“Manusia jadi semakin pintar.”
Saya melihat sawah.
Lama.
“Tapi…”
“kenapa kita juga semakin mudah lelah ?”
“Semakin mudah marah.”
“Semakin susah tidur.”
“Rumah makin besar…”
Saya berhenti.
“…hati kok, rasanya makin sempit.”
Ayah tidak menjawab.
Beliau mengambil singkong.
Mematahkannya.
Separuh diberikan kepada saya.
“Makan dulu.”
Saya menerimanya.
Masih hangat.
Kami makan.
Tanpa bicara.
Setelah beberapa saat…
beliau berkata pelan,
“Singkong ini…”
“dari dulu ya begini.”
Saya menunggu.
“Tidak pernah sibuk menjadi makanan lain.”
Saya tertawa.
“Ayah ada-ada saja.”
Beliau ikut tertawa.
Tawa yang pendek.
Ringan.
“Lha memang.”
Lalu beliau menggigit singkongnya lagi.
Pembicaraan selesai.
Tetapi…
entah mengapa…
kalimat itu tidak ikut selesai.
Rokok di tangan Ayah tinggal separuh.
Beliau mengetukkan abunya ke asbak kayu.
Menyeruput kopi.
Meletakkan kembali cangkirnya.
Asap kembali naik.
Pelan.
Lalu hilang.
Beliau memandang ke arahnya.
“Dulu…”
“kalau kamu haus…”
“ya minum.”
“Kalau lapar…”
“ya makan.”
“Kalau capek…”
Beliau berhenti.
Menoleh ke arah saya.
“Ya tidur.”
Saya tersenyum kecil.
Mengeluarkan ponsel dari saku.
Layarnya penuh notifikasi.
Saya menunjukkannya.
“Sekarang…”
“kalau capek…”
Saya mengangkat ponsel itu sebentar.
Lalu tertawa.
“…malah buka ini.”
Ayah ikut tertawa.
Tidak keras.
Tidak lama.
Tetapi cukup membuat pagi terasa ringan.
Kami tidak sedang menertawakan siapa-siapa.
Kami hanya sedang menertawakan zaman.
Ponsel itu kembali bergetar.
Rapat.
Pesan.
Notifikasi.
Saya melihat layarnya.
Ibu jari saya sudah menyentuh layar.
Namun…
entah mengapa…
Saya memasukkannya kembali ke saku.
Ayah tidak berkata apa-apa.
Beliau hanya menyeruput kopi.
Kopi yang kini mulai dingin.
Saya ikut mengangkat cangkir.
Menyeruputnya perlahan.
Masih pahit.
Persis seperti dulu.
Tiba-tiba saya sadar…
selama ini mungkin bukan kopinya yang berubah.
Matahari mulai naik.
Embun perlahan hilang.
Ayah berdiri.
Sebelum masuk ke rumah…
beliau berkata.
“Nak…”
“Iya, Yah.”
“Kamu tadi bilang…”
“sekarang semuanya bisa dijelaskan.”
“Iya.”
Beliau mengangguk.
“Itu baik.”
Beliau memandang sawah.
Lama.
Seolah sawah itu sedang mengajarinya memilih kata.
“Tapi…”
Beliau berhenti.
“jangan sampai…”
“karena sibuk memahaminya…”
“…kamu lupa menjalaninya.”
Lalu beliau masuk ke dalam rumah.
Pelan.
Seperti biasa.
Saya masih duduk sendiri.
Sawah di depan saya tidak berubah.
Burung-burung masih bernyanyi.
Angin masih melewati pematang.
Asap rokok sudah tidak terlihat.
Singkong di piring tinggal remah-remah.
Kopi di cangkir tinggal sedikit.
Saya mengangkatnya.
Menyeruput pelan.
Masih pahit.
Persis seperti tadi.
Persis seperti dulu.
Saya tersenyum.
Barangkali…
Ayah benar.
Ada hal-hal yang tidak meminta dijelaskan.
Cukup dijalani.
Saya melihat cangkir yang kini benar-benar kosong.
Lalu menatap sawah sekali lagi.
Sudah lama sekali…
Saya belajar memahami banyak hal.
Tetapi pagi itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian tahun…
Saya benar-benar hadir.
Dan saat itulah saya mengerti…
Saya tidak sedang minum kopi.
Saya sedang pulang.