Sudah beberapa hari ini…
saya memperhatikan seekor kucing minum.
Entah mengapa…
baru sekarang saya benar-benar melihatnya.
…
Selama ini saya mengira…
ia menjilat air.
Rupanya tidak.
Saya perhatikan lagi.
Tetap sama.
Ujung lidahnya hanya menyentuh permukaan air.
Sebentar.
Lalu kembali.
Sebentar.
Lalu kembali lagi.
Tidak terburu-buru.
Tidak sekaligus.
…
Saya diam.
Kucing itu juga diam.
Hanya suara lidah kecil…
yang sesekali menyentuh air.
…
Kalau tidak diperhatikan…
barangkali kita akan mengira…
tidak ada sesuatu yang sedang terjadi.
Padahal…
dahaganya sedang berkurang.
Sedikit demi sedikit.
…
Belakangan saya baru tahu…
memang begitulah cara ia minum.
Bukan mengisap.
Bukan pula menjilat seperti yang selama ini saya bayangkan.
Memang…
begitulah cara Allah menciptakannya.
…
Entah mengapa…
pikiran saya tidak lagi berada di depan kucing itu.
Ia berjalan…
ke tempat lain.
…
Barangkali…
yang sering membuat manusia lelah…
bukan karena rezekinya terlalu sedikit.
Melainkan…
karena ingin meneguk semuanya…
dalam sekali waktu.
…
Padahal…
bahkan seekor kucing pun…
tidak melakukannya.
…
Ia hanya mengecap.
Sedikit.
Lalu sedikit lagi.
Tidak tergesa.
Tidak gelisah.
Seolah…
ia tidak pernah khawatir…
air itu akan habis…
sebelum dahaganya selesai.
…
Saya kembali melihat ember itu.
Airnya…
masih ada.
Kucingnya…
sudah pergi.
…
Yang tertinggal…
hanya riak kecil…
di permukaan air.
Dan entah mengapa…
riak itu…
masih terasa…
di dalam kepala saya.