SHADZARAT
Majelis 1
Bagian 2 — Seusai Isya
Adzan telah lama selesai.
Suara imam memimpin salat Isya masih seperti tertinggal di telinga.
Jamaah keluar dari masjid tanpa tergesa.
Sebagian mengenakan kembali sandal di pelataran.
Sebagian lagi masih bersalaman.
“Assalāmu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalām warahmatullāh.”
Tak ada yang langsung pulang.
Langkah mereka kembali menuju serambi yang sejak sore telah menunggu.
Tikar pandan masih pada tempatnya.
Gelas-gelas teh kini tak lagi mengepulkan uap setinggi tadi.
Bi Euis menambahkan air panas ke beberapa gelas.
“Haneut kénéh, Mang.”
“Hatur nuhun, Bi.”
Mang Ujang mengambil tempat yang sama seperti sebelum Isya.
Mang Didin membuka tas kainnya, mengeluarkan kitab yang sampulnya telah menguning dimakan waktu.
Ia tidak langsung membukanya.
Kitab itu diletakkan di pangkuan.
Kedua telapak tangannya tetap berada di atas sampulnya.
Emod memperhatikan.
“Can dibuka, Mang?”
Mang Didin menggeleng pelan.
“Heueuh.”
“Nungguan Ajengan.”
Emod ikut menundukkan pandangan.
Beberapa jamaah lain melakukan hal yang sama.
Kitab tetap berada dalam pangkuan masing-masing.
Belum ada satu pun halaman yang dibuka.
Di serambi itu, rupanya semua orang telah memahami satu adab yang tidak pernah tertulis:
Kitab boleh dibawa lebih dahulu.
Tetapi membukanya menunggu guru datang.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari arah halaman.
Tak cepat.
Tak lambat.
Suara sandal yang akrab di telinga jamaah.
Tak seorang pun menoleh lebih dahulu.
Namun hampir semua orang merapikan duduknya.
Serambi yang sejak tadi dipenuhi percakapan pelan…
kembali hening.