Ada satu hal yang mulai terasa ketika usia bertambah.
Kabar tentang teman-teman seusia kita semakin beragam.
Ada yang sedang menikahkan anak.
Ada yang berangkat haji.
Ada yang baru menyelesaikan doktor.
Ada yang perusahaannya sudah go public.
Ada yang sedang berhadapan dengan perkara hukum.
Dan ada yang sudah lebih dulu pergi.
Aneh juga.
Umurnya kurang lebih sama.
Generasinya sama.
Mungkin pernah melewati sekolah, kota, bahkan pergaulan yang sama.
Tetapi hidup membawa mereka ke tempat yang berbeda-beda.
Saya kemudian berpikir,
sebenarnya apa yang membuat perjalanan hidup seseorang bisa sejauh itu berbeda dari orang lain yang seusia ?
Saya menemukan istilah yang cukup menarik ketika mencari jawabannya:
life course.
Penelitian tentang life course tidak melihat kehidupan manusia sebagai satu garis lurus.
Ada lintasan.
Ada perubahan peran.
Ada peristiwa yang datang pada waktu tertentu.
Ada titik-titik yang kadang mengubah arah perjalanan.
Dan waktu terjadinya sebuah peristiwa ternyata juga penting. Menikah pada usia tertentu, kehilangan pekerjaan pada usia tertentu, memiliki anak, sakit, kehilangan orang tua, atau berpindah tempat hidup—peristiwa yang sama dapat membawa konsekuensi yang berbeda ketika terjadi pada waktu yang berbeda dalam kehidupan seseorang.
Jadi usia rupanya hanya menunjukkan satu hal :
berapa lama seseorang telah hidup.
Ia tidak memberi tahu kita
sudah sejauh apa perjalanan hidupnya.
Lalu saya teringat lagi pada kabar-kabar tadi.
Doktor.
Perusahaan.
Haji.
Anak menikah.
Jabatan.
Rumah.
Penghasilan.
Kita memang terbiasa memakai hal-hal semacam itu untuk membaca kehidupan seseorang.
“Sudah berhasil.”
“Sudah mapan.”
“Sudah sampai.”
Tetapi ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata para peneliti sendiri membedakan antara keberhasilan yang terlihat dan keberhasilan yang dirasakan.
Dalam literatur psikologi, ada yang disebut objective success dan subjective success.
Yang satu bisa dilihat melalui hal-hal seperti pendapatan atau kekayaan.
Yang lain lebih dekat dengan bagaimana seseorang menilai kehidupannya sendiri—termasuk kepuasan hidup dan pengalaman emosionalnya.
Dan keduanya tidak selalu berjalan bersama.
Jadi seseorang bisa saja benar-benar berhasil menurut ukuran tertentu,
tetapi belum tentu merasa demikian.
Begitu pula sebaliknya.
Barangkali karena itu, kalimat
“Dia sudah berhasil”
sebenarnya selalu membutuhkan satu pertanyaan kecil :
berhasil menurut ukuran siapa ?
Ada hal lain yang lebih menarik.
Kita tidak hanya melihat kehidupan orang lain.
Kita juga menggunakan kehidupan mereka untuk melihat diri sendiri.
Teman membeli rumah.
Teman lain menyelesaikan doktor.
Yang lain membawa anaknya menikah.
Ada yang usahanya berkembang.
Ada yang sedang jatuh.
Berita-berita seperti itu bisa saja hanya menjadi berita.
Tetapi bisa juga menjadi cermin.
Dalam psikologi, proses membandingkan diri dengan orang lain dikenal sebagai social comparison.
Dan ternyata proses itu tidak sesederhana nasihat :
“Jangan membandingkan diri dengan orang lain.”
Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara social comparison dan kondisi psikologis tertentu, tetapi pengaruhnya dipengaruhi oleh konteks, arah perbandingan, dan bagaimana seseorang memproses perbandingan tersebut.
Artinya, persoalannya mungkin bukan sekadar
membandingkan atau tidak membandingkan.
Tetapi:
apa yang sebenarnya sedang kita ukur ketika melihat kehidupan orang lain ?
Di sini saya menemukan istilah lain :
subjective social status.
Kedengarannya sederhana.
Tetapi ternyata posisi seseorang di masyarakat dan bagaimana ia merasakan posisi itu tidak selalu sama.
Pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan dapat memberikan gambaran tentang posisi sosial seseorang.
Tetapi ada juga pertanyaan yang jauh lebih personal :
“Menurut saya sendiri, saya berada di mana dibandingkan dengan orang-orang di sekitar saya ?”
Penelitian menunjukkan bahwa persepsi mengenai status sosial ini memang berkaitan dengan kondisi sosial-ekonomi yang objektif, tetapi bukan sekadar salinan dari angka-angka tersebut.
Maka dua orang yang dari luar terlihat hampir sama,
belum tentu merasakan kehidupannya dengan cara yang sama.
Dan dua orang yang dari luar terlihat sangat berbeda,
belum tentu jaraknya sebesar yang kita bayangkan.
Kemudian usia berjalan lagi.
Anak-anak mulai menikah.
Orang tua mulai menua.
Teman-teman mulai pensiun.
Sebagian mulai lebih sering berbicara tentang kesehatan.
Sebagian mulai kehilangan orang-orang yang dulu selalu ada.
Dan percakapan tentang masa depan perlahan berubah.
Di sini saya menemukan satu gagasan dari psikologi perkembangan yang juga menarik.
Socioemotional Selectivity Theory melihat bahwa yang berpengaruh bukan hanya umur seseorang, tetapi juga bagaimana seseorang memandang waktu yang masih tersedia di depannya.
Ketika masa depan terasa semakin terbatas, tujuan manusia dapat bergeser. Hubungan yang dekat, pengalaman yang bermakna, dan hal-hal yang memiliki nilai emosional dapat menjadi semakin penting.
Bukan berarti orang yang bertambah tua otomatis menjadi lebih bijaksana.
Bukan itu.
Hanya saja, cara seseorang memandang waktu dapat mengubah apa yang dianggap penting.
Dan ternyata,
waktu yang tersisa juga merupakan cara manusia melihat kehidupan.
Tetapi perjalanan seseorang tidak dibentuk oleh dirinya sendiri.
Ada keluarga.
Ada pendidikan.
Ada kondisi ekonomi.
Ada pekerjaan.
Ada kesehatan.
Ada kesempatan.
Ada tempat seseorang dilahirkan.
Ada orang-orang yang datang dalam hidupnya.
Ada juga kejadian-kejadian yang tidak pernah direncanakan.
Dalam life course research ada satu gagasan yang saya suka :
linked lives.
Kehidupan kita saling terhubung.
Seorang anak mengubah kehidupan orang tua.
Orang tua yang sakit mengubah kehidupan anak.
Pernikahan seorang anak mengubah peran orang tuanya.
Kematian seorang teman mengubah lingkaran orang-orang yang ditinggalkannya.
Satu kehidupan tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri.
Mungkin itu sebabnya ketika kita bertukar kabar tentang orang-orang yang kita kenal,
sebenarnya kita sedang melihat potongan-potongan dari banyak kehidupan yang saling bersinggungan.
Dan ada satu hal yang perlahan menjadi jelas.
Kita sering mengira bahwa kita sedang melihat kehidupan seseorang.
Padahal mungkin kita hanya melihat :
pekerjaannya,
rumahnya,
anaknya,
perusahaannya,
gelarnya,
perjalanannya,
masalah hukumnya,
atau kabar tentang kematiannya.
Kita melihat satu bagian.
Kemudian bagian itu kita gunakan untuk menjelaskan keseluruhannya.
Padahal belum tentu.
Seorang teman yang perusahaannya besar mungkin memang sedang berada pada fase keberhasilan.
Tetapi kita tidak tahu seluruh kehidupannya.
Teman yang sedang menghadapi masalah hukum mungkin memang sedang berada dalam persoalan besar.
Tetapi persoalan itu juga tidak otomatis menjadi keseluruhan hidupnya.
Orang yang tampak mapan mungkin sedang membawa sesuatu yang tidak terlihat.
Orang yang tampak tertinggal mungkin sedang menjalani sesuatu yang tidak kita ketahui.
Bukan berarti semua penilaian kita salah.
Hanya saja,
sering kali informasi yang kita punya memang terlalu sedikit untuk membuat kesimpulan sebesar itu.
Mungkin itu yang sebenarnya terjadi pada percakapan dua orang seusia.
Mereka hanya bertukar kabar.
Tetapi dari kabar-kabar kecil itu muncul pemandangan yang lebih besar.
Orang-orang yang sebaya tidak menjalani kehidupan yang sama.
Usia yang sama tidak berarti tahap kehidupan yang sama.
Keberhasilan yang terlihat tidak selalu sama dengan keberhasilan yang dirasakan.
Posisi yang tampak dari luar tidak selalu sama dengan posisi yang dirasakan dari dalam.
Dan kehidupan seseorang selalu berlangsung di tengah kehidupan orang-orang lain.
Semakin banyak serpihan yang dilihat,
semakin sulit mengatakan bahwa satu serpihan adalah keseluruhan.
Mungkin itu saja yang sebenarnya bisa kita katakan.
Karena pada akhirnya,
ketika kita melihat seseorang,
kita hampir selalu melihat sebagian.
Dan ketika kita melihat diri sendiri,
barangkali kita juga melakukan hal yang sama.
Kita memegang satu serpihan,
lalu mengira sudah melihat seluruh kehidupan.