Siduru…

Salah satu kegemaran saya memang blusukan.

Kalau ada waktu luang…
saya lebih senang masuk kampung.

Duduk di gardu.
Ngopi di warung kecil.

Kadang ikut ke sawah.
Kadang hanya duduk mendengarkan obrolan orang-orang selepas subuh.

Ada sesuatu yang membuat saya selalu ingin kembali.

Bukan karena kopinya lebih enak.
Bukan juga karena sampeunya lebih manis.

Tetapi…
kampung sering menghadiahkan pelajaran yang tidak saya temukan di tempat lain.

Dan anehnya…
pelajaran itu sering datang dari orang-orang yang bahkan tidak sadar sedang mengajari.

Pagi itu… saya kembali blusukan.
Seorang bapak yang baru selesai shalat subuh melambaikan tangan.

“Hayu… siduru heula.”
Saya mengangguk.

Terus terang…
waktu itu saya belum begitu akrab dengan istilah itu.

Kami masuk ke dapur.
Tungku kayu masih menyala.
Asap tipis naik perlahan.
Di atasnya air sedang mendidih.
Tak lama kemudian kopi hitam tersaji.
Sampeu rebus diletakkan di tengah.

Kami melingkar.
Hangat.
Bukan hanya karena apinya.
Obrolannya juga sederhana.

Tentang hujan yang belakangan jarang turun.
Tentang sawah.
Tentang cucu yang mulai masuk sekolah.

Sesekali diselingi tawa.
Sesekali saling menggoda.

Tidak ada yang sibuk memegang telepon.
Tidak ada yang tergesa-gesa melihat jam.

Saya hanya mendengarkan.
Sesekali ikut tertawa.

Ah…
kalau di kota…
barangkali ini disebut coffee morning.

Bedanya…
coffee morning yang sering saya temui biasanya dimulai dengan target.

Target penjualan.
Target proyek.
Evaluasi.
Cashflow.
KPI.


Saya tidak mengatakan itu salah.
Saya juga hidup di dunia itu.
Saya juga pernah memimpin rapat yang isinya angka semua.

Tetapi, pagi itu…
di depan tungku sederhana itu…
saya seperti menemukan rapat yang berbeda.

Tidak ada laporan.
Tidak ada presentasi.
Tidak ada grafik.

Namun tanpa sadar…
mereka sedang mengevaluasi hidup.

“Kamari mah kuring rada kasar ka budak.”
“Urang mah kudu leuwih sabar.”
“Ari hirup ulah loba ngahesekeun batur.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan biasa saja.
Tidak seperti sedang memberi ceramah.
Tidak pula sedang mengutip kitab.

Tetapi, saya terdiam.
Bukankah itu muhasabah ?
Bukankah itu juga bagian dari memperbaiki diri ?

Saya tiba-tiba merasa nakal kepada diri sendiri.
Sudah berapa banyak rapat yang saya ikuti…
tetapi tidak pernah membahas adab ?
Sudah berapa banyak target yang saya kejar…
tetapi lupa mengevaluasi amarah ?

Sudah berapa sering saya menghitung keuntungan…
tetapi lupa menghitung…
berapa hati yang saya kecewakan ?

KPI perusahaan…
barangkali saya hafal.
Tetapi KPI sebagai manusia…
entahlah.

Api di tungku mulai mengecil.
Kopi tinggal ampas.

Satu per satu mereka pamit.
Ada yang ke sawah.
Ada yang memberi makan ternak.
Ada yang pulang menemani cucunya.

Saya masih duduk.
Memandangi bara yang mulai redup.

Dalam perjalanan pulang saya tersenyum sendiri.
Barangkali itu sebabnya saya senang blusukan.

Karena di kampung-kampung seperti ini…
saya sering bertemu guru.
Mereka tidak pernah mengaku sedang mengajar.
Tidak pernah merasa lebih tahu.

Bahkan mungkin tidak pernah menyebut dirinya sedang berdakwah.

Tetapi hidup mereka…
diam-diam sedang mengajarkan sesuatu.

Kadang saya bergumam sendiri,
“Ini mah ajengan…”
Ajengan…
tanpa jubah.
Tanpa mikrofon.
Tanpa spanduk.
Tanpa panggung.

Lalu saya buru-buru mengoreksi diri.
Bukan berarti ajengan yang berjubah itu salah.

Bukan ke sana arahnya.
Banyak ajengan, ustaz, dan kiai yang berjubah adalah guru-guru yang saya hormati dan dari merekalah saya belajar agama.

Saya hanya sedang belajar…
bahwa Allah kadang menitipkan hikmah melalui orang-orang yang tidak pernah merasa sedang menjadi guru.

Mereka tidak banyak berbicara tentang hidup.
Mereka…
menjalani hidup.

Dan entah mengapa…
cara mereka menjalani hidup…
sering kali lebih lama tinggal di kepala saya…
daripada ceramah yang baru saja saya dengarkan.

↗ Bagikan Tulisan Ini