Tahun ini Saya Tidak Punya Target Besar

Menjelang tahun baru Islam kali ini, saya tidak punya target besar.

Tidak ada daftar 27 poin.
Tidak ada papan visi.
Tidak ada peta jalan lima tahun.
Tidak ada target menjadi miliarder sebelum subuh.

Usia mengajarkan satu hal yang cukup menyakitkan.
Sebagian target gagal bukan karena terlalu sulit.
Tapi karena saya yang membuatnya.

Dulu saya suka membuat rencana.
Sangat suka.
Awal tahun buku baru.
Agenda baru.
Target baru.
Semangat baru.
Orangnya?
Masih orang lama.

Saya pernah membuat target olahraga.
Berakhir dengan menonton video olahraga.

Pernah membuat target membaca kitab.
Berakhir membaca komentar.

Pernah membuat target mengurangi waktu bermain ponsel.
Lalu menghabiskan satu jam mencari aplikasi untuk mengurangi waktu bermain ponsel.

Manusia memang makhluk yang kreatif.
Terutama saat menghindari dirinya sendiri.
Karena itu menjelang tahun baru Islam kali ini saya agak curiga dengan diri sendiri.
Bukan curiga pada targetnya.
Curiga pada pembuat targetnya.

Sesaat lagi Muharram datang.
Tahun berganti.
Angka berubah.
Kalender bergerak.

Dan seperti biasa manusia mulai sibuk.
Ada yang membuat resolusi.
Ada yang membuat evaluasi.
Ada yang membuat status refleksi.
Ada yang membuat desain ucapan tahun baru yang lebih bagus daripada kehidupan yang sedang dijalaninya.

Maaf.
Yang terakhir agak personal.
Jangan merasa tersinggunglah.
Saya juga biasanya begitu.
Ini memang personal.

Beberapa waktu lalu saya membaca kembali sebagian nasihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuh al-Ghaib.
Saya tidak menemukan kalimat:
“Kembali. Lalu kembali lagi. Lalu kembali lagi.”

Tetapi entah kenapa itulah kesan yang tertinggal setelah membacanya.
Karena berulang kali beliau berbicara tentang perjuangan melawan nafsu.
Tentang tergelincir.
Tentang bangkit.
Lalu memperbaiki diri lagi.
Tentang kembali kepada Allah dalam berbagai keadaan.

Sejalan dengan ruh nasihat beliau, perjalanan kembali kepada Allah bukan pekerjaan yang selesai dalam satu malam.
Bukan juga proyek yang selesai dalam satu Muharram.
Kadang kita memperbaiki diri.
Lalu jatuh lagi.
Kadang memperbaiki niat.
Lalu niat itu bergeser lagi.
Kadang merasa sudah ikhlas.
Lalu kecewa ketika tidak dihargai.

Semakin dipikirkan, semakin saya merasa itu masuk akal.
Karena masalah terbesar saya beberapa tahun terakhir bukan selalu karena saya melakukan hal yang salah.
Kadang saya melakukan hal yang benar…
dengan alasan yang salah.

Membantu orang.
Supaya dianggap baik.

Bekerja keras.
Supaya dianggap berhasil.

Belajar.
Supaya dianggap pintar.

Dari luar terlihat sama.
Dari dalam ternyata berbeda.

Dan anehnya…
manusia cukup ahli menipu dirinya sendiri.

Saya pernah merasa sangat ikhlas.
Sampai suatu hari tidak dihargai.
Lalu marah.

Di situ saya sadar.
Mungkin saya tidak sedang ikhlas.
Mungkin saya sedang menyewakan kebaikan dengan kontrak yang tidak pernah ditandatangani siapa pun.

Saya pernah merasa sudah tawakal.
Sampai saldo rekening menipis.
Lalu panik.

Saya pernah merasa tidak terlalu peduli penilaian orang.
Sampai ada yang mengkritik.
Lalu kepikiran tiga hari.

Saya pernah merasa sudah cukup dewasa.
Lalu melihat teman lama unggah foto umrah.
Saya membuka aplikasi tabungan.
Saya pernah merasa dunia tidak penting.

Lalu unggahan saya hanya dapat tiga tanda suka.
Mendadak muncul kajian khusus tentang keikhlasan.
Ternyata perjalanan manusia tidak selalu maju lurus.
Kadang seperti anak kecil belajar naik sepeda.

Jatuh.
Bangun.
Jatuh lagi.
Bangun lagi.
Bedanya, usia bertambah.
Gaya jatuhnya tetap sama.

Mungkin itu sebabnya para guru tasawuf lebih sering berbicara tentang kembali.
Bukan tentang selesai.

Karena selama masih hidup, kita selalu punya kemungkinan melenceng.
Selalu punya kemungkinan lupa.

Selalu punya kemungkinan tersesat sebentar.

Dan kabar baiknya…
selalu punya kemungkinan untuk kembali.
Jadi tahun ini saya tidak punya target besar.

Tidak ingin menjadi versi terbaik diri sendiri.
Kalimat itu terlalu berat.
Versi yang sekarang saja kadang belum selesai saya urus.

Tahun ini saya hanya ingin satu hal.
Kalau salah, lebih cepat sadar.
Kalau melenceng, lebih cepat kembali.
Kalau niat mulai bergeser, lebih cepat memperbaiki.
Kalau ego mulai mengambil alih kemudi, lebih cepat menepikan kendaraan.

Sesederhana itu.
Karena setelah cukup lama hidup…
saya mulai curiga.
Barangkali kedewasaan bukan tentang tidak pernah salah.
Barangkali kedewasaan adalah tidak terlalu lama tinggal di kesalahan.

Dan mungkin…
itulah sebabnya tahun baru Islam terasa berbeda.
Ia tidak datang dengan konser.
Tidak datang dengan pesta semalam suntuk.
Tidak datang dengan terompet dan kembang api yang membuat anjing tetangga ikut stres.
Di banyak tempat justru ada pawai obor.
Ada pengajian.
Ada doa bersama.
Ada anak-anak berlarian membawa obor yang kadang lebih semangat daripada memahami apa yang sedang diperingati.

Tahun baru Islam datang lebih sunyi.
Lebih tenang.
Lebih seperti sebuah bisikan.
Tidak terlalu sibuk mengajak kita membuat target besar.
Tidak terlalu sibuk menjanjikan hidup baru.
Tidak terlalu sibuk menjual versi terbaik diri sendiri.
Ia lebih seperti seseorang yang duduk di samping kita.
Lalu berkata pelan:

”Kalau kemarin sempat menjauh…”
”Tidak apa-apa.”
”Pulang saja lagi.”

↗ Bagikan Tulisan Ini