Sebuah pagi.
Matahari mulai sedikit meninggi. Dari kolam di depan saung terdengar gemericik air, pelan sekali. Tidak ramai, tapi cukup untuk membuat pagi terasa hidup.
Dari arah tempat para santri, suara nadzoman Alfiyah terdengar bersahut-sahutan.
Saya suka suara itu.
Nga tau ya, mendengarnya membuat suasana menjadi teduh.
Di dekat saung, beberapa rak kitab berdiri. Ada yang tertata rapi, ada yang pintunya sedikit terbuka. Beberapa kitab tampak seperti baru saja selesai dipakai.
Saya duduk di saung yang biasa kami pakai berkumpul.
Khusyuk.
Khusyuk sekali.
Bukan sedang tafakur.
Sedang scroll HP.
Di depan saya sudah ada kopi. Masih panas. Saya sesekali menyeruput, lalu kembali melihat layar.
Begitulah kalau saya ke sini.
Kadang memang tidak ada agenda apa-apa. Duduk saja. Ngopi. Ngobrol kalau ada yang datang.
Saya memang cukup sering ke pesantren ini.
Pesantrennya sederhana. Bukan tempat yang dibangun untuk terlihat mewah. Tidak banyak yang dibuat berlebihan.
Justru itu yang saya suka.
Ada rasa tenang yang susah dijelaskan.
Tidak perlu banyak ornamen untuk membuat orang betah.
Cukup saung.
Kopi.
Suara santri.
Dan orang-orang yang datang dengan urusannya masing-masing.
Pagi itu, Sang Ajengan turun.
Beliau tidak menyangka saya sedang duduk di sana.
Begitu melihat saya, beliau menyapa seperti biasa. Bersahaja sekali.
Tidak ada jarak yang dibuat-buat.
Padahal kalau melihat siapa saja yang datang menghadap beliau, mungkin orang akan mengira saya sedang duduk bersama seseorang yang harus diperlakukan dengan sangat formal.
Beliau sendiri tidak begitu.
Dan para santri juga begitu.
Ustadz-ustadz yang mengajar di sana, kalau bertemu saya, sering berusaha mencium tangan.
Saya biasanya langsung menarik tangan.
Bukan karena tawadhu.
Saya sadar diri.
Saya bukan siapa-siapa.
Bukan orang yang lebih berilmu.
Bukan pula orang yang layak diperlakukan seperti itu.
Hanya saja…
saya memang lebih tua.
Bukan tua ilmu.
Tua umur.
Itu saja.
Kami kemudian duduk.
Kopi tetap di meja.
Obrolan mulai mengalir.
Sementara di luar, kehidupan pesantren berjalan seperti biasa.
Ada santri yang lewat. Ada yang membawa kitab. Ada yang buru-buru. Ada yang entah kenapa jalannya santai sekali.
Tidak lama kemudian mulai ada orang datang.
Satu.
Lalu yang lain.
Ada yang ingin didoakan.
Ada yang ingin meminta bimbingan.
Ada yang membawa pertanyaan.
Ada yang ingin meminta pendapat.
Ada juga yang datang hanya untuk bercerita.
Bahkan ada yang datang karena sedang terlilit hutang.
Yah…
semoga yang terakhir jangan lebih banyak daripada yang sebelumnya.
Saya menyeruput kopi lagi.
Beliau menerima mereka satu per satu.
Didengarkan.
Dido’akan.
Diberi arahan.
Tidak kelihatan seperti sedang memilih-milih siapa yang pantas didengar dan siapa yang tidak.
Orang datang membawa macam-macam isi kepala.
Beliau mendengarkan.
Kadang lama.
Kadang sebentar.
Setelah itu orang-orang pergi lagi.
Datang yang lain.
Begitu terus.
Saya sudah cukup sering melihat pemandangan seperti itu.
Dan mungkin karena sudah terbiasa, saya tidak terlalu memikirkannya.
Sampai suatu ketika, suasananya berubah.
Orang-orang sudah tidak ada.
Tinggal kami.
Entah bagaimana obrolan berpindah ke hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pesantren.
Tidak ada kitab.
Tidak ada pertanyaan agama.
Tidak ada orang yang sedang meminta nasihat.
Kami hanya ngobrol.
Lalu tertawa.
Kadang saya sendiri lupa, tadi datang ke sini untuk apa.
Kopi tinggal sedikit.
Dan di situ saya baru merasa bahwa suasananya memang berbeda.
Tidak ada yang sedang menghadap.
Tidak ada yang sedang meminta apa-apa.
Beliau tidak sedang menjadi tempat bertanya.
Saya juga tidak sedang menjadi orang yang datang mencari jawaban.
Hanya dua orang yang sedang duduk.
Ngobrol.
Bercanda.
Sesederhana itu.
Barangkali kalau orang lain melihatnya, tidak ada yang istimewa.
Tapi justru di suasana seperti itu, seseorang tidak harus terus-menerus menjadi seperti apa yang orang lain bayangkan.
Karena ketika orang datang menghadap seorang Ajengan, yang mereka lihat tentu Ajengannya.
Ilmunya.
Nasihatnya.
Do’anya.
Tempat mereka meminta arah.
Tempat mereka menitipkan keresahan.
Itu semua memang ada.
Tapi pagi itu, di saung kecil dengan kopi yang hampir habis, saya melihat sesuatu yang lain.
Bukan sesuatu yang besar.
Bukan pula sesuatu yang perlu dijelaskan.
Hanya percakapan biasa.
Tawa yang sesekali pecah.
Diam yang tidak canggung.
Dan seseorang yang untuk beberapa saat tidak perlu menjawab pertanyaan siapa pun.
Mungkin begitulah.
Kita sering datang kepada seseorang karena apa yang bisa ia berikan.
Kita mencari guru untuk ilmunya.
Mencari kyai untuk nasihatnya.
Mencari orang tua untuk perlindungannya.
Mencari teman untuk tempat bercerita.
Lalu tanpa sadar, kita melihat mereka hanya dari perannya.
Padahal…
ketika semua orang sudah pulang,
ketika tidak ada lagi yang bertanya,
ketika kitab ditutup,
ketika kopi tinggal setengah,
mereka tetap duduk di sana.
Sebagai dirinya sendiri.
Tidak selalu kuat.
Tidak selalu punya jawaban.
Tidak selalu ingin bicara tentang hal-hal besar.
Kadang mungkin hanya ingin ngobrol.
Kadang ingin tertawa.
Kadang hanya ingin ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Pagi semakin tinggi.
Suara Alfiyah masih terdengar dari kejauhan.
Air kolam masih mengalir.
Kopi saya sudah habis.
Dan saung itu…
tetap seperti biasa.
Hanya saja, pagi itu terasa sedikit berbeda.
Saya tidak tahu apakah beliau membutuhkan saya.
Saya juga tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang istimewa.
Kami hanya duduk.
Ngobrol.
Tertawa.
Dan mungkin…
memang ada saatnya seseorang tidak perlu datang membawa pertanyaan.
Tidak perlu membawa masalah.
Tidak perlu meminta apa-apa.
Cukup datang.
Duduk.
Menemani.
Karena bisa jadi,
orang yang selama ini dilihat banyak orang sebagai tempat bersandar…
sesekali juga hanya ingin tahu,
bahwa ketika ia berhenti sejenak,
masih ada seseorang
yang tetap mau duduk di sampingnya.